Frensia.id – Hajatan politik seperti Pilkada sewajarnya harus mejadi selebrasi demokrasi yang menyenangkan. Ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpin dengan tenang, berdasarkan pilihan yang rasional serta keputusan matang sesuai hati nurani. Namun, mendekati hari pemungutan suara, publik digegerkan oleh tragedi berdarah, pilkada yang merenggut nyawa, seperti yang terjadi di Sampang, Madura.
Gelaran demokrasi yang semestinya menjadi ajang merayakan keberagaman pilihan dengan riang gembira, disertasi gelak tawak, malah menjadi duka pilkada. Ini bukanlah cara yang tepat merayakan demokrasi. Siapapun harus bersepakat tidak ada pilkada seharga nyawa manusia.
Fenomena duka pilkada ini mencerminkan sebuah kecelakan besar dalam proses demokrasi tanah air, ekspresi politik bukan lagi tentang memilih pemimpin berdasarkan hati nurani, tetapi perjuangan hidup mati.
Seolah-olah melihat pilkada bukan sebagai medan kompetisi politik, melainkan semacam pertempuran jihad suci yang mengharuskan membela dengan segala cara, bahkan merenggut nyawa.
Pilkada adalah ajang memilih pemimpin. Sudah sepatutnya, masyarakat bisa memilih dengan hati lapang dan kepala dingin. Keberagaman pilihan adalah kenyataan demokrasi, tidak ada pilihan lain kecuali menghormati perbedaan pilihan.
Jangan biarkan dukungan terhadap calon tertentu menjadi sikap fanatisme yang membutakan akal sehat. Pilkada bukan soal membela agama atau keluarga, alih-alih soal politik mencari pemimpin untuk kebaikan bersama.
Jikapun ada dugaan kecurangan, diselesaikan dengan jalur hukum sesuai aturan negara. Masyarakat tak perlu merasa paling dirugikan, lantas terbawa emosi dan seluruh tenaga dikerahkan.
Selesaikan dengan prosedur kepada pihak yang berwenang. Tidak ada alasan untuk mengorbankan nyawa hanya persoalan membela calon tertentu.
Ada yang paling penting kenapa masyarakat tak perlu gegabah dalam persoalan politik, sampai menghilangkan nyawa. Hal yang mesti dipertimbangkan jika seseorang mengorbankan nyawa demi membela paslon, akibatnya tidak hanya merugikan dirinya tetapi keluarganya. Baik yang membunuh atau korban, semua sama-sama tidak diuntungkan.
Keluarga kedua belah pihak akan kehilangan segalanya, bukan satu atau dua tahu, sampai pemilihan pilkada kembali bahkan seumur hidup akan menjadi kenyataan pahit yang selalu diingat. Ditambah lagi, anak-anak kehilangan sosok orang tua terlebih ayah sebagai kepala rumah tangga, pasangan kehilangan pendamping hidup, tanggungjawab keluarga pun terabaikan.
Perlu disadari bersama, Pilkada bukan medan jihad membela harga diri keluarga, bukan pula agama. Dalam membela agama sekalipun, diharuskan menghindari membunuh, apalagi cuman sepele persoalan politik. Nyawa bukanlah harga yang pantas dibayar untuk memenangkan kompetensi politik.
Untuk itu, semua pihak, baik masyarakat, paslon, maupun tim sukses, terus saling mengingatkan dan mengkampanyekan tujuan utama pilkada: memilih pemimpin untuk kebaikan dan tujuan bersama, bukan mempertaruhkan nyawa demi kemenangan yang semu.
Jika tidak, tanah air ini akan terus melihat demokrasi tanpa makna, duka pilkada terulang kembali. Sebuah harapan yang tak diinginkan oleh siapapun. Semoga tak Terulang lagi.*