Frensia.Id- Ribuan warga dari berbagai daerah menyemut di area situs benteng peninggalan Jepang, Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Jember.
Mereka antusias menyaksikan aksi ratusan pendekar yang saling adu ketangkasan dalam Festival Ojung untuk memeriahkan HUT ke-81 RI.
Suasana riuh dan teriakan penonton tak terelakkan saat para petarung mulai mengayunkan sabetan rotan secara bergantian. Tradisi ini mempertemukan pendekar asal Jember dan Lumajang.
Ketua Panitia Festival Ojung, Iwan, menyebut tradisi ini digelar sebagai langkah konkrit. Guna menjaga warisan leluhur agar tidak punah ditelan zaman.
“Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta dari dua kabupaten. Ini jadi agenda tahunan kami untuk terus nguri-nguri budaya lokal agar tetap lestari,” kata Iwan di sela-sela acara, Senin (31/8/2026).
Iwan meluruskan persepsi masyarakat yang selama ini menganggap seni Ojung. Hanya dilaksanakan saat musim kemarau panjang.
“Masyarakat kebanyakan tahunya kegiatan Ojung ini digelar cuma untuk meminta hujan pada saat kekeringan. Padahal tidak selalu begitu. Di Desa Cakru, kami kemas rutin setiap tahun sebagai ajang festival budaya dan perlombaan,” ujarnya.
Tak hanya menyuguhkan pertunjukan seni bela diri tradisional. Ajang ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi sejarah benteng peninggalan Jepang yang ada di desa tersebut.
“Melalui festival ini, kami ingin mengangkat situs peninggalan Jepang di Desa Cakru sebagai destinasi wisata heritage yang bernilai sejarah tinggi,” ungkap salah satu pengurus Pokdarwis Desa Cakru, Yadi, di lokasi acara.
Dampak positif dari ramainya pengunjung yang memadati lokasi acara turut dirasakan langsung. Oleh para penggerak ekonomi lokal dan wisatawan luar daerah.
“Acaranya cukup luar biasa. Selain sebagai ajang pengenalan wisata heritage di desa ini, keramaian festival Ojung juga sangat membantu meningkatkan pendapatan UMKM warga sekitar,” tutur salah seorang pengunjung asal Lumajang, Ferlita.







