Modal Pilkades

Sunday, 17 May 2026 - 19:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber Gambar: Ilustrasi AI Gemini

Sumber Gambar: Ilustrasi AI Gemini

Frensia.id- Inti dari orang kaya tidak lain adalah mempunyai harta berlimpah-ruah. Seseorang bisa disebut lebih kaya dari yang lain apabila ia memiliki harta lebih banyak. Sederhananya begitu. Adapun rumitnya, orang kaya itu ketika kuantitas harta yang dimiliki sudah bisa memenuhi imajinasi tak terbatas dalam pikirannya untuk bisa dibeli. Definisi terakhir ini tidak hanya sukar dalam format logikanya, tetapi seorang konglomerat yang menerapkan arti ini dalam kehidupannya akan dibuat susah payah. Sebab ia mesti merasa kurang dikarenakan angan-angan yang pasti tidak bisa dibatasi.

Dari abad ke abad, beberapa orang yang menguasai ekonomi mempunyai sumber yang berbeda-beda. Seperti halnya John D.Rockfeller, ia menjadi orang pertama terkaya di Amerika dengan melakoni usaha di bidang minyak. Mendirikan perusahaan bernama Standard Oil. Dari Rockefeller bisa disimpulkan kalau orang kaya adalah yang menguasai hasil bumi dimana menjadi komoditas masyarakat luas tanpa terkecuali.

Ada pula orang kaya itu dianggap kaya apabila mampu mendanai perang. Seperti halnya keluarga Rothschild. Keturunan Yahudi Jerman yang hidup di abad 18 ini bergerak di bidang perbankan. Mereka memberikan pinjaman kepada negara-neraga Eropa untuk perang melawan Napoleon.

Sama halnya dengan itu, di Indonesia para Taipan dari etnis Tionghoa atau dari mereka yang bergelar haji, tidak bisa dilepaskan dengan sepak terjang politik yang terjadi. Dalam melancarkan kepentingan bisnisnya maka mereka tidak bisa tidak memberikan kontribusi kepada elit politik. Usaha mereka pun bermacam-macam, ada yang bergerak di industri pangan, papan, sandang, tambang, kesehatan, rokok, kebun sawit dan sebagainya.

Baru pada tahun-tahun ini, ada gelombang baru yang memberikan sebuah lanskap mengenai definisi orang kaya, yakni mereka yang memeiliki dapur MBG. Masyarakat secara eksplisit akan memberi gelar tetangganya yang tiba-tiba membangun sebuah dapur dengan puluhan karyawan itu. cara melihatnya tidak sekedar berapa penghasilan per-hari ketika memiliki SPPG, melainkan juga modal yang dibutuhkan untuk membangun, peralatan dapur dan mobil. Tambah lagi adanya kekuatan jaringan yang belum tentu orang biasa memiliki.

Baca Juga :  Pilkades 2027 Pakai Dana Swadaya, Anggota DPRD Jember: Rentan Konflik Kepentingan

Jadi orang kaya, sebagaimana tersebut adalah mereka yang mempunyai sistem ekonomi yang telah terorganisir secara mandiri dan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang nantinya bisa membuat orang lain berkata,”mau dibuat apa uang segitu banyaknya, berangkat ke Mekkah sudah terus mau apa lagi…”

Beda orang, beda pendapat mengenai definisi kekayaan. Penulis buku laris The Psychology of Money, Morgan Hussel memberikan definisi di luar mainstream yang diketahui mayoritas orang. Sebelumnya ia membedakan antara kaya dan kekayaan. Kaya menurutnya adalah punya tabungan senilai $ 100.000, rumah ikonik yang tiangnya sebesar Parthernon Yunani, harga mobil setara APBDES satu periode seorang Kades. Itu semua tampak, adapun cara memperolehnya dari hutang ke Bank karena ingin pamer, sudah lepas dari itu semua ia akan disebut kaya.

Sedangkan untuk kekayaan adalah apa yang anda tak lihat. Jadi kekayaan adalah pilihan yang belum diambil untuk membeli sesuatu kelak. Nilai kekayaan berada di pemberian pilihan, keluwesan dan pertumbuhan agar kelak bisa membeli lebih banyak barang daripada yang dapat di beli sekarang, demikian penjelasan Hussel.

