FRENSIA.ID –Stadion Atlanta menjadi saksi bisu dari salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah babak 16 besar Piala Dunia 2026. Tim nasional Argentina yang berstatus sebagai kampiun dunia nyaris saja menelan pil pahit dan tersingkir secara memalukan dari turnamen bergengsi ini. Skuad La Albiceleste tertinggal dua gol hingga sebelas menit terakhir waktu normal, sebelum akhirnya sebuah keajaiban datang dari ujung tanduk.
Magisnya, sang kapten legendaris, Lionel Messi, sukses memimpin sebuah kebangkitan luar biasa guna membalikkan keadaan dan memulangkan wakil tangguh dari benua Afrika, Mesir, lewat kemenangan menegangkan dengan skor akhir 3-2.
Sejak peluit tanda dimulainya babak pertama dibunyikan, Mesir tampil dengan keberanian heroik serta kedisiplinan tingkat tinggi. Anak asuh Hossam Hassan sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar saat menghadapi gempuran deretan bintang dunia. Kejutan besar pertama langsung tercipta pada menit ke-15 ketika Yasser Ibrahim berhasil melompat memenangi duel udara atas Lisandro Martinez untuk menyundul umpan sepak pojok akurat dari Marwan Attia yang sukses merobek gawang kawalan Emiliano Martinez.
Argentina sebenarnya memiliki peluang emas untuk membalas secara instan pada menit ke-21 melalui titik putih akibat pelanggaran di kotak terlarang terhadap Nicolas Tagliafico. Namun secara mengejutkan, eksekusi penalti Lionel Messi berhasil ditebak dan ditepis dengan sangat brilian oleh penjaga gawang Mostafa Shobeir. Kegagalan menyakitkan ini menandai untuk pertama kalinya sejak edisi 2010, Argentina harus turun minum dengan posisi tertinggal.
Memasuki babak kedua, tensi ketegangan di atas lapangan hijau semakin memuncak. Alih-alih segera bangkit mendominasi, pertahanan Argentina justru kembali kecolongan melalui skema serangan balik cepat yang dirancang dengan sangat efektif oleh The Pharaohs. Setelah sebuah gol dari Mostafa Zico sempat dianulir oleh Video Assistant Referee (VAR) pada menit ke-60 akibat pelanggaran sebelumnya, striker tajam tersebut benar-benar menghukum kelengahan pertahanan Argentina tujuh menit berselang.
Memanfaatkan momentum transisi cepat yang dipimpin oleh Mohamed Salah, Zico menerima umpan mendatar dari Haissem Hassan di sisi kanan dan dengan tenang menceploskan bola untuk menggandakan keunggulan Mesir menjadi 2-0. Harapan besar Mesir untuk mengukir sejarah lolos ke perempat final untuk pertama kalinya seakan sudah di depan mata.
Namun, di saat harapan publik Amerika Selatan tampak perlahan sirna dan mentalitas skuad asuhan Lionel Scaloni sedang diuji, Lionel Messi membuktikan kapasitas aslinya dan mengubah total jalannya pertandingan. Kebangkitan dramatis sang juara bertahan baru meledak pada menit ke-79.
Messi merancang hantaran silang mematikan yang langsung disambar melalui sundulan keras bek tengah Cristian Romero tanpa mampu dihalau Shobeir.
Gol krusial tersebut terbukti sukses membangunkan singa yang sedang tertidur lelap. Hanya butuh empat menit berselang bagi Argentina untuk kembali menyamakan kedudukan.
Pemain pengganti, Gonzalo Montiel, melepaskan umpan presisi kepada Messi yang tidak menyia-nyiakan ruang tembak, melepaskan tendangan kaki kiri lurus yang membentur bagian bawah mistar gawang sebelum memantul keras menggetarkan jaring gawang.
Laga sengit yang seolah dipastikan bakal berlanjut ke babak perpanjangan waktu yang melelahkan ini akhirnya menemukan klimaksnya pada masa injury time. Tepat di menit ke-92, Julian Alvarez melepaskan umpan panjang menyilang menuju sisi kanan wilayah Mesir yang sukses dikuasai oleh Lautaro Martinez.
Striker andalan Inter Milan tersebut mengambil waktu observasi sejenak sebelum melepaskan umpan silang mematikan yang langsung disambut oleh sundulan sempurna Enzo Fernandez ke sudut jauh gawang. Gol kemenangan sensasional di menit akhir ini sontak membuat puluhan ribu pendukung Argentina bersorak kegirangan hingga berpelukan.
Meskipun Mesir telah berjuang sangat heroik dan nyaris menciptakan kejutan paling masif di turnamen, dominasi penguasaan permainan Argentina yang membukukan 19 total tembakan berbanding lima akhirnya terbayar lunas. Sang juara bertahan kini selamat dari lubang jarum dan berhak melangkah ke perempat final menanti pemenang antara Swiss atau Kolombia.






