Frensia.id- Baru-baru ini menarik perhatian publik, salah satu jajaran orang terkaya di dunia, Elon Musk merasa dirinya tidak bahagia. Hal tersebut ia ungkapkan lewat platform X pada Februari 2026.
Hal tersebut ironis sekali mengingat bahwa ia hidup dengan bergelimang harta. Sebagaimana tercatat dalam majalah Forbes pada bulan Februari 2026 kekayaan bersih Musk diperkirakan sekitar U$D852 miliar.
Menanggapi fakta bahwa dirinya cukup kaya, CEO Tesla ini menyatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Menurutnya kebahagiaan sejati berasal dari hal-hal yang non-materi seperti memiliki anak dan berkontribusi bagi masyarakat, bukan soal banyaknya uang.
Sebagai pemimpin perusahaan besar seperti Tesla, Spacex dan X banyak tantangan yang ia hadapi. Persaingan global, kebijakan bisnisnya yang selalu dihantui oleh keuntungan dan kerugian yang sama besarnya membuat dirinya diliputi perasaan tidak tenang.
Secara logika kenyataan tersebut sangatlah realistis. Sebagai salah satu orang berpengaruh dalam dunia bisnis dunia, segala tantangan yang dihadapi Musk jelas tidak mudah. Oleh karena itu dapat diperkirakan rasa cemas dan khawatir yang selalu membayangi dirinya.
Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh Musk, dapat disimpulkan bahwa orang kaya tidak senantiasa bahagia. Harta yang bersifat bendawi tidak bisa memberikan jaminan kepada pemiliknya untuk berada pada situasi dan perasaan yang tenang. Oleh karena itu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebahagiaan?
Banyak pakar yang memberikan penjelasan mengenai arti bahagia. Setiap definisi mengandung asumsi-asumsi yang tidak lepas diukir dari pengalaman hidup seseorang. Menurut Immanuel Kant, kebahagiaan adalah kepuasan subjektif atas keinginan dan kecenderungan pribadi.
Dalam kasus Elon Musk, sudah dapat disimpulkan bahwa CEO Tesla ini tidak bahagia dikarenakan ia tidak mendapatkan anugerah berupa kepuasan atas ambisi, capaian dari sepak terjang bisnisnya. Sekalipun perusahaan yang ia kelola telah menghasilkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit.
Suasana psikologi dan jumlah kekayaan yang dimiliki Musk tidak bisa dibandingkan untuk mengukur kebahagiaan dengan seorang buruh yang memperoleh gaji cukup untuk makan keluarga dan sedikit untuk ditabung. Walapun dalam perjalanan hidupnya, bisa saja keesokan hari ia mendapat tagihan sehingga menghabiskan tabungan tersebut. Bisa saja buruh tersebut lebih bahagia daripada seorang CEO.
Lebih-lebih status sosial dari seseorang juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cara pandang akan kehidupan. Kecenderungan pribadi antara Musk dengan seorang buruh, jelas sekali jauh telak. Hal-hal yang dikahwatirkan oleh Musk bagi buruh adalah perkara yang tidak masuk akal dalam dinamika kehidupannya, sedangkan apa yang dibutuhkan oleh Musk dan seorang buruh jelas berbeda tipis dalam kapasitasnya menjalani kodrat sebagai manusia.
Istilah subjektif yang digunakan oleh Kant menunjukkan sebuah kemampuan atau skill yang dimiliki oleh seseorang dalam membuat penilaian atas fakta dan kejadian yang dihadapinya. Oleh karena itu faktor-faktor eksternal yang menjadi indikator kebahagiaan tidak selalu mengantarkan sebagai premis positif kepada kebahagiaan sejati itu sendiri. Adapun kesimpulan ini mendapatkan pembenaran oleh CEO Tesla, sebagaimana dalam unggahannya di platform X.







