Frensia.Id- Peluncuran program Home Care oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Fawait (Gus Fawait) terus mendapat respons positif.
Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Jember, David Handoko Seto, menyebut inovasi ini menjadi angin segar bagi warga kurang mampu.
Sistem pelayanan medis jemput bola door to door ini dinilai menjadi jawaban atas persoalan warga yang selama ini terkendala akses maupun biaya untuk berobat.
“Dengan diluncurkannya Home Care, maka masyarakat tidak mampu di Kabupaten Jember tidak perlu khawatir lagi,” katanya, Sabtu (25/7/2026).
David menjelaskan, efektivitas program ini nantinya bakal disokong oleh kolaborasi hingga tingkat tapak, mulai dari RT/RW, kepala desa, lurah, hingga para relawan agar pendataan pasien yang membutuhkan pertolongan bisa berjalan cepat.
“Bupati Jember memberikan keleluasaan kepada masyarakat, terutama teman-teman yang tidak terjangkau oleh layanan kesehatan di tempat-tempat terkecil atau karena kesulitan finansial maupun sarana prasarana. Dokter dan perawat yang akan datang mengunjungi masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, David berharap keberadaan Home Care mampu mengerek kualitas layanan kesehatan di Jember sekaligus menekan angka kematian melalui penanganan dini yang tepat sasaran.
Menurutnya, program ini membuat para tenaga kesehatan (nakes) lebih memahami kondisi riil pasien di lapangan.
“Ini saatnya mereka betul-betul memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Bagaimanapun, masyarakat adalah bagian penting dari NKRI,” paparnya.
Sebagai informasi, untuk memaksimalkan program Home Care ini, Pemkab Jember mengerahkan sekitar 1.200 tenaga kesehatan yang siap menerjunkan diri langsung ke rumah warga. Selain menyediakan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis, pasien yang membutuhkan rujukan atau tindakan lanjutan bakal terhubung langsung dengan dokter via telemedicine.
Tak main-main dalam hal operasional, Pemkab Jember menyiapkan 10 armada baru Home Care.
Selain itu, sebanyak 40 kendaraan dinas milik Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan kecamatan turut dialihfungsikan menjadi armada pelayanan kesehatan keliling sekaligus sarana antar-jemput pasien.






