FRENSIA.ID – Memoar anumerta Virginia Roberts Giuffre, yang berjudul Nobody’s Girl: A Memoir of Surviving Abuse and Fighting for Justice, Kembali hanya dibicarakan. Buku ini merupakan sebuah warisan terakhir dari seorang wanita yang berani menantang elit global sebelum meninggal dunia karena bunuh diri di Australia pada usia 41 tahun awal tahun ini.
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan Democracy Now!, Amy Wallace, penulis bayangan yang membantu Giuffre menyusun kepingan memori kelam tersebut, pernah menceritakan betapa beratnya beban yang ditanggung Virginia, 22/10/2025. Ia dianggapnya mengungkap kebenaran tentang “neraka yang paling dalam” yang diciptakan oleh Epstein dan Ghislaine Maxwell.
Kisah tragis ini bermula di tempat yang seharusnya menawarkan kemewahan, resor Mar-A-Lago milik Donald Trump. Wallace menuturkan kembali momen ketika Virginia, yang saat itu baru berusia 16 tahun dan bekerja di spa, didekati oleh Ghislaine Maxwell.
Maxwell, yang digambarkan tampil dengan busana memukau dan tas tangan yang harganya “lebih mahal daripada truk ayah Virginia,” menggunakan kemewahan dan janji palsu untuk menjerat korban.
“Jelas sekali ada masalah kelas di sini,” ungkap Wallace, menjelaskan bagaimana kerentanan ekonomi Virginia dimanipulasi dengan sangat presisi.
Hanya dalam hitungan jam setelah pertemuan itu, Virginia dibawa ke rumah Epstein dan pelecehan seksual pun dimulai.
Salah satu bagian paling eksplosif dalam buku ini merinci bagaimana Virginia diperdagangkan kepada Pangeran Andrew. Wallace menceritakan latar belakang foto terkenal yang memperlihatkan Pangeran Andrew merangkul Virginia muda.
Foto itu diambil menggunakan kamera sekali pakai yang dibawa Virginia—sebuah detail menyedihkan yang menunjukkan betapa sederhananya impian Virginia saat itu. Ia hanya ingin membuktikan kepada ibunya bahwa ia pernah bertemu seorang pangeran, layaknya dongeng Cinderella.
Namun, realitasnya jauh dari dongeng. Wallace mengutip momen mengerikan ketika Maxwell mempermainkan usia Virginia di depan sang Pangeran.
“Coba tebak umurnya,” tantang Maxwell. Pangeran Andrew menebak dengan tepat angka 17, yang menurut Wallace membuktikan kesadaran penuh sang Pangeran bahwa ia sedang bersama anak di bawah umur. Virginia mengaku dipaksa berhubungan seks dengan Pangeran Andrew sebanyak tiga kali.
Secara garis besar, buku ini juga menyinggung kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan oleh sosok-sosok berkuasa lainnya, termasuk klaim bahwa Virginia dipukuli dan diperkosa oleh seorang “perdana menteri terkenal.” Meski banyak nama yang disamarkan demi keamanan keluarga Virginia yang masih hidup, Wallace menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar daftar nama untuk memuaskan rasa ingin tahu publik, melainkan bukti kegagalan sistemik.
“Jika Anda menginginkan daftar nama, Anda dapat melihat berkas Epstein,” tegas Wallace.
Ia menambahkan bahwa Virginia menghadapi ancaman pembunuhan nyata yang dikonfirmasi oleh FBI, memaksanya dan keluarganya sempat hidup dalam pelarian menggunakan mobil van kemping di pedalaman Australia.
Lebih dari sekadar korban, Wallace mengenang Virginia sebagai sosok pejuang yang kompleks dan penuh kasih. Virginia menulis buku ini dengan satu tujuan mulia: memastikan tidak ada lagi gadis yang menjadi korban.
Dalam kata pengantarnya, Wallace mengutip email terakhir dari Virginia yang berbunyi, “Isi buku ini sangat penting karena bertujuan untuk menjelaskan secara sistemik kegagalan yang memungkinkan perdagangan manusia individu rentan di berbagai negara.”
Virginia berharap transparansi ini akan membawa keadilan, sebuah harapan yang ia pegang teguh hingga akhir hayatnya, bahkan ketika ia berharap perilisan dokumen Epstein akan memvalidasi penderitaan para penyintas.
Melalui Nobody’s Girl, Virginia Roberts Giuffre meninggalkan pesan terakhir yang menggugah hati nurani dunia. Seperti yang dituliskannya.
“Saya merindukan sebuah dunia di mana para pelaku menghadapi rasa malu yang lebih besar daripada apa yang dilakukan para korban,” tuturnya.
Penulis : Mashur Imam







