Nobody’s Girl, Buku Korban Epstein Yang Telah Bunuh Diri

Sunday, 8 February 2026 - 17:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Nobody's Girl, Buku Korban Epstein Yang Telah Bunuh Diri (Sumber: Grafis Frensia)

Gambar Nobody's Girl, Buku Korban Epstein Yang Telah Bunuh Diri (Sumber: Grafis Frensia)

FRENSIA.ID – Dunia literasi dan aktivisme global terguncang oleh sebuah rilis yang menghantui sekaligus memberdayakan. Sebuah suara dari balik kubur kini berbicara lebih lantang daripada sebelumnya, mengguncang kembali pilar-pilar kekuasaan yang selama ini berusaha membungkamnya.

Nobody’s Girl: A Memoir of Surviving Abuse and Fighting for Justice, memoar anumerta dari Virginia Roberts Giuffre, telah resmi dirilis dan langsung melesat menjadi New York Times Bestseller. Buku ini adalah kesaksian terakhir, sebuah manifesto keberanian dari seorang wanita yang, meskipun telah tiada, menolak untuk dilupakan.

Giuffre Virginia, nama yang kini identik dengan keberanian melawan raksasa, mengakhiri hidupnya sendiri di Australia pada April 2025 di usia 41 tahun. Namun, sebelum kepergiannya yang tragis, ia telah menyelesaikan naskah yang kini menjadi mimpi buruk bagi para elit dunia.

Dalam halaman-halaman yang ditulis dengan kejujuran yang brutal, Giuffre merinci bagaimana masa mudanya dirampas oleh skema perdagangan seks yang dijalankan oleh Jeffrey Epstein dan sosialita Inggris, Ghislaine Maxwell.

Salah satu pengungkapan paling mengejutkan dalam buku ini adalah detail pertemuan awalnya dengan monster-monster tersebut. Giuffre menulis bahwa ia direkrut ke dalam lingkaran setan ini saat bekerja di Mar-A-Lago, resor mewah milik Donald Trump.

Baca Juga :  Gus Rivqy: Pancasila Mengajarkan Ekonomi Harus Berpihak pada Rakyat

Dari sana, ia masuk ke dalam dunia di mana moralitas tidak berlaku bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan uang.

Dalam sebuah kutipan yang diambil dari bab-bab awal bukunya, Giuffre menggambarkan keputusasaan yang ia rasakan saat itu.

“Mereka tidak melihat saya sebagai manusia. Bagi Epstein dan Maxwell, saya hanyalah komoditas, sebuah benda yang bisa dipinjamkan untuk membeli pengaruh. Saya adalah gadis yang tidak dimiliki siapa pun, ‘nobody’s girl’, yang membuatnya mudah bagi mereka untuk menghapus jejak kemanusiaan saya,” tulisnya.

Kata-kata ini memberikan konteks yang menyayat hati pada judul bukunya, mengubah rasa sakit menjadi sebuah pernyataan identitas yang ia rebut kembali.

Buku ini tidak menahan diri dalam menyebutkan nama-nama besar. Giuffre secara eksplisit mengulangi dan memperdalam tuduhannya bahwa ia dipaksa berhubungan seks dengan Pangeran Andrew sebanyak tiga kali, dimulai ketika ia masih berusia 17 tahun—sebuah klaim yang menjadi pusat dari kejatuhan sang pangeran dari kehidupan publik kerajaan.

Memoar ini mengungkap detail mengerikan tentang kekerasan fisik dan pemerkosaan yang ia alami di tangan seorang “perdana menteri terkenal,” sebuah tuduhan yang diprediksi akan memicu gelombang investigasi baru meski sang penulis telah tiada.

Tragedi kematian Giuffre memberikan lapisan kesedihan yang mendalam pada setiap kalimat yang ia tulis. Ia berhasil melarikan diri dari cengkeraman Epstein dan Maxwell pada usia sembilan belas tahun, membangun kembali hidupnya dari nol, dan menjadi ujung tombak yang mengirim Maxwell ke penjara.

Baca Juga :  Ketua Komisi C Sebut Program "Bunga Desaku" Selaras dengan Visi Presiden Prabowo

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan beberapa bulan sebelum kematiannya dan dikutip dalam epilog buku, Giuffre sempat mengungkapkan beban berat yang ia pikul.

“Orang melihat kemenangan saya di pengadilan, tapi mereka tidak melihat malam-malam tanpa tidur. Saya menulis buku ini bukan untuk balas dendam, tetapi untuk memastikan bahwa kebenaran tidak mati bersama saya. Jika saya tidak ada lagi di sini, kata-kata ini yang akan terus bertarung,” ungkapnya dalam rekaman yang kini menjadi warisan berharganya.

Nobody’s Girl adalah narasi tentang ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi kebejatan. Publikasi buku ini adalah keinginan tegas Giuffre sebelum kematiannya.

Ia ingin dunia tahu bahwa meskipun ia telah “pergi”, perlawanannya terhadap ketidakadilan seksual dan impunitas orang kaya tidak akan pernah berakhir. Buku ini menjadi penegasan yang menakjubkan tentang tekadnya yang tak tergoyahkan, untuk bertahan hidup, kemudian untuk menuntut keadilan, dan akhirnya, untuk memberikan peta jalan bagi korban lain agar berani bersuara.

Penulis : Mashur Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Mahasiswa UGM Pilih Prabowo di Pilpres 2024, Alasannya Bikin Geleng-Geleng: “Biar Hancur Sekalian”
Ketua DPRD Jember Minta Layanan Samsat Hadir di MPP Mini
Komisi A DPRD Jember Rekomendasikan Perbaiki Saluran Limbah pada TPA Pakusari
Kepala DPMD Jember Bocorkan Perkiraan Pelaksanaan Pilkades 2027
Komisi A DPRD Jember Soroti ‘Money Politik’ Jelang Pilkades 2027
DPMD Jember Siapkan Antisipasi Konflik Jelang Pilkades 2027
PPP Jember Targetkan Raih 10 Kursi DPRD di Pemilu 2029
Solidkan Internal Partai, DPC PPP Jember Gelar Muscab ke-X

Baca Lainnya

Wednesday, 6 May 2026 - 18:09 WIB

Mahasiswa UGM Pilih Prabowo di Pilpres 2024, Alasannya Bikin Geleng-Geleng: “Biar Hancur Sekalian”

Wednesday, 6 May 2026 - 17:26 WIB

Ketua DPRD Jember Minta Layanan Samsat Hadir di MPP Mini

Wednesday, 6 May 2026 - 02:22 WIB

Komisi A DPRD Jember Rekomendasikan Perbaiki Saluran Limbah pada TPA Pakusari

Tuesday, 5 May 2026 - 19:22 WIB

Kepala DPMD Jember Bocorkan Perkiraan Pelaksanaan Pilkades 2027

Tuesday, 5 May 2026 - 18:40 WIB

Komisi A DPRD Jember Soroti ‘Money Politik’ Jelang Pilkades 2027

TERBARU