Ambil contoh seperti ini, seseorang punya total kekayaan senilai 1,5 Milyar berupa saldo tersisa di rekening, sawah bersertifikat, mobil yang memiliki pajak tahunannya sekitar dua jutaan dan sepedah motor kondisi lengkap hidup. Hari dimana ketika ia memiliki itu semua berarti orang tersebut memiliki kekayaan dengan nilai sebagaimana tertera. Ia mempunyai kebebasan dan keluwesan dalam hidup untuk bisa memilih. Setidaknya batasan dirinya dalam mimilih dipatok angka kesejahteraan yang dimiliki. Secara logika dapat dibenarkan bahwa ia lebih sekahtera karena kekayaan yang dimiliki daripada seseorang yang hanya memiliki kekayaan senilai 500 juta.

Baca Juga :  Apa Benar Budaya Baca Indonesia Sudah Meningkat?

Sebab kekayaan memberikan dirinya keluwesan memilih di masa yang akan datang, orang dengan nilai kekayaan 1,5 M akhirnya menjatuhkan pilihan dengan berikhtiar sebagai calon kades pada tahun yang akan datang. Mulailah ia menjual aset yang dimiliki, pertama dari sawah. Mendekati masa kampanye, mobil ikut terjual hingga isi rekening juga ludes, tinggal sepedah motor satu-satunya dan tempat tinggal yang belum terhitung dalam jangkauan nilai kekayaan. Kekayaan yang tersembunyi akibat kebebasan memilih yang salah bisa membuat seseorang melarat. Sebagaimana orang dengan nilai kekayaan 1,5 M tersebut. Lebih-lebih mengingat kekayaan yang dimiliki dan bersifat tersembunyi itu apabila digunakan untuk maju ke medan laga politik, antara yang menang dan yang kalah sama-sama ludes.

Hanya saja apabila menang ia berhasil mengconvert kekayaan yang dimiliki berupa modal Pilkades dengan kekuasaan. Dari tahta orang nomor satu di desa ia memiliki aset memperoleh kehormatan dari banyak orang. Ribuan orang mengenalnya sedangkan dirinya tidak bisa mengenal mereka yang mengenalnya. Menarik sekali kalau menang. Beda lagi dengan yang kalah, sudah tidak punya judul cerita.

Dari aset baru berupa kekuasaan yang dimiliki apa bisa di sepadankan dengan nilai sawah, mobil dan isi rekening yang telah hilang atau setidaknya modal persilatan politik bisa kembali, itu jelas urusan lain. jika tidak bisa mengembalikan dalam wujud yang sama lagi sebagaimana dulu, maka sangat mungkin seorang kades dengan modal 1,5 M itu tidak bisa memilihkan untuk dirinya sebagai kandidat lagi. Artinya ini jenis dekadensi aset.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Kiprah Politik sang Gladiator
Gelagat Menjelang Pilkades
PR Presiden! Catatan Jahat “Oknum” TNI 2 Tahun Terakhir
Apa Benar Budaya Baca Indonesia Sudah Meningkat?
Prosedur Mayoritarian
Ramadhan dan Revolusi Spiritual
Konflik Amerika-Iran di Mata Masyarakat Awam
Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga “Lenyap” Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal

Baca Lainnya

Sunday, 17 May 2026 - 19:48 WIB

Modal Pilkades

Wednesday, 13 May 2026 - 18:45 WIB

Kiprah Politik sang Gladiator

Sunday, 10 May 2026 - 19:04 WIB

Gelagat Menjelang Pilkades

Friday, 3 April 2026 - 23:51 WIB

PR Presiden! Catatan Jahat “Oknum” TNI 2 Tahun Terakhir

Sunday, 29 March 2026 - 15:07 WIB

Apa Benar Budaya Baca Indonesia Sudah Meningkat?

TERBARU

Sumber Gambar: Ilustrasi AI Gemini

Kolomiah

Modal Pilkades

Sunday, 17 May 2026 - 19:48 WIB

Suasana saat acara Karnaval SCTV berlangsung (Foto: Sigit/Frensia).

Entertainment

Karnaval SCTV 2026 Kembali Guncang Alun-Alun Jember

Saturday, 16 May 2026 - 19:40 WIB

Ilustrasi Ai untuk gambar Adakah Potensi Kasus Nadiem Diputus Bebas.

Opinia

Adakah Potensi (Kasus) Nadiem Diputus Bebas?

Friday, 15 May 2026 - 21:31 WIB