Frensia.Id– Muspika Kecamatan Kalisat melayangkan teguran keras kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyusul temuan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak layak konsumsi.
Kasus ini mencuat setelah sebuah video viral memperlihatkan siswa SD Negeri 2 Pelalangan mendapati telur puyuh dalam kondisi mentah di dalam kotak makan mereka.
Menanggapi laporan masyarakat tersebut, Camat Kalisat, Nuryadi, bersama jajaran Muspika langsung melakukan inspeksi mendadak ke dapur SPPG. Dalam klarifikasinya, pihak pengelola dapur mengakui adanya kendala teknis dalam proses perebusan yang menyebabkan sebagian telur tidak matang sempurna.
“Peristiwa itu terjadi pada Jum’at kemarin, cuman baru viral. Saat kami ke sana, pihak kepala dapur mengakui bahwa sebagian telur memang ada yang tidak matang secara sempurna,” katanya, Senin (9/2/2026).
Camat Kalisat, Nuryadi, menyayangkan kelalaian tersebut. Pihaknya juga meminta pertanggungjawaban penuh dari pihak pengelola agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini karena menyangkut kesehatan anak-anak didik kita. Berdasarkan hasil klarifikasi dengan kepala dapur, mereka mengaku telur tersebut memang sudah dimasak, namun karena proses yang kurang sempurna, ada bagian yang masih mentah,” ujarnya.
“Kami tegaskan bahwa kondisi kasuistis seperti ini tidak boleh menjadi alasan pembenaran,” tambahnya.
Dalam pengecekan, kata dia, Muspika juga menemukan SPPG tidak memiliki arsip sampel menu lengkap pada hari kejadian, padahal sesuai prosedur sampel menu wajib disimpan selama dua kali dua puluh empat jam.
“Selain masalah telur, kami juga menemukan fakta bahwa pihak SPPG tidak menyimpan arsip sampel menu lengkap pada hari kejadian. Padahal, sesuai prosedur operasional standar (SOP), setiap sampel menu wajib disimpan selama 2 \times 24 jam untuk kepentingan uji klinis jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti keracunan atau temuan makanan tidak layak,” paparnya.
Nuryadi menambahkan, Muspika kemudian memastikan sebagian telur puyuh yang dimasak memang masih kurang matang. Atas temuan tersebut, Muspika menegur pihak SPPG dan meminta agar lebih teliti serta tidak teledor dalam proses memasak menu MBG.
“Kami sudah memberikan teguran tertulis dan peringatan lisan agar tim dapur lebih teliti dan tidak teledor. SPPG harus mampu menyeimbangkan antara ketepatan waktu distribusi dengan kualitas serta keamanan pangan. Jangan sampai mengejar target waktu, tapi mengabaikan standar gizi dan kematangan masakan yang disajikan kepada siswa,” tandasnya.







