Frensia.id – Bupati Jember, Muhammad Fawait, merespons atas ketegangan polemik pro-kontra perubahan tata kelola penempatan lapak yang tengah terjadi di area Pasar Tanjung, Jember.
Bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu, menegaskan bahwa kebijakan perubahan penempatan lapak di Pasar Tanjung, Jember, atas dasar usulan dari internal pedagang.
“Saya pikir kita ini mencoba untuk menengahi semuanya, baik yang pro maupun kontra, dan sekali lagi apapun yang saya lakukan di Pasar Tanjung itu bukan inisiatif eksekutif. Tapi itu permintaan dari pedagang yang sudah kita ajak bicara baik pedagang yang di atas maupun di bawah,” kata dia, setelah Rapat Paripurna I di DPRD Kabupaten Jember, pada Senin (28/9/2026), siang hari.
Gus Fawait menjelaskan bahwa perubahan penempatan lapak tersebut, bukan inisiatif dari pemerintah, melainkan juga berdasarkan aspirasi dari mahasiswa.
“Saya mencoba menampung semua aspirasi, termasuk dari adik-adik mahasiswa, salah satunya adalah uji coba terkait masalah rekayasa lalu lintas,” tuturnya.
Lebih lanjut, Gus Fawait menyangkal bahwa Pemkab Jember tidak pernah mendengarkan aspirasi dari masyarakat.
Pernyataan tersebut, sehingga dibuktikan saat pihaknya berkunjung di Pasar Tanjung.
“Semua saya dudukkan, tapi saya bangga ya sama pedagang Pasar Tanjung, karena bisa duduk bersama,” ucapnya.
Menurutnya, adanya dinamika ketegangan terkait pro-kontra kebijakan, menjadi hal wajar dalam sistem demokrasi di negara Indonesia.
“Jadi saya pikir itu bagian dari demokrasi lah ada yang pro, ada yang kontra, nanti kita ajak duduk bersama,” tegasnya.***






