Frensia.id- Penting dipahami bagi pembisnis kuliner, kaum muda yang datang berkunjung atau membeli dagangannya akan dapat membantu marketing bisnismu.
Seorang akademisi, Khumurotul Qur’aniyah, menulis penelitian yang fokus pada budaya kuliner kaum muda. Penelitiannya dilakukan pada tahun 2019.
Latar penelitiannya diangkat atas adanya kemajuan pesat dalam dunia kuliner, di mana ditemukan berbagai inovasi kuliner yang disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan pasar, menjadikan makanan tidak hanya sebagai kebutuhan primer tetapi juga sebagai bagian dari transformasi budaya.
Bagi Qur’aniyah, budaya kuliner telah mengakar dalam masyarakat selama bertahun-tahun dengan kekhasan yang berbeda di setiap wilayahnya. Kekhasan kuliner demikian kemudian masyhur, karena kelompok muda.
Kaum muda-mudi memiliki kecederungan memotret makanan dan membagikannya melalui akun Instagram mereka, dengan menampilkan informasi tentang makanan serta momen saat bersantap dengan cara yang menarik. Selain pemilihan gambar, informasi tentang lokasi, harga, dan ulasan rasa makanan juga kadang disertakan dalam unggahan mereka.
Qur’aniyah melihat fenemone demikian di atas dengan teori “practice of everyday life” oleh de Certeau (1988) untuk menganalisis bagaimana individu menghadapi kepentingan kapital melalui pengalaman sehari-hari? Jadi, kaum muda dalam penelitian ini berperan sebagai konsumen yang aktif, pasif, kreatif, dan reaktif dalam memenuhi selera mereka
Qur’aniyah meneliti bisnsi kuliner di Kabupaten Jember sendiri. Fokusnya adalah akun-akun makanan di Instagram yang memiliki banyak pengikut serta kaum muda yang aktif mengunggah foto makanan.
Temukan penelitiannya menejelaskan bahwa kaum muda menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mengekspresikan selera dan gaya hidup konsumsi kuliner, menciptakan lintasan kuliner yang meliputi kuliner lampau, kekinian, campuran, hingga rumahan.
Dengan mengunjungi tempat kuliner kekinian, mengabadikannya dalam foto, dan membagikannya melalui Instagram, mereka menciptakan representasi selera. Bahkan juga membentuk budaya populer mereka sendiri.
Hal demikian ini sesuai dengan konsep de Certeau tentang praktik sehari-hari dalam menciptakan selera dan gaya hidup konsumsi masyarakat.