Frensia.id – Memilih bekerja ke dunia bisnis tentu tidaklah mudah. Para pebisnis akan dihadapkan dengan ketidakpastian konsumen dan jumlah laba yang diterima.
Apalagi saat masih merintis bisnis, mereka harus banyak usaha, agar barang dagangannya bisa laris manis dan dikenal banyak orang, bahkan terjual hingga mancanegara.
Perjalanan dan pengalaman itu kini telah tuntas dilewati oleh Achmad Hasan Basri, Owner (Pemilik) usaha ‘Tape Mayangsari’ asal Dusun Sumber Pinang, Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Tekad kuat menekuni dunia bisnis, tape yang diproduksinya kini sukses membawa nama ‘Mayang’ ke Pasar Global.
Dalam berbisnis tidak ada yang instan. Namun, terdapat proses panjang yang harus dijalani sebelum memulai merintis.
Hasan mengawali terjun bekerja ke usaha tape sejak tahun 2010 di Toko Sumber Madu Oleh-oleh Khas Jember.
“Saya diajak marketing mulai di Lumajang, Solo, Jogja. Dulu dipindah-pindah saya. Diproduksi, jaga toko, marketing. Semua saya kerjakan di Toko. Namanya ikut orang kan, ya kita nurut saja,” ungkap Hasan, saat ditemui pada Jum’at (9/10/2026).
Semangat Hasan dalam usaha tape berlanjut di tahun 2018. Dia sempat kerja sama dengan saudaranya memproduksi tape di Jember.
Namun, kemudian Hasan harus memutus hubungan kerja sama tersebut. Lalu merintis usaha tape sendiri di rumahnya, pada bulan November tahun 2021.
Untuk lebih mudah menjangkau konsumen, Hasan sedari awal sudah memasarkan tapenya secara digital.
“Makanya untuk respon para reseller dan customer, terutama reseller-reseller yang dalam kota maupun luar kota. Itu kita bisa cepat rekrut untuk masuk ke manajemennya kita. Ya dari sosmed juga itu, kayak di IG (Instagram, FB (Facebook),” jelasnya.
Asal Mula Label ‘Mayangsari’
Di balik viralnya nama ‘Mayangsari’ di telinga konsumen, ada keinginan kuat dari Hasan agar daerah kelahirannya dikenal masyarakat.
Pasalnya, selama ini makanan Tape di daerah Tapal Kuda, identik berasal dari Kabupaten Bondowoso dengan labelnya ditandai nominal angka, seperti Tape 31, 32.
Sedangkan untuk Kabupaten Jember, sudah banyak makanan Tape, yang labelnya identik dengan nama Madu, seperti Sumber Madu, Sari Madu.
“Saya kan asli kelahiran Mayang. Saya juga ingin mengangkat nama sini (Mayang) juga gitu. Nama dari tempat saya dilahirkan,” ucapnya.
Walaupun di Kabupaten Jember sudah ada label ‘Mayang Madu’, namun Hasan juga ingin mengangkat nama ‘Mayang’ sebagai pembeda dari label lain.
“Saya ingin mengangkat nama Mayang juga. Makanya saya buat namanya itu Mayangsari. Biar enggak ada madunya belakangnya. Karena yang lainnya sudah madu-madu semua. Biar cepat dikenal sama orang,” ungkapnya.
Tape tanpa Serat
Tak hanya nama label, Hasan juga memiliki standar sendiri saat memproduksi Tape Mayangsari.
Proses tersebut, yang membuat ‘Tape Mayangsari’ berbeda dengan Tape Bondowoso.
“Mulai dari pengupasan, terus masak, pengolahan kayak peragian dan pembersihan seratnya itu kan beda. Makanya kita bilang tapenya sudah premium, beda dengan Bondowoso. Kita sudah tanpa tulang (serat tape),” tuturnya.
Selain itu, untuk ukuran Tape Mayangsari sudah dipotong pendek-pendek dalam kemasannya. Tujuan dipotong pendek itu, agar mempermudah konsumen saat mengkonsumsi.
“Kalau Bondowoso kebanyakan kan panjang-panjang. cuma sekarang sudah mengikuti Jember,” ucapnya.
Sebagai UMKM binaan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Jember, Hasan mampu memproduksi 3 ton lebih Tape Mayangsari dan mengirim di atas 2000 pack per harinya.
Berdirinya usaha Tape Mayangsari ini telah mempekerjakan sebanyak 31 orang, dengan 80 persen merupakan warga lokal.
Inovasi Marketing dan Menembus Pasar Global
Dengan latar belakang seorang mantan marketing, Hasan memanfaatkan pengalaman tersebut untuk menjual produk tapenya hingga ke Pasar Global.
“Saya terinspirasi dulu itu waktu saya ikut orang marketing. Kita berangkat bawa tape, pulang bawa tape. Kan sistemnya titip-jual, barang yang enggak laku kan kembali ke kita,” ungkapnya.
Saat itu, ketika di akhir masa Pandemi Covid-19, dia beranggapan kalau masyarakat yang keluar rumah masih terbatas.
Kesempatan itu, kemudian dia manfaatkan untuk memasarkan produknya, namun dengan sistem Pre-Order (PO).
“Nah, saya enggak begitu. Gimana caranya barang saya ini penjualannya tidak kembali. Tembus ke luar kota, tapi sayanya di sini. Jadi barang yang dikirim ke reseller kan sudah ada yang punya. Kita sebagai produsennya enggak retur, yang jual juga enggak retur,” jelasnya.
Hasan memang tidak berniat untuk membuka toko di platform e-commerce, seperti Shopee dan Tiktok Shop.
Karena apabila membuka toko, nantinya akan menghilangkan reseller Tape Mayangsari.
“Kita tidak melayani langsung penjualan kayak di aplikasi. Ya kasihan resellernya. Nanti yang beli tidak beli ke resellernya langsung, beli ke sini (produsen). Kita bagi-bagi rezeki kan gitu. Anggaplah reseller itu toko onlinenya saya,” ungkapnya.
Berkat perantara reseller, Tape Mayangsari bisa terjual hingga ke luar negeri, seperti Jepang, Hongkong dan Mekkah.
“Resellernya ngirim ke Hongkong. Itu ada 2 orang. Ambulu sama Balung. Kadang yang Balung itu kita tunggu di halte depan Polsek Mayang. Nanti diarahkan ikut kontainer,” ucapnya.
Sementara untuk pengiriman ke Mekkah, Hasan telah bekerja sama dengan pihak travel umrah seperti PT An Namiroh Travelindo, PT. Shahibuna Sabila Salam (As Salam Travel).
Sehingga ketika ada jemaah yang berangkat umrah, Tape Mayangsari akan otomatis ikut terbawa dalam perjalanan ke Mekkah.
Ada 2 macam harga Tape Mayangsari yang dijual pada reseller. Untuk tape dengan berat 700 gram berharga Rp 17.000;, sedangkan untuk 1000 gram berharga Rp 22.000;.
Dari kisah Hasan, kini membuktikan bahwa dari sosok pemuda desa, dapat membawa produk lokal Jember mendunia dan bersaing di pasar global.***






