3 Catatan Kritis Pengajar Filsafat Lingkungan Universitas Indonesia, Terkait Relasi Manusia dan Alam

Tuesday, 30 April 2024 - 03:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, 3 Catatan Kritis Pengajar Universitas Indonesia (Sumber: Pixabay)

Ilustrasi, 3 Catatan Kritis Pengajar Universitas Indonesia (Sumber: Pixabay)

Frensia.id-  Setiap tanggal 22 April diperingati hari bumi sedunia. Pada tahun ini, sebagaimana dilansir dari detik.com, tema yang menjadi perbincangan relasi antara manusia dan bumi adalah berkaitan dengan penggunaan plastik.

Earth Day 2024 mengusung tema planet vs plastik. Sebagai upaya kampanye untuk mengakhiri penggunaan plastik.

Plastik dalam konteks ini, menjadi ancaman bagi keberlangsungan keseimbangan ekosistem dan mempunyai dampak yang cukup signifikan tidak hanya bagi bumi tetapi juga bagi penggunanya, yaitu manusia.

Ditinjau dari satu perspektif, tidak bisa dipungkiri sesuai kebutuhan hari ini plastik menjadi alat yang cukup efisien , semisal sebagai wadah atau kantong. Akan tetapi bekas penggunaannya juga berdampak sebagai polusi yang memberi ancaman kepada bumi.

Oleh karena itu, perlu adanya pertimbangan dalam dimensi berpikir dan bersikap yang seimbang, sehingga relasi antara manusia dan bumi terjalin harmonis.

Salah seorang pengajar filsafat lingkungan Universitas Indonesia, Saras Dewi dalam disertasinya yang kemudian dicetak menjadi buku.  Judulnya, Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dan Alam.

Ia mengurai bagaimana relasi antara manusia dengan alam secara proposional, satu sisi tidak cenderung memusatkan pada kepentingan manusia, di sisi lain mengatur kepentingan manusia di dalam kerangka relasi dengan alam.

Baca Juga :  Masuk Bursa Kuat Calon Rektor: Prof Chotib Angkat Tagline “UIN KHAS PASTI”

Dosen Universitas Indonesia kelahiran Denpasar-Bali ini, dalam penutup bukunya memberikan tiga catatan kritis yang memberikan nilai cukup signifikan untuk mengubah pola pikir.  Besar kemungkinan nantinya mempunyai dampak etis pada relasi kehidupan antara manusia dan lingkungan.

Pertama, manusia mesti menyadari keistimewaan bumi dan betapa bernilainya untuk dapat menjalani kehidupan di bumi. Hal demikian dapat dimulai dengan merekonstruksi cara berpikir bahwa segala kehidupan yang ada di bumi bukan hak tunggal milik manusia.

Atas dasar itu, perubahan etis dapat terjadi apabila didukung dengan adanya tindakan etis yang berasal dari perenungan ontologis, tidak sekedar karena norma dan kebijakan negara.

Kedua, untuk mengatasi eksploitasi alam tidak harus memberlakukan prinsip etika lingkungan secara radikal, yaitu memisahkan manusia dengan alam. Relasi antara manusia dan alam agar bisa berjalan secara harmonis tidak lantas mengeliminir kepentingan manusia kemudian alam dijadikan sebagai pusat.

Baca Juga :  Respons Ketua IKA UIN KHAS soal Penjaringan Bakal Calon Rektor

Hal ini dinilai tidak masuk akal, tetapi yang perlu diperhatikan adalah pembedaan antara kepentingan dan kebutuhan manusia yang bersinggungan dengan alam. Dimulai denga upaya merekognisi objek sebagai upaya keberpihakan terhadap alam. Mengakui relasi ontologis serta merta mengatakan ada ekuilibrium yang harus dirawat.

Ketiga, industrialisasi menyebabkan perubahan terhadap alam, suasana ini mengakibatkan terusiknya ketentraman dan gangguan psikologis serius bagi manusia.

Dalam penelitiannya, Saras Dewi memberikan saran untuk melakukan rekonstruksi budaya, dimulai dengan melakukan revitalisasi pengertian kebudayaan yang memposisikan alam tidak sekedar sebagai latar belakang. Akan tetapi, tujuan dan inti kehidupan manusia.

Kebudayaan baru mesti dibangun, melalui reformasi ekologi menuju gagasan utama, yakni kecintaan terhadap kehidupan.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Pemotor Tewas Usai Tabrakan dengan Dump Truk di Tegalsari Banyuwangi
Pada Savic Ali, Ketua PC Fatayat NU Jember Nyatakan Siap Turun Jalan
Selenggarakan Taswirul Afkar! Ketua Ansor Jember Dorong Pemuda NU Berpihak Pada Sipil
Semangati Aktivis PMII UIN KHAS Jember, Savic Ali: Kekuasaan Hari ini Sedang Frustasi
Demi Mutu Kampus! Prof Chotib, Calon Rektor UIN KHAS Dapat Dukungan Banyak Ormawa
PMII Nyatakan Dukungan pada Prof Chotib Sebagai Rektor UIN KHAS Jember
Konvoi Suporter Turnamen Futsal Wabup Cup Banyuwangi Telan Korban, Satu Tewas
Diterjang Angin Kencang, Atap Gedung KDKMP Sukomaju Banyuwangi Rusak

Baca Lainnya

Thursday, 5 November 2026 - 20:05 WIB

Pemotor Tewas Usai Tabrakan dengan Dump Truk di Tegalsari Banyuwangi

Wednesday, 4 November 2026 - 23:06 WIB

Pada Savic Ali, Ketua PC Fatayat NU Jember Nyatakan Siap Turun Jalan

Wednesday, 4 November 2026 - 21:09 WIB

Selenggarakan Taswirul Afkar! Ketua Ansor Jember Dorong Pemuda NU Berpihak Pada Sipil

Tuesday, 3 November 2026 - 14:06 WIB

Semangati Aktivis PMII UIN KHAS Jember, Savic Ali: Kekuasaan Hari ini Sedang Frustasi

Monday, 2 November 2026 - 13:35 WIB

Demi Mutu Kampus! Prof Chotib, Calon Rektor UIN KHAS Dapat Dukungan Banyak Ormawa

TERBARU

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Jember, Bambang Saputro (kanan), bersama warga Jember setelah melakukan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). (Foto: Humas Dispendukcapil).

Politia

Aktivasi IKD Jember Capai 139.966 Akun Per 6 November 2026

Friday, 6 Nov 2026 - 19:16 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading