Frensia.Id- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji lab terhadap pedagang takjil di kawasan Alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sebanyak 25 sampel makanan dan minuman diuji laboratorium untuk memastikan keamanan pangan selama Ramadan.
Kepala Balai BPOM Jember, Benny Hendrawan Prabowo, menyebut sampel yang diambil merupakan menu yang paling laku diburu warga. Mulai dari es cendol, es cappucino cincau, cilok, sosis bakar, hingga aneka sate-satean.
“Produk-produk tersebut memiliki potensi dicampur dengan bahan berbahaya,” katanya, Selasa (3/3/2026).
Benny menjelaskan, pengujian dilakukan langsung di lokasi menggunakan mobil laboratorium keliling. Tim ahli melakukan rapid test (uji cepat) untuk mendeteksi kandungan zat kimia berbahaya yang kerap disalahgunakan.
“Takjil diuji cepat untuk memastikan terbebas dari pewarna berbahaya Rhodamin B dan Methanil Yellow, serta pengawet formalin dan boraks,” ujarnya.
Berdasarkan uji lab secara acak tersebut, Benny memastikan seluruh takjil yang dijual di Alun-alun Jember aman dan layak konsumsi. Warga pun tak perlu khawatir untuk berburu menu buka puasa di sana.
“Beberapa parameter uji kami memastikan bahwasanya pangan tersebut aman dikonsumsi oleh masyarakat,” paparnya.
Meski hasilnya negatif zat berbahaya, BPOM tidak akan kendor. Pengawasan ketat akan terus dilakukan hingga Idul Fitri mendatang. Tidak hanya menyasar pedagang takjil, namun juga pangan kemasan di ritel-ritel Jember.
“Pengujian takjil secara acak akan terus dilakukan di sejumlah tempat,” tambahnya.
BPOM pun menebar ancaman bagi pedagang nakal. Jika di kemudian hari ditemukan kandungan zat berbahaya, pihaknya tidak segan-segan melakukan tindakan tegas. Penelusuran akan dilakukan untuk mengetahui apakah bahan berbahaya tersebut sengaja ditambahkan atau berasal dari suplier pasar.
“Nanti akan kami telusuri, apakah sengaja ditambahkan pelaku usaha atau mereka membeli dari pasar kemudian dimasak kembali,” tandasnya.







