Fakta Unik, Takbiran Di Daerah ini Dilakukan Bersama Non Muslim

Thursday, 11 April 2024 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Frensi.id, Takbiran Multikultural (Sumber; Freepik dan Pngtree)

Ilustrasi Frensi.id, Takbiran Multikultural (Sumber; Freepik dan Pngtree)

Frensia.id- Takbiran menjadi tradisi yang pasti ada dalam setiap perayaan hari raya Idul Fitrih. Hal demikian merupakan anjuran bagi semua Ummat muslim di seluruh penjuru dunia.

Uniknya, di salah satu daerah Indonesia, takbiran telah dikenal luas. Menariknya bukan hanya dilakukan oleh orang-orang muslim saja, namun juga secara bersama dengan orang non Muslim.

Fenomena demikian pernah diteliti oleh Muhammad Iwan Fitriani. Penelitian yang berjudul “Pengelolaan Kerukunan Antar Umat Beragama Melalui Peran Kepemimpinan Multikultural” tersebut diterbitkan dalam Jurnal penelitian Keislaman pada tahun kemarin, 16/10/2023.

Riset Iwan ini dilakukan di Kecamatan Narmada, Lombok Barat pada tahun 2019. Isinya menggambarkan beberapa fenomena keikutsertaan umat Hindu dalam parade takbiran umat Islam sebagai contoh perayaan keberagaman dalam masyarakat.

Iwan mengerjakan penelitian tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologi. Sedangkan kerangka teorinya adalah mono-multi-antar-agama, dialog antaragama, dan kompetensi antarbudaya sebagai kerangka analisisnya.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan

Setelah dilakukan analisis, beberapa keunikan terjadi dalam fenomena tersebut;

Adanya Penghayatan Ajaran Agama Bersama

Umat Hindu yang berpartisipasi dalam parade takbiran umat Islam menunjukkan pemahaman dan penghayatan ajaran agama yang baik. Mereka mampu menemukan titik temu antara ajaran agama mereka dengan agama lain, sehingga bersedia untuk mengikuti ritual tertentu yang dianggap dapat mendukung kerukunan antarumat beragama.

Pentingnya pemahaman agama secara mendalam memungkinkan terciptanya kesepahaman dan saling penghargaan antarumat beragama.

Jadi, pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memahami, menghormati, dan mempromosikan kerukunan antaragama menjadi kunci dalam menjaga harmoni dan kedamaian di tengah keberagaman agama.

Ada Pemimpin Kerukunan Antarumat Beragama

Riset Iwan ini juga menyoroti peran penting pemimpin dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.

Pemimpin dianggap sebagai juru bicara yang mampu memfasilitasi dialog antaragama, menangani potensi gangguan atau konflik antarumat beragama, serta memainkan peran sosialisasi untuk mempromosikan nilai-nilai multikulturalisme dan kerukunan di masyarakat.

Baca Juga :  PDIP Jember Desak Insentif Guru Ngaji Cair Sebelum Lebaran

Potret Ideal Masyarakat Multiagama

Riset Iwan menegaskan bahwa merayakan keberagaman merupakan potret ideal dari masyarakat multiagama yang harmonis. Ini mencakup kesediaan umat beragama untuk berpartisipasi dalam ritual atau perayaan agama lain, tanpa mengorbankan identitas atau keyakinan mereka sendiri.

Semua ini menunjukkan pentingnya kesepakatan-kesepakatan tertentu dalam ritual-ritual yang dapat diterima oleh berbagai agama yang berbeda.

Jadi riset Iwan di atas, telah memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana masyarakat multiagama dapat mencapai kerukunan dan merayakan keberagaman melalui kesadaran baik.

Hal demikian yang kemudian menegaskan bahwa takbiran juga dapat menjadi landasan bagi masyarakat yang inklusif dan harmonis di Indonesia.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal
Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir
Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat
Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan
Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir
Resepsi 100 Tahun NU, Ketua LDNU PBNU Paparkan Tiga Kerangka Khidmat
Peziarah Terhambat Ziarah ke Wali Lima Gegara Bus Masuk Sawah di Mayang Jember

Baca Lainnya

Thursday, 19 March 2026 - 07:58 WIB

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Sunday, 8 March 2026 - 14:28 WIB

Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir

Thursday, 26 February 2026 - 23:19 WIB

Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat

Saturday, 21 February 2026 - 17:00 WIB

Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan

Tuesday, 17 February 2026 - 21:00 WIB

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan

TERBARU

Educatia

Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember

Thursday, 19 Mar 2026 - 23:38 WIB

Suasana para jamaah saat melaksanakan ibadah sholat IdulFitri di Masjid Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Desa Suger, Kacamatan Jelbuk, Jember. (Fadli/Frensia).

Religia

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Thursday, 19 Mar 2026 - 07:58 WIB

Kondisi arus lalu lintas saat perjalanan mudik di Jember. (Foto: Sigit/Frensia).

News

Sejumlah Titik Kemacetan Arus Mudik Lebaran 2026 di Jember

Wednesday, 18 Mar 2026 - 23:22 WIB