Tiga Tingkatan Puasa: Syariat, Thoriqoh, Hakikat

Tuesday, 11 March 2025 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id –Memasuki hari ke-11 Ramadan, ritme puasa mulai stabil. Rasa lapar sudah bisa dinegosiasikan, bahkan sebagian orang, saking terbiasanya, kadang lupa sudah berapa hari berpuasa. Jam tidur pun mulai menyesuaikan, sementara warung-warung sudah hafal pelanggan setia yang hanya membeli untuk “dibawa pulang.”

Di tengah ritme puasa yang mulai stabil, grup WhatsApp tetap riuh dengan tausiyah—ada yang menggugah hati, ada pula yang sekadar copy-paste tanpa direnungkan. Di antara banyaknya nasihat yang berseliweran, salah satu kutipan ulama yang menarik perhatian berbunyi:

قَالَ بَعْضُهُمْ عَنِ الشَّرِيعَةِ وَالطَّرِيقَةِ وَالْحَقِيقَةِ: إِذَا أَكَلَ الصَّائِمُ عَمْدًا بَطَلَ صَوْمُهُ فِي الشَّرِيعَةِ، وَإِذَا اغْتَابَ أَفْطَرَ صَوْمُهُ فِي الطَّرِيقَةِ، وَإِذَا خَطَرَ بِبَالِهِ مَا سِوَى اللَّهِ أَبْطَلَ صَوْمَهُ فِي الْحَقِيقَةِ

“Sebagian ulama berkata tentang Syariat, Thoriqoh, dan Hakikat: Jika seorang yang berpuasa makan secara sengaja, maka puasanya batal secara syariat. Jika dia melakukan ghibah, maka puasanya batal secara thoriqoh. Dan jika dalam benaknya terlintas selain Allah SWT, maka puasanya batal secara hakikat.”

Tiga tingkatan puasa, tiga level kesulitan.Yang pertama, syariat. Ini level dasar. Jelas aturannya: makan siang di depan umum? Batal. Minum es kelapa muda sebelum adzan? Batal. Syariat adalah batas konkret. Kalau melanggar, ya batal. Sesimpel itu.

Baca Juga :  Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir

Tingkatan kedua mulai rumit: thoriqoh. Ini soal menjaga lisan. Kata ulama, ghibah lebih menggoda dari gorengan tahu isi yang masih hangat. Secara fisik, kita bisa menahan lapar. Tapi kalau sudah mendengar kabar seru tentang tetangga atau artis yang tersandung kasus, lidah mendadak gatal. “Aku nggak gibah, cuma cerita fakta aja,” dalihnya. Padahal, kalau lebih semangat mengomentari hidup orang lain daripada memperbaiki diri sendiri, puasanya batal di level ini.

Nah, tingkatan ketiga ini bikin kita sadar betapa jauhnya perjalanan: hakikat. Jangan sampai dalam pikiran terlintas selain Allah. Tapi gimana caranya? Baru setengah hari puasa, kepala sudah penuh dengan daftar menu berbuka. Atau tiba-tiba kepikiran diskon baju lebaran. Atau mulai menghitung gaji yang tersisa buat bayar cicilan. Kalau puasanya harus setinggi ini, mungkin kita sudah batal sejak sahur!

Tapi memang begitulah manusia. Ada yang puasanya sekadar menahan lapar, ada yang sudah bisa menahan lisan, dan ada yang pikirannya benar-benar hanya tertuju kepada-Nya. Orang-orang di level hakikat ini mungkin tidak banyak bicara, tapi hidupnya tenang. Tidak tergoda debat puasa pakai rukyat atau hisab. Tidak ikut ribut soal dalil sahur terakhir. Bagi mereka, puasa bukan sekadar soal tidak makan, tapi juga tidak terganggu dengan urusan dunia.

Baca Juga :  Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib

Sementara kita? Masih sibuk memastikan menu berbuka. Masih ribut di media sosial soal siapa yang paling benar. Masih tergoda nyindir teman yang pamer ibadah di Instagram. Puasa kita mungkin baru sampai level pertama, masih belajar menahan lapar dan dahaga. Itu pun kadang masih tergoda beli es cendol padahal di kulkas sudah ada.

Mungkin Ramadan ini kita bisa naik kelas, setidaknya ke level dua. Kalau belum bisa menjaga hati, minimal jaga jari. Kalau belum bisa menahan pikiran dari dunia, setidaknya tahan komentar pedas di media sosial. Ramadan masih panjang. Jangan-jangan, kalau kita belajar sedikit lebih sabar, sedikit lebih tahan, nanti baru sadar: puasa yang paling berat bukan soal menahan lapar, tapi menahan diri.

Dan kalau belum bisa juga? Ya sudah. Minimal jangan batal sebelum adzan magrib.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib
Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal
Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir
Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat
Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan
Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir
Resepsi 100 Tahun NU, Ketua LDNU PBNU Paparkan Tiga Kerangka Khidmat

Baca Lainnya

Saturday, 21 March 2026 - 14:54 WIB

Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib

Thursday, 19 March 2026 - 07:58 WIB

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Sunday, 8 March 2026 - 14:28 WIB

Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir

Thursday, 26 February 2026 - 23:19 WIB

Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat

Saturday, 21 February 2026 - 17:00 WIB

Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan

TERBARU

Bambang Soesatyo Sumber: Instagram

Educatia

5 Jurus Disegani Menurut Politikus Golkar, Bambang Soesatyo

Tuesday, 31 Mar 2026 - 13:43 WIB

Salah satu petani di Kecamatan Jenggawah, yang sedang menjemur padinya. (Foto: Fadli/Frensia).

Economia

Memasuki Musim Panen, Harga Gabah di Jember Stabil

Monday, 30 Mar 2026 - 21:02 WIB