Frensia.id- Wisata Situbondo dianggap peneliti telah halal sebelum dibranding. Artinya, sebagai kota santri, wisata halal telah kuat terselenggara di kabupaten Situbondo.
Hal demikian ini sebagaimana dinyatakan oleh Faizul Abrori dan Mustaqim Makki. Keduanya adalah STAI Nurul Huda Kapongan Situbondo. Kedua berupaya mengungkap dinamika wisata halal di Situbondo.
Bagi keduanya, Situbondo dikenal sebagai Kota Santri dengan tiga tipe utama pariwisata, yaitu wisata alam, budaya, religi, dan olahraga. Meski memiliki 83 destinasi wisata, hingga saat ini belum ada satupun destinasi yang secara resmi berlabel wisata halal.
Meskipun belum memiliki branding sebagai wisata halal, pengelolaan destinasi di Situbondo, menurut kedua pakar ini, sudah mencerminkan karakteristik syariah. Beberapa buktinya, ia ungkap dalam riset yang diterbitkan Tasharruf: Journal Economics and Bussiness of Islam pada tahun 2021 silam.
Pertama, mereka menemukan ada prinsip uluhiyyah dalam pengelolaan wisata Situbondo. Artinya, pelaku usaha pariwisata lebih mengutamakan tanggung jawab kepada Tuhan dibandingkan kepada manusia atau pemerintah. Mereka memahami bahwa pertanggungjawaban utama mereka adalah di akhirat, sehingga sikap ini mendorong mereka untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan usaha.
Kedua, ada prinsip insaniyyah yang menunjukkan bahwa pariwisata di Situbondo menjadi sarana silaturahmi dan interaksi antar manusia tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras, atau golongan. Pariwisata ini mengedepankan inklusivitas yang sejalan dengan ajaran Islam.
Ketiga, juga adas prinsip akhlaqiyyah tercermin dari sikap pelaku atau pengelola wisata yang memberikan pelayanan dengan ramah, sopan, dan sesuai dengan norma etika Islam. Pelayanan yang baik menjadi salah satu ciri penting dari pariwisata syariah.
Keempat, ternyata juga ada prinsip washatiyyah. Prinsip ini fokus pada keseimbangan antara kepuasan lahiriah dan rohani. Pariwisata di Situbondo tidak hanya menawarkan kesenangan fisik semata, tetapi juga menyediakan fasilitas spiritual, seperti tempat ibadah yang layak, yang mendukung kebutuhan rohani pengunjung.
Bahkan selain karakteristik syariah di atas, yang sudah tercermin dalam pengelolaan, Situbondo juga memiliki potensi besar untuk mengembangkan branding wisata halal.
Terdapat tiga potensi utama yang mendukung hal ini, yakni secara geografis, budaya, dan banyak pondok pesantren.
Secara geografis, Situbondo berada di jalur pantai utara Jawa yang strategis. Sehingga memudahkan akses wisatawan.
Dalam hal budaya, banyak tradisi unik di Situbondo. Beberapa di antaranya, Ancak Agung dan perayaan tahun baru Islam yang spektakuler menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan religi.
Terakhir, Di Situbondo banyak pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama. Banyak yang berkualitas. Hal ini akan menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin belajar dan memahami lebih dalam tentang Islam. (*)