Frensia.id- Kolaborasi riset antara para peneliti Indonesia dan Jepang telah menemukan ancaman besar dari paparan merkuri di Indonesia. Tim peneliti yang terdiri dari Syafran Arrazy, Pyae Sone Soe, Randy Novirsa, Bambang Wispriyono, Tetsuro Agusa, Yasuhiro Ishibashi, dan Jun Kobayashi mempublikasikan hasil temuan mereka di J Stage, Jepang, pada tahun 2024.
Penelitian ini menggambarkan kadar merkuri total (THg) di lingkungan—termasuk udara, tanah, air, sedimen—serta dalam makanan dan rambut masyarakat Indonesia.
Merkuri (Hg) merupakan logam berat berbahaya yang banyak dilepaskan dari aktivitas manusia seperti penambangan emas skala kecil (PESK), pembakaran batu bara, serta limbah industri. Sekali dilepas, merkuri bisa bertahan lama di lingkungan dan terakumulasi di rantai makanan. Hal ini berisiko besar bagi kesehatan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah yang terpapar tinggi.
Studi ini didasarkan pada tinjauan 1.051 penelitian dari berbagai sumber seperti PubMed, Scopus, dan database lokal. Dari jumlah tersebut, 54 studi dipilih karena memenuhi syarat—dilakukan di Indonesia, tersedia dalam bahasa Inggris atau Indonesia, serta berasal dari jurnal terpercaya.
Hasilnya? Konsentrasi merkuri tinggi ditemukan di beberapa wilayah dengan aktivitas PESK dan industri semen. Di banyak tempat, kadar merkuri jauh melampaui ambang batas aman. Peneliti menyerukan tindakan segera untuk mengatasi kontaminasi ini, terutama di daerah PESK, guna melindungi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Dampak Serius Merkuri bagi Kesehatan
Penelitian ini mengingatkan bahwa paparan merkuri bukanlah hal sepele. Logam ini bisa merusak berbagai organ tubuh, seperti ginjal, otak, paru-paru, mata, dan kulit. Bahkan, paparan jangka panjang dapat memicu kanker dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Selain itu, tanah dan tanaman yang tercemar merkuri dapat membawa racun ini ke dalam tubuh manusia saat dikonsumsi, meningkatkan risiko paparan lebih lanjut.
Di berbagai wilayah PESK, paparan merkuri menjadi sangat berbahaya karena teknologi penambangan yang masih tradisional dan kurang memperhatikan dampak lingkungan. Merkuri juga mencemari udara, tanah, air, dan sedimen, menjadikannya ancaman serius yang harus diatasi segera.
Langkah Nyata untuk Masa Depan
Para peneliti berharap temuan ini bisa menjadi panduan bagi pembuat kebijakan di Indonesia untuk mengambil tindakan nyata dalam mengurangi paparan merkuri. Pengendalian ketat terhadap emisi merkuri dari aktivitas manusia, terutama di sektor penambangan emas skala kecil dan industri besar, sangat diperlukan. Kerja sama antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencari solusi yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara akademisi Jepang dan Indonesia menunjukkan bahwa kerja lintas negara dapat memberikan dampak besar bagi penanganan masalah lingkungan. Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan untuk memahami seberapa luas dampak merkuri ini dan bagaimana cara terbaik untuk melindungi ekosistem serta kesehatan masyarakat di Indonesia.