Tak Sebaik Portugal, Prancis Juga “Nyungsep” Menghadapi Spanyol

Wednesday, 15 July 2026 - 04:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Tak Sebaik Portugal, Prancis Juga

Gambar Tak Sebaik Portugal, Prancis Juga "Nyungsep" Menghadapi Spanyol (Sumber: Grafis Frensia)

FRENSIA.ID- Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 yang digelar di bawah gemerlap lampu Stadion Dallas menjadi saksi bisu runtuhnya harapan salah satu raksasa sepak bola dunia. Tim nasional Prancis, yang datang ke turnamen ini dengan predikat skuad bertabur bintang dan sangat diunggulkan untuk melaju ke final ketiga kalinya secara berturut-turut, justru harus menelan pil pahit yang amat menyakitkan.

Secara mengejutkan, skuad berjuluk Les Bleus tersebut tampil sangat antiklimaks dan terpaksa angkat koper lebih awal setelah ditumbangkan oleh Spanyol dengan skor meyakinkan 2-0. Kekalahan ini terasa semakin menyesakkan dan memalukan jika membandingkan performa mereka dengan Portugal, yang pada pekan sebelumnya di babak 16 besar juga takluk di tangan Spanyol, namun mampu memberikan perlawanan yang jauh lebih sengit dan hanya kalah dengan skor tipis 1-0.

Prancis, dengan segala gemerlap lini serangnya yang diisi oleh nama-nama besar justru tampil layaknya macan ompong yang kehilangan ketajamannya di hadapan pertahanan solid La Roja.

Sejak peluit babak pertama dibunyikan oleh wasit, atmosfer ketegangan tingkat tinggi sudah terasa memenuhi setiap sudut stadion. Puluhan ribu pasang mata yang memadati arena berharap untuk menyaksikan sebuah epik pertarungan antara dua filosofi sepak bola yang berbeda. Pelatih Prancis, Didier Deschamps, menurunkan susunan pemain terbaiknya, menempatkan Mike Maignan di bawah mistar gawang serta mengandalkan kuartet lini belakang Kounde, Upamecano, Saliba, dan Digne.

Sementara itu, Luis de la Fuente di kubu Spanyol merespons dengan mempercayakan posisi ujung tombak kepada Mikel Oyarzabal yang didukung oleh kreativitas Lamine Yamal dan Dani Olmo. Duel antara dua talenta lintas generasi, Kylian Mbappe dan Lamine Yamal, menjadi sorotan utama yang paling dinantikan oleh para penggemar di seluruh dunia. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain.

Spanyol dengan cepat mengambil alih kendali permainan, memperagakan umpan-umpan pendek khas mereka yang mengalir dari kaki ke kaki dengan sangat taktis dan disiplin, membuat barisan pertahanan Prancis harus bekerja ekstra keras sejak menit-menit awal pertandingan.

Petaka bagi tim nasional Prancis mulai datang ketika pertandingan memasuki menit ke-22. Sebuah skema serangan mematikan dari sayap kiri Spanyol berbuah manis.

Marc Cucurella, yang tampil luar biasa malam itu, mengirimkan umpan silang akurat ke dalam kotak penalti. Bola tersebut sebenarnya berhasil dikontrol dengan dada oleh bek kiri Prancis, Lucas Digne. Namun, dalam hitungan sepersekian detik, kelincahan dan kecerdasan Lamine Yamal membuyarkan segalanya.

Pemain muda sensasional tersebut memotong pergerakan Digne yang hendak menyapu bola, sehingga benturan keras pun tak terelakkan di area terlarang. Wasit tanpa ragu langsung menunjuk titik putih, memberikan hadiah penalti untuk Spanyol. Keputusan ini sempat mengundang kepanikan dari para pemain Prancis.

Baca Juga :  Na'as! Vinicius Dkk Dipulangkan Haaland

Mikel Oyarzabal yang bertindak sebagai algojo tidak membuang peluang emas tersebut. Dengan ketenangan yang luar biasa, striker andalan Real Sociedad itu melepaskan tembakan kaki kiri yang terarah tajam ke sudut kanan atas gawang. Meski Maignan telah berusaha melompat sejauh mungkin, laju bola terlalu deras untuk dihentikan, mengubah papan skor menjadi 1-0 untuk keunggulan Spanyol.

