Frensia.id – Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) meluncurkan kritik tajam terhadap G7, menyebut kelompok ini berkembang menjadi kontraktor perang global.
Dalam komentar yang dipublikasikan pada 25 Oktober 2024, KCNA mengungkapkan bahwa pertemuan pertama kali para Menteri Pertahanan G7 di Napoli, Italia, baru-baru ini memicu kecaman luas karena dianggap memperparah ketegangan internasional.
KCNA menyatakan bahwa pertemuan tersebut, yang juga dihadiri oleh perwakilan Uni Eropa dan NATO, berada di bawah kendali Amerika Serikat dan menghasilkan pernyataan bersama yang berpotensi memecah-belah hubungan internasional.
Dalam pernyataan itu, G7 mengklaim bahwa ancaman terhadap keamanan global semakin besar, yang disebabkan oleh negara-negara berdaulat seperti Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), Rusia, dan Cina.
KCNA menilai tuduhan tersebut sebagai langkah gegabah yang hanya memperburuk konfrontasi antar negara.
Dibentuk pada tahun 1970-an, G7 awalnya bertujuan untuk mendorong pembangunan ekonomi negara-negara Barat.
Namun, menurut KCNA, penyelenggaraan pertemuan menteri pertahanan ini justru menunjukkan bahwa G7 telah menyimpang jauh dari misi awalnya.
“G7, yang tidak memiliki mandat untuk mewakili masyarakat internasional, secara terbuka mengklaim otoritas dalam menangani masalah keamanan global,” tulis KCNA.
Dalam rilisnya, KCNA menggambarkan kelompok tersebut kini lebih mirip dengan perkumpulan perang daripada kelompok ekonomi.
Menurut KCNA, tindakan ini mencerminkan standar ganda yang dijalankan G7.
Laporan tersebut juga menuduh G7 mencoba mempromosikan ketegangan Perang Dingin baru guna melanggengkan industri pertahanannya sendiri.
Dalam pandangan KCNA, dukungan G7 terhadap NATO di Semenanjung Korea hanya memperburuk ketegangan.
KCNA menyebut NATO, yang kerap melibatkan Korea Selatan dalam agenda-agenda anti-DPRK sejak 2022, sebagai perpanjangan tangan G7 dalam memperluas pengaruh militer AS di Asia.
KCNA lebih lanjut mengklaim bahwa AS, melalui G7, sedang membangun poros kekuatan untuk mendukung ambisi hegemoninya.
G7, yang dianggap beranggotakan negara-negara penjahat perang, berkolaborasi erat dengan NATO untuk mendukung konfrontasi militer di Asia dan Eropa.
“Barat mengklaim bahwa keamanan Asia dan Eropa tidak terpisahkan, upaya yang hanya akan menyulut konflik baru di kawasan-kawasan tersebut,” imbuh laporan tersebut.
Di tengah kecaman yang dilontarkan, KCNA memperingatkan bahwa upaya G7 untuk menekan hak-hak DPRK hanya akan membuat kelompok tersebut terjerumus lebih dalam dalam kontroversi global.
“Semakin putus asa G7 dalam menuduh kebijakan nuklir DPRK, semakin jelas perannya sebagai pengganggu perdamaian dunia,” jelas KCNA.
Komentar ini menyoroti semakin intensnya ketegangan internasional, terutama terkait upaya berbagai pihak untuk memperluas pengaruh politik dan militer di kawasan-kawasan strategis, seperti Asia dan Eropa.