CEO Tesla Merasa Tidak Bahagia, Begini Penjelasannya

Wednesday, 11 February 2026 - 15:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Edit Arif

Foto: Edit Arif

Frensia.id- Baru-baru ini menarik perhatian publik, salah satu jajaran orang terkaya di dunia, Elon Musk merasa dirinya tidak bahagia. Hal tersebut ia ungkapkan lewat platform X pada Februari 2026.

Hal tersebut ironis sekali mengingat bahwa ia hidup dengan bergelimang harta. Sebagaimana tercatat dalam majalah Forbes pada bulan Februari 2026 kekayaan bersih Musk diperkirakan sekitar U$D852 miliar.  

Menanggapi fakta bahwa dirinya cukup kaya, CEO Tesla ini menyatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan.  Menurutnya kebahagiaan sejati berasal dari hal-hal yang non-materi seperti memiliki anak dan berkontribusi bagi masyarakat, bukan soal banyaknya uang.

Sebagai pemimpin perusahaan besar seperti Tesla, Spacex dan X banyak tantangan yang ia hadapi. Persaingan global, kebijakan bisnisnya yang selalu dihantui oleh keuntungan dan kerugian yang sama besarnya membuat dirinya diliputi perasaan tidak tenang.

Secara logika kenyataan tersebut sangatlah realistis. Sebagai salah satu orang berpengaruh dalam dunia bisnis dunia, segala tantangan yang dihadapi Musk jelas tidak mudah. Oleh karena itu dapat diperkirakan rasa cemas dan khawatir yang selalu membayangi dirinya.

Baca Juga :  Dispendik Jember Lakukan Trauma Healing di SDN 02 Jelbuk Usai Insiden Guru Over Reaktif

Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh Musk, dapat disimpulkan bahwa orang kaya tidak senantiasa bahagia. Harta yang bersifat bendawi tidak bisa memberikan jaminan kepada pemiliknya untuk berada pada situasi dan perasaan yang tenang. Oleh karena itu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebahagiaan?

Banyak pakar yang memberikan penjelasan mengenai arti bahagia. Setiap definisi mengandung asumsi-asumsi yang tidak lepas diukir dari pengalaman hidup seseorang. Menurut Immanuel Kant, kebahagiaan adalah kepuasan subjektif atas keinginan dan kecenderungan pribadi.

Dalam kasus Elon Musk, sudah dapat disimpulkan bahwa CEO Tesla ini tidak bahagia dikarenakan ia tidak mendapatkan anugerah berupa kepuasan atas ambisi, capaian dari sepak terjang bisnisnya. Sekalipun perusahaan yang ia kelola telah menghasilkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit.

Suasana psikologi dan jumlah kekayaan yang dimiliki Musk tidak bisa dibandingkan untuk mengukur kebahagiaan dengan seorang buruh yang memperoleh gaji cukup untuk makan keluarga dan sedikit untuk ditabung. Walapun dalam perjalanan hidupnya, bisa saja keesokan hari ia mendapat tagihan sehingga menghabiskan tabungan tersebut. Bisa saja buruh tersebut lebih bahagia daripada seorang CEO.

Baca Juga :  Mimbar Demokrasi Tolak Pilkada Melalui DPRD, Sebut Demokrasi Semakin Mundur dan Perkuat Oligarki

Lebih-lebih status sosial dari seseorang juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cara pandang akan kehidupan. Kecenderungan pribadi antara Musk dengan seorang buruh, jelas sekali jauh telak. Hal-hal yang dikahwatirkan oleh Musk bagi buruh adalah perkara yang tidak masuk akal dalam dinamika kehidupannya, sedangkan apa yang dibutuhkan oleh Musk dan seorang buruh jelas berbeda tipis dalam kapasitasnya menjalani kodrat sebagai manusia.

Istilah subjektif yang digunakan oleh Kant menunjukkan sebuah kemampuan atau skill yang dimiliki oleh seseorang dalam membuat penilaian atas fakta dan kejadian yang dihadapinya. Oleh karena itu faktor-faktor eksternal yang menjadi indikator kebahagiaan tidak selalu mengantarkan sebagai premis positif kepada kebahagiaan sejati itu sendiri. Adapun kesimpulan ini mendapatkan pembenaran oleh CEO Tesla, sebagaimana dalam unggahannya di platform X.  

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers
Logika Penguasaan Negara Pada Karya Jurnalistik Diteliti Akademisi
Dispendik Jember Lakukan Trauma Healing di SDN 02 Jelbuk Usai Insiden Guru Over Reaktif
Oknum Guru SD di Jelbuk Jember Telanjangi Murid Gegara Hilang Uang, Dispendik Tarik Pelaku dari Sekolah
David Robie, Periset Yang Pernah Utarakan Standar Kebebasan Pers di Indonesia Bermasalah
Kode Etik Jurnalistik, Pernah Dikaji Akademisi UIN SUKA Dalam Perspektif Islam
Buntut Dugaan Keracunan Siswa, Satgas MBG Jember Tinjau SPPG Umbulsari
Konferensi Akademik di UGM Bahas Masa Depan Demokrasi, Soroti Relasi Polisi, Militer, dan Gerakan Sosial

Baca Lainnya

Wednesday, 11 February 2026 - 15:57 WIB

CEO Tesla Merasa Tidak Bahagia, Begini Penjelasannya

Tuesday, 10 February 2026 - 18:34 WIB

Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers

Tuesday, 10 February 2026 - 18:15 WIB

Logika Penguasaan Negara Pada Karya Jurnalistik Diteliti Akademisi

Tuesday, 10 February 2026 - 17:05 WIB

Dispendik Jember Lakukan Trauma Healing di SDN 02 Jelbuk Usai Insiden Guru Over Reaktif

Tuesday, 10 February 2026 - 16:52 WIB

Oknum Guru SD di Jelbuk Jember Telanjangi Murid Gegara Hilang Uang, Dispendik Tarik Pelaku dari Sekolah

TERBARU

Foto: Edit Arif

Educatia

CEO Tesla Merasa Tidak Bahagia, Begini Penjelasannya

Wednesday, 11 Feb 2026 - 15:57 WIB