Tertinggal satu gol pada awal babak pertama seharusnya menjadi pelecut semangat bagi skuad ayam jantan untuk segera bangkit. Namun, alih-alih menyamakan kedudukan, Prancis justru semakin terlihat frustrasi dan kehilangan arah permainan.

Lini tengah mereka yang dikawal oleh Aurelien Tchouameni dan Adrien Rabiot tampak kewalahan meladeni dominasi lini tengah Spanyol yang begitu tenang mengatur ritme. Keadaan Prancis semakin terpuruk ketika menjelang pertengahan babak pertama, bek andalan mereka, William Saliba, harus ditarik keluar lapangan karena mengalami cedera punggung.

Maxence Lacroix masuk sebagai pemain pengganti, namun transisi darurat ini sedikit banyak mengganggu soliditas pertahanan mereka. Hingga peluit panjang tanda berakhirnya babak pertama dibunyikan, Prancis mencatatkan sebuah statistik yang sangat mengecewakan; tidak ada satupun tembakan tepat sasaran yang berhasil mereka arahkan ke gawang Unai Simon.

Para penyerang kelas dunia Prancis seakan terisolasi, dipaksa turun ke lini tengah hanya untuk mendapatkan sentuhan bola di tengah kepungan pemain bertahan Spanyol.

Memasuki babak kedua, Deschamps mencoba melakukan penyegaran taktik dengan memasukkan Kouadio Kone menggantikan Rabiot yang sudah mengantongi kartu kuning, demi menghindari risiko bermain dengan sepuluh orang. Harapan akan adanya kebangkitan sempat terlihat ketika Prancis mencoba mengambil inisiatif serangan.

Ousmane Dembele dan Michael Olise berkali-kali mencoba membongkar sisi sayap pertahanan Spanyol, namun Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi tampil layaknya tembok karang yang sama sekali tak tertembus. Pertahanan La Roja benar-benar bermain luar biasa kokoh, menutup setiap celah ruang gerak dan memaksa para pemain Prancis untuk melepaskan tembakan-tembakan spekulasi yang sama sekali tidak membahayakan gawang.

Absennya kreativitas kolektif dan kerja sama tim yang baik membuat alur serangan Prancis terlihat monoton dan sangat mudah diprediksi oleh barisan pertahanan lawan.

Di tengah keputusasaan Prancis mencari gol penyeimbang, Spanyol justru kembali memberikan pukulan telak yang mengubur dalam-dalam mimpi mereka. Tepat pada menit ke-58, sebuah skema serangan yang sangat klinis dan terukur kembali tersaji di atas lapangan.

Dani Olmo, yang sepanjang pertandingan tampil brilian sebagai motor penggerak tim, memberikan umpan kunci yang brilian kepada Pedro Porro. Pemain yang berposisi sebagai bek kanan itu dengan sangat cerdik melakukan pergerakan umpan satu-dua yang mematikan bersama Olmo, menembus barisan pertahanan Prancis yang lengah.

Dengan penyelesaian akhir yang mematikan, Porro melepaskan tembakan mendatar menyusur tanah yang sukses menaklukkan Maignan untuk kedua kalinya malam itu. Gol spektakuler tersebut tidak hanya menggandakan keunggulan Spanyol menjadi 2-0, tetapi juga secara efektif menghancurkan sisa-sisa moral bertanding skuad Prancis.

Baca Juga :  Portugal Pulang! Spanyol Kubur Harapan Ronaldo Di Piala Dunia

Gol ini juga mencatatkan rekor tersendiri, di mana Porro menjadi bek Spanyol kedua yang mampu mencetak lebih dari satu gol dalam satu edisi turnamen Piala Dunia.

Setelah tertinggal margin dua gol, skuad asuhan Deschamps mencoba mengerahkan segala daya, upaya, dan sisa tenaga mereka. Pemain-pemain segar seperti Desire Doue, Rayan Cherki, dan Theo Hernandez dimasukkan untuk merombak strategi serangan. Akan tetapi, Spanyol yang sudah berada di atas angin justru bermain semakin cerdas dan penuh perhitungan.

