Frensia.id- Umumnya lebaran dalam budaya masyarakat di Indonesia tak bisa lepas dari tradisi silaturahmi. Namun, ternyata pernah ada kisah tragedi berdarah yang terjadi di momentum hari raya Idul Fitrih. Banyak orang menyebutnya sebagai tragedi ketupat berdarah.
Kejadian itu disebut juga sebagai tragedi Sambas. Disebut demikiaan karena di wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terjadi gelombang tak terduga.
Kerusuhan menggema sepanjang tahun-tahun berjalan. Konflik ini telah terjadi sekitar tujuh kali sejak tahun 1970, dan pada akerusuhan tahun 1999 menjadi yang paling dahsyat.
Ketegangan etnis merebak, antara Melayu dan Dayak. Mereka kesal terhadap para pendatang dari Madura. Ratusan nyawa melayang, ribuan rumah terbakar. Sebuah pemandangan pilu, yang tak terlupakan.
Lebih dari 1.188 orang tewas dalam kerusuhan ini. 168 orang mengalami luka parah dan 34 luka ringan.
Bukan hanya itu, mobil-mobil hancur, masjid terpanggang. Sekitar 3.833 rumah dijarah dan dibakar, 12 mobil dan 9 motor dirusak, 8 masjid/madrasah dirusak/dibakar, 2 sekolah rusak, dan 1 gudang tampak hancur porak-poranda.
Setiap kelompok suku memanas dan beringas. Daya dan melayu mengamuk. Akibatnya, sekitar 29.823 warga keturunan Madura mengungsi dari Sambas.
Kisah pilu “Ketupat Berdarah” dimulai dari pencurian sepetak ayam. Kasus ini memicu dendam dan amarah berkobar.
Sang pemiliki ayam yang berasal dari suku melayu meradang dan Warga Madura terkapar di tangan mereka. Bias dari kasus ini berkobarlah perang di bumi Parit Setia Jawai. Padahal kala itu, masyarakat sedang merayakan lebaran hari raya Idul Fitri.
Namun bukan hanya itu, terjadi kasus lain, di sebuah angkot kecil, nenek Melayu dan penumpang Madura bertikai. Ongkos yang tidak dibayar oleh orang dari madura melahirkan dendam dan amarah yang tak terkira.
Lalu perlahan, gelombang amarah tak terbendung, bertumbuh menjadi badai.
Suku Melayu dan Dayak bersatu dalam derita, mereka menentang warga Madura dalam caci dan cela.
Kerusuhan merajalela, amarah tak terkendali. Rumah terbakar. Hingga nyawa melayang. Banyak warga Madura terpaksa meninggalkan tanahnya.
Demikianlah, catatan kelam kejadian kesepuluh, yang sebenarnya telah terjadi sejak tahun 1970.
Dalam kejadian tersebut, pihak berwenang berhasil menangkap sebanyak 208 orang yang terlibat dalam kegiatan kriminal. Dari jumlah tersebut, 59 orang telah masuk ke dalam proses peradilan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, dengan 13 orang berasal dari suku Madura, 42 orang berasal dari suku Melayu, dan 4 orang berasal dari suku Dayak.
Selain itu, selama operasi tersebut, berbagai barang bukti yang signifikan berhasil disita. Totalnya termasuk 607 pucuk senjata api rakitan, 2.336 senjata tajam, 76 bom molotov, 86 katapel, 969 anak panah, serta 8 botol dan 8 toples obat mesiu. Selain itu, juga disita 443 butir peluru timah, 79 peluru pipa besi, 349 butir peluru standar ABRI, dan 441 butir peluru gotri.
Hari ini tragedi itu telah menjadi kenangan yang memilukan. Masyarakat setempat mengenangnya dengan sebuah tuguh bernama “Ketupat Berdarah”. Semoga tidak terulang lagi. (.)