Frensia.id- Sugali, lagu karya Iwan Fals yang kisahkan banyak peristiwa. Selain penembakan misterius, juga tentang masyarakat kelas bawah di Indonesia.
Iwan Fals adalah sosok musisi yang masih konsisten menyuarakan kritik politik dan sisial melalui lagunya. Lagu-lagu ini mengandung pesan, tanggapan, dan pendapat mengenai situasi masyarakat, termasuk ketimpangan, diskriminasi, dan
Pada sebuah wawancara di program Kick Andy Metro TV, Iwan bahkan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada rezim yang baginya tak baik, orde baru. Rezim yang jahat tersebut, telah memberi banyak inspirasi untuk karya-karyanya (Noya, 2010).
Beberapa lagu yang terinspirasi oleh kondisi selama Orde Baru antara lain ‘Ambulan Zig Zag’, ‘Guru Oemar Bakri’, dan ‘Bento’.
Namun, beberapa lagu Iwan Fals, seperti ‘Robot Bernyawa’, ‘Mbak Tini’, dan ‘Demokrasi Nasi’. Semua itu, sempat dilarang beredar karena dianggap terlalu tajam dalam mengkritik pemerintah.
Lagu ini lain, yang cukup aneh adalah sugali. Selain dihubungkan persitiwa berdarah, lagu ini menunjukan diskriminasi yang mematikam kala itu.
Hal demikian ini sebagaimana diungkap dalam riset-reset yang disusun oleh Wahyudin, Nur Fajar Absor. Keduanya, berasal dari Universitas Indraprastha PGRI.
Hasil temuanya telah jadi jurnal. Pada tahun 2020 silam, terbit dalam Estoria.
Sedikitnya, ada beberapa hal yang berupaya digambarkan oleh Iwan Fals.
Tak Takut Penjara dan Senjata
Sugali diceritakab selalu melanggar hukun. Mulai dari judi, hingga datang ke lokalisasi.
Sebagai nama yang dianggap bagian dari kelas bawah, ia memiliki mental tanpa rasa takut. Hal ini terlihat dalam lirik berikut:
Dar…der…dor suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan
Punya ilmu kebal senapan
Semakin lupa daratan
Meresahkan Publik
Sugali sering kerja malam. Bukan hanya datang ke pelacuran. Namun, juga sering merampok.
Lihat Sugali menari
di lokasi WTS kelas teri
Asyik lembur sampai pagi
Usai garong hambur uang peduli setan
Karena perbuatannya, ia dibenci dan dianggap meresahkan. Tak heran, jika keluar masuk penjara.
Ditembak Petrus
Sugali adalah buronan polisi, karena dianggap meresahkan masyarakat. Ia diframing sampah dan penyakit sosial.
Akhirnya, ia diburu dan ditembak Petrus. Peristiwa ini ada dalam lirik,
Rasa was-was mata beringas
Menunggu datang peluru yang panas
di waktu hari yang naas
Sebenarnya, menurut Wahyudin dan Absor, nama ‘Sugali’ tampak terinpirasi dari istilah ‘gali’ yang populer pada tahun 1980-an. Artinya, pemuda yang nakal dan minta uang dengan paksa.
Pada tahun 1983-1985, memang ada informasi banyak pemuda yang “gali”. Karena meresahkan, akhirnya aparat turun tangan dan melakukan pembantaian besar-besaran.
Mereka yang membantai disebut Petrus. Awalnya tindakan mereka didukung masyarakat.
Namun pada akhirnya, ternyata yang dibunuh bukan hanya “gali”. Korbannya acak dan malah berubah sebagai perencanaan pembantaian kelas bawah.