Frensia.id- Terjemahan Pinokio dengan bahasa Inggris tampak tetap tidak berkembang. Ceritanya tetap dianggap mengandung Bias Gender. Seluruh penggalan kisah fiksinya memainkan sosok lelaki sebagai aktor sosial.
Kemarin sempat ramai kisah fiksi dalam sebuah artikel majalah Tempo. Artikel yang berjudul “Pinokio Jawa” dikembangkan sebagai sebuah perspektif untuk memahami otoritarianisme politik di Indonesia saat ini.
Ternyata jauh sebelum artikel itu ditulis telah banyak karya yang mengkaji kisah Carlo Collodi. Salah satunya adalah Rebecca Williams. Ia fokus mengkaji hasil terjemah ulang Le Avventure di Pinocchio dalam sudut pandang anthropomorfisme representation of gender.
Temuan sebenarnya telah banyak dikenal luas dalam kalangan akademisi. Hasil kajiannya telah disusun dalam bentuk jurnal dan diterbitkan dalam Taylor & Francis tahun 2022 lalu.
Ia membandingkan novel Le Avventure di Pinocchio yang terbit pada tahun 1883 dengan bahasa originalnya dengan terjemahan bahasa Inggris pertamanya pada tahun 1892 serta penyuntingannya pada 1911-2011. Fokus yang dikaji adalah dua karakter antropomorfik, yaitu il Gatto (Kucing) dan la Volpe (Rubah).
Willams berupaya mengurai bias gender yang dikonstruksi dalam teks asli, terjemahan pertama, serta berbagai penyuntingan ulangnya. Melalui analisis komparatif, Ia berupaya menemukan representasi konstruksi sosial gender yang disampaikan kepada pembaca, yang mayoritas adalah anak-anak.
Secara garis besar, ia mengungkap bahwa terjemahan bahasa Inggris pertama dari Le Avventure di Pinocchio di 1892, ternyata memiliki kecenderungan untuk kembali ke ideologi gender yang lebih konvensional. Tetap memperkuat model masyarakat androsentris.
Hal ini terlihat jelas melalui representasi karakter antropomorfik, il Gatto (Kucing) dan la Volpe (Rubah), yang dalam terjemahan tersebut mengalami perubahan dalam penggambaran gender mereka. Model masyarakat androsentris ini menonjolkan dominasi laki-laki dan peran subordinat perempuan, suatu aspek yang tidak begitu kentara dalam teks asli karya Carlo Collodi yang diterbitkan di Italia pada tahun 1883.
Dalam versi aslinya, Collodi tidak secara eksplisit mendasarkan karakter-karakternya pada norma-norma gender yang kaku, sehingga membuka ruang interpretasi yang lebih fleksibel bagi pembaca. Namun, terjemahan bahasa Inggris pertama tersebut mengadopsi ideologi gender yang lebih tradisional, yang merefleksikan nilai-nilai masyarakat Inggris pada masa itu.
Terjemahan ini tidak hanya sekadar memindahkan bahasa, tetapi juga membawa serta pemahaman sosial dan budaya yang berbeda. Akibatnya, dapat memengaruhi anak-anak yang membaca versi Inggris ini, dalam memahami konsep gender.
Yang menarik, meskipun masyarakat mengalami perkembangan dalam pemahaman tentang konstruksi sosial gender, terutama pada abad ke-21, gagasan androsentris ini terus diulang dalam berbagai penyuntingan ulang dan cetakan terpilih dari terjemahan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan dalam pandangan terhadap gender di masyarakat, karya sastra anak klasik seperti Pinokio tetap dapat mempertahankan representasi gender yang lebih konservatif. Khususnya, melalui proses penerjemahan dan penyuntingan ulang.
Padahal, pada abad ke-21, pemahaman tentang gender telah jauh berkembang. Pandangan mengenai peran gender dalam masyarakat sudah mengalami pergeseran signifikan dibandingkan abad ke-19 dan ke-20.
Meskipun berbagai wacana baru tentang gender telah diperkenalkan, edisi-edisi baru dari terjemahan ini masih mempertahankan elemen gender tradisional. Hal demikian menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana literatur klasik anak-anak mencerminkan perubahan sosial yang sebenarnya. (*)