Mereka mengatur tempo pertandingan, memperlama durasi penguasaan bola, dan sesekali memberikan ancaman serius melalui skema serangan balik cepat. Spanyol bahkan nyaris memperbesar keunggulan ketika Yamal sempat menceploskan bola ke sudut gawang dengan sebuah tembakan melengkung yang sangat indah dari jarak dekat.

Beruntung bagi Prancis, hakim garis dengan sigap mengangkat bendera tanda offside karena Yamal bergerak sepersekian detik mendahului pemain bertahan terakhir. Kendati gol tersebut harus dianulir, dominasi Spanyol sudah terlampau nyata untuk dibantah oleh siapapun di dalam stadion.

Rasa frustrasi kubu Prancis mencapai titik didihnya menjelang akhir masa pertandingan. Hal ini terlihat jelas ketika sang kapten sekaligus ujung tombak andalan mereka, Mbappe, harus menerima hukuman kartu kuning dari wasit akibat sebuah tekel terlambat yang sama sekali tidak perlu terhadap kiper Unai Simon di menit ke-86.

Gestur keputusasaan tersebut seolah menjadi simbol utama ketidakberdayaan Les Bleus menghadapi kolektivitas permainan La Roja yang sangat rapi. Hingga peluit panjang wasit berbunyi yang menandakan waktu tambahan tujuh menit telah usai, skor 2-0 untuk kemenangan mutlak Spanyol tetap tidak berubah. Statistik akhir pertandingan menjadi bukti tak terbantahkan bagaimana Spanyol menguasai laga secara efisien.

Prancis hanya mampu mencatatkan angka expected goals (xG) sebesar 0,3 dari total 10 percobaan tembakan yang mereka lakukan. Berbanding sangat terbalik dengan Spanyol yang tampil luar biasa efektif, menghasilkan 1,63 xG dan berhasil mengonversi peluang mereka dengan sempurna tanpa memerlukan keajaiban ekstra.

Bagi tim nasional Prancis, kekalahan telak dan permainan yang “nyungsep” ini menjadi sebuah ironi serta penutup cerita yang sangat pahit, khususnya bagi Didier Deschamps. Pertandingan perebutan tempat ketiga pada hari Sabtu mendatang telah dipastikan akan menjadi laga perpisahannya sebagai pelatih kepala Les Bleus.

Harapan besar untuk mengakhiri karier manajerialnya di tim nasional dengan raihan trofi tertinggi harus kandas di tangan skuad Spanyol yang bermain jauh lebih padu, terorganisir, dan bertenaga.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Sempat Kewalahan Hadapi Swiss, Argentina Akhirnya Melaju Ke Semifinal
Bellingham, Bintang Real Madrid, Hentikan Mimpi Sang Terminator Norwegia
Setelah Portugal, Giliran Belgia Yang Dipulangkan Yamal Dkk
Sempat Menang Sebelum Messi Menggila, Mesir Akhirnya Dipulangkan
Portugal Pulang! Spanyol Kubur Harapan Ronaldo Di Piala Dunia
Na’as! Vinicius Dkk Dipulangkan Haaland
Bupati Fawait Sebut Event Olahraga Pencak Silat Bisa Tekan Angka Kenakalan Remaja di Jember
Cetak Atlet Berprestasi, Ketua IPSI Jember Dorong Pencak Silat Masuk Kurikulum Sekolah

Baca Lainnya

Wednesday, 15 July 2026 - 04:34 WIB

Tak Sebaik Portugal, Prancis Juga “Nyungsep” Menghadapi Spanyol

Sunday, 12 July 2026 - 10:50 WIB

Sempat Kewalahan Hadapi Swiss, Argentina Akhirnya Melaju Ke Semifinal

Sunday, 12 July 2026 - 07:06 WIB

Bellingham, Bintang Real Madrid, Hentikan Mimpi Sang Terminator Norwegia

Saturday, 11 July 2026 - 05:12 WIB

Setelah Portugal, Giliran Belgia Yang Dipulangkan Yamal Dkk

Wednesday, 8 July 2026 - 01:58 WIB

Sempat Menang Sebelum Messi Menggila, Mesir Akhirnya Dipulangkan

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading