Frensia.Id- Sebuah rumah kosong di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Jember, ludes terbakar. Peristiwa ini geger lantaran rumah tersebut tercatat sudah mengalami kebakaran secara misterius hingga delapan kali dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Petugas Pemadam Kebakaran, Misbahul Munir, menjelaskan kesaksian dari pihak keluarga pemilik rumah mengenai awal mula timbulnya api sebelum akhirnya merambat luas. Kata dia, munculnya api dari sela-sela lantai keramik sebuah rumah kosong.
“Kalau kita melihat itu memang dari bawah keramik-keramik itu, keluarganya melihat kalau keluar dari sela-sela keramik gitu loh. Terus terkena ke kursi, terkena ke kasur, akhirnya menjadi semakin besar,” katanya, pada Selasa (13/10/2026), siang hari.
Munir menjelaskan bahwa kemunculan titik api secara tak lazim dari lantai keramik ini kerap memicu spekulasi mistis di tengah masyarakat. Namun, pihak pemadam kebakaran menduga ada unsur kandungan gas alami di bawah struktur bangunan tersebut.
“Warga sekitar bahkan mengiranya rumah itu ada yang ngirim, tapi kalau dari logika kita, sepertinya rumahnya itu mengandung gas kayaknya karena sering terbakar sendiri di beda-beda tempat,” ujarnya.
Munir menjelaskan, rumah tersebut juga pernah mengalami kebakaran pada 30 Maret lalu. Namun peristiwa yang terjadi pada Senin (12/10) itu, menjadi insiden paling parah dibanding kejadian-kejadian sebelumnya.
“Kemarin info masuk diterima sekitar jam 08.45. Tiba di lokasi jam 09.00 kurang 5 menit kita langsung melakukan proses pemadaman. Alhamdulillah lancar karena dibantu masyarakat dan Polsek,” paparnya.
Kendati aliran listrik sudah terputus saat pemadaman berlangsung, kobaran api telanjur membumihanguskan seluruh isi rumah yang sudah lama dipasangi papan pengumuman dijual tersebut.
“Hampir semuanya terbakar habis, tinggal kasur, kursi, meja, sampai dapur habis semua. Ini yang paling besar sampai atasnya habis, tinggal tembok-temboknya sama genteng-gentengnya jatuh,” tambahnya.
Sebab rumah dalam kondisi tidak berpenghuni, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Kendati demikian, kerugian materiil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
“Ini sudah sekitar delapan kali kita melakukan pemadaman ke situ dalam kurun waktu satu tahun lebih. Kalau kerugian yang terakhir ini sekitar Rp 200 juta,” tandasnya.






