FRENSIA.ID-Pertandingan sengit nan emosional di Stadion SoFi, Los Angeles, akhirnya menemui titik akhirnya pada babak perempat final Piala Dunia 2026. Tim nasional Spanyol kembali menegaskan dominasi mereka di panggung sepak bola dunia dengan meraih kemenangan dramatis 2-1 atas skuad Belgia.
Kemenangan ini adalah sebuah pernyataan tegas dari La Roja bahwa mereka sangat siap untuk merengkuh kembali mahkota kejayaan yang terakhir kali mereka cicipi pada tahun 2010 silam. Skuad asuhan pelatih Luis de la Fuente tampil dengan determinasi tinggi, melanjutkan tren positif mereka setelah sebelumnya juga sukses menyingkirkan tetangga tangguh mereka, Portugal, di babak 16 besar.
Keberhasilan Lamine Yamal dan kawan-kawan di atas lapangan membuktikan bahwa perpaduan harmonis antara darah muda yang penuh energi dan ketenangan para pemain veteran adalah senjata mematikan yang sangat sulit dibendung oleh barisan pertahanan lawan manapun di sepanjang turnamen akbar ini.
Sejak peluit babak pertama dibunyikan oleh wasit, Spanyol langsung mengambil alih kendali permainan dengan ciri khas penguasaan bola yang memukau dan umpan-umpan pendek yang mengalir deras dari kaki ke kaki. Ketenangan sang kapten, Rodri, di lini tengah menjadi metronom mutlak bagi setiap gelombang serangan yang dibangun oleh Spanyol. Mereka sama sekali tidak membiarkan Belgia bernapas lega, memaksa Setan Merah untuk lebih banyak bertahan rapat di area pertahanan sendiri dan hanya bisa mengandalkan skema serangan balik cepat.
Lamine Yamal, sang permata muda yang baru berusia 18 tahun, kembali tampil memukau di sisi sayap kanan. Kelincahan, teknik tingkat tinggi, dan visinya berulang kali merepotkan barisan pertahanan Belgia yang dikawal ketat oleh Timothy Castagne. Kebuntuan akhirnya benar-benar pecah pada menit ke-30 ketika Fabian Ruiz berhasil memanfaatkan kelengahan di depan gawang. Berawal dari umpan satu-dua yang sangat brilian antara bek sayap Pedro Porro dan Yamal, bola silang mendatar dikirimkan ke dalam kotak penalti.
Tendangan awal Dani Olmo memang masih mampu ditepis dengan gemilang oleh kiper kawakan Thibaut Courtois, namun Ruiz berada di posisi yang sangat tepat untuk menyambar bola liar tersebut, membawa Spanyol unggul 1-0 dan membuat ribuan pendukung mereka yang memadati tribun bersorak kegirangan.
Meskipun tertinggal, Belgia bukanlah tim yang mudah menyerah dan runtuh secara mental, terutama setelah mereka tampil sangat beringas saat menghancurkan tuan rumah Amerika Serikat dengan skor telak di babak sebelumnya. Tertinggal satu gol justru semakin memacu adrenalin dan semangat Kevin De Bruyne dan rekan-rekannya untuk berani keluar menyerang. Dengan mengandalkan kecepatan eksplosif Jeremy Doku di sisi sayap dan kecerdasan taktis De Bruyne dalam mengatur tempo, Belgia mulai menebar ancaman yang sangat nyata ke gawang Unai Simon.
Kesabaran dan kegigihan skuad asuhan Rudi Garcia akhirnya membuahkan hasil manis hanya empat menit menjelang waktu turun minum. Sebuah skema serangan balik yang tertata sangat rapi bermula dari pergerakan cermat Leandro Trossard. Bola kemudian berpindah ke kaki Castagne yang dengan tenang melepaskan umpan silang akurat ke jantung pertahanan La Roja.
Charles De Ketelaere, yang melompat jauh lebih tinggi dari bek Pau Cubarsi, sukses menanduk bola dengan keras ke sudut gawang, mengubah papan skor menjadi imbang 1-1 sekaligus menodai rekor tak kebobolan luar biasa Spanyol yang telah dijaga dengan susah payah di turnamen ini.
Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan semakin meningkat tajam seolah tanpa henti. Spanyol dan Belgia saling jual beli serangan secara bergantian, menciptakan atmosfer yang begitu menegangkan dan menguras emosi bagi para penonton di stadion maupun jutaan pasang mata di seluruh dunia. Yamal terus menerus menjadi momok menakutkan bagi pertahanan Belgia, melepaskan tembakan-tembakan berbahaya yang berulang kali memaksa Courtois untuk jatuh bangun menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.
Sayangnya, malapetaka besar menghampiri kubu Belgia pada menit ke-71 ketika Thibaut Courtois terpaksa ditarik keluar lapangan karena mengalami cedera paha yang cukup serius. Posisinya kemudian digantikan oleh penjaga gawang Manchester United, Senne Lammens. Pergantian krusial di bawah mistar gawang ini secara tidak langsung mengubah dinamika psikologis di atas lapangan, memberikan celah kecil yang pada akhirnya berhasil dieksploitasi dengan sangat kejam oleh para penyerang Spanyol di penghujung laga yang dramatis ini.
Ketika pertandingan perempat final yang menguras tenaga ini seolah akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu yang melelahkan, sentuhan magis Luis de la Fuente dari pinggir lapangan kembali membuahkan hasil yang sangat maksimal. Keputusannya memasukkan Mikel Merino pada menit ke-86 terbukti menjadi sebuah langkah taktis jenius yang sukses menentukan hasil akhir pertandingan.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi gelandang serba bisa tersebut untuk kembali menobatkan dirinya menjadi pahlawan negara. Berawal dari tendangan mendatar Cubarsi yang gagal ditangkap dengan sempurna oleh Lammens, bola terlepas liar tepat ke arah Merino yang datang merangsek tak terkawal masuk ke dalam kotak penalti.
Tanpa ampun, Merino menceploskan bola dari jarak yang sangat dekat pada menit ke-88, mencetak gol kemenangan dramatis yang seketika mematahkan hati seluruh pendukung Belgia. Di sisa waktu tambahan yang krusial, Belgia terus mengurung pertahanan Spanyol dengan keputusasaan yang mendalam demi mencari gol penyeimbang. Ketegangan memuncak ketika Aymeric Laporte harus melakukan sapuan akrobatik luar biasa tepat di garis gawang demi menggagalkan peluang emas dari Romelu Lukaku.
Peluit panjang akhirnya berbunyi, memastikan Spanyol melangkah gagah ke babak semifinal untuk menantang finalis dua kali berturut-turut, Prancis, sementara Belgia terpaksa menyusul Portugal untuk mengemas koper dan pulang lebih awal dari panggung megah Piala Dunia 2026.






