FRENSIA.ID– Dunia kuliner malam di Kabupaten Jember memang tidak pernah tidur dan selalu menyimpan kejutan bagi para penikmatnya. Di antara hiruk-pikuk pedagang kaki lima yang menjamur, terdapat satu nama yang kini tengah menjadi primadona dan buah bibir di kalangan pecinta jajanan lokal.
Tahu Walik Gemoy namanya. Meskipun berlabel jajanan pinggir jalan, pesona lapak sederhana ini sama sekali tak bisa diremehkan, terbukti dari antrean pembeli yang seolah tak pernah putus memadati lokasi berjualannya setiap malam.
Bagi warga Jember yang penasaran atau ingin berburu takjil malam yang gurih, lokasinya cukup mudah ditemukan namun strategis. Lapak ini mangkal di Jl. Ikan Bandeng, tepatnya jika anda melaju dari arah perempatan lampu merah Mangli ke utara. Posisinya berada tepat sebelum gerbang masuk Perumahan Bumi Mangli.
Di sanalah aroma gorengan yang menggugah selera menyapa siapa saja yang melintas. Sosok di balik kesuksesan kuliner ini adalah Mas Arkan, seorang pemuda ulet asli Kedungpring, Jember, yang telah merintis usahanya di tempat tersebut sejak dua tahun yang lalu.
Kisah sukses Tahu Walik Gemoy tidak terjadi dalam semalam. Mas Arkan memulai perjalanannya dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan. Pada awal mula menjual tahu walik, ia hanya bermodalkan alat seadanya, layaknya pedagang cilok keliling yang kerap kita temui.
Saat itu, ia hanya mengandalkan sepeda motor dengan kotak barang di bagian belakang yang disulap menjadi dapur berjalan, lengkap dengan kompor dan peralatan penggorengan sederhana. Penghasilannya pun saat itu masih jauh dari kata melimpah, hanya cukup untuk memutar modal kembali.
Mengenang masa-masa perintisan tersebut, Arkan menceritakan betapa fluktuatifnya pendapatan pedagang kecil. “Paling ya tiga ratus ribu semalem dulu mas,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pembeli,29/11.
Namun, berkat ketekunan dan keyakinan pada produknya, roda nasib mulai berputar. Karena rasanya yang unik, gurih, dan sangat cocok di lidah masyarakat Jember, lambat laun penjualannya merangkak naik. Arkan mengakui bahwa bisnis kuliner memang memiliki dinamikanya sendiri.
“Naik turun, tapi dari berjalannya waktu semakin banyak,” katanya menambahkan.
Fenomena “mulut ke mulut” bekerja sangat efektif bagi usaha Arkan. Setelah banyak orang mengetahui kualitas dan kenikmatan produk jajanannya, jumlah pembeli meningkat drastis. Seringkali, banyak calon pembeli harus menelan kekecewaan karena tidak kebagian stok yang ludes terjual lebih awal.
Menyadari tingginya permintaan pasar tersebut, Arkan akhirnya mengambil langkah berani dengan meningkatkan ketersediaan barang dagangannya. Bahkan, usaha yang dulunya dikerjakan seorang diri di atas motor, kini telah berkembang hingga ia mampu merekrut karyawan untuk membantunya melayani serbuan pelanggan.
Dampak dari kerja keras ini terlihat nyata pada omzet yang diraihnya. Penghasilannya kini semakin meningkat tajam, bahkan bisa menembus angka jutaan rupiah setiap malamnya, sebuah angka yang fantastis untuk ukuran jajanan kaki lima.
“Paling kurang lebih rata-ratanya kurang lebih ya satu juta setengah,” tandasnya dengan nada syukur.
Peningkatan drastis tersebut diakuinya bukan semata-mata karena keberuntungan, melainkan karena konsistensi rasa jajanannya yang tidak pernah berubah. Bagi Arkan, soal rasa adalah harga mati yang harus dijaga betul agar pelanggan tidak lari.
“Alhamdulillah, semoga kami terus sanggup menjaga konsistensi rasanya,” ungkapnya penuh harap.
Kualitas rasa ini diamini oleh para pelanggan setianya. Salah satunya adalah Rizatul Umami, warga perumahan Dharma Alam Kaliwates Jember. Ia mengaku sangat menyukai jajanan ini dan rela datang untuk menikmati berbagai varian menu yang ditawarkan, mulai dari tahu walik yang renyah, pentol daging goreng, hingga sambal spicy yang menjadi ciri khasnya.
Menurut Riza, ada keistimewaan tersendiri yang membedakan lapak ini dengan yang lain.
“Pentol gorengnya enak, terasa dagingnya. Sambelnya juga khas dan enak juga,” katanya memberikan testimoni.
Kehadiran Tahu Walik Gemoy ini menjadi bukti bahwa dengan kualitas rasa yang terjaga, jajanan pinggir jalan pun mampu bersaing dan mendulang kesuksesan besar.







