Gelagat Menjelang Pilkades

Sunday, 10 May 2026 - 19:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

demokrasi. Sumber gambar: AI.

demokrasi. Sumber gambar: AI.

Frensia.id- Menjelang Pilkades yang akan segera diselenggarakan, masyarakat semakin hobi melakukan ghibah. Anehnya aktivitas ghibah yang biasanya dibahasakan oleh kaum perempuan sebagai nge-gosip, dilakukan oleh kaum pria. Seperti halnya saat melakukan takziyah seorang berbisik-bisik di dekat telinga kawannya, “mulai kapan si Z itu jadi faham sholat jenazah, biasanya kalau ada yang meninggal nggak pernah kelihatan batang hidungnya.” Kawan yang dibisiki itu tidak memberikan respon apapun, sekedar berseloroh, “mana si Z yang kamu maksudkan itu?” pertanyaan ini juga mengandung dua jawaban, pertama bahwa si Z yang tidak pernah takziyah atau si kawan tersebut yang tidak pernah takziyah.

Lebih lanjut cerita menjelang Pilkades, ternyata tidak sampai disitu. Selama tujuh hari berturut-turut si Z yang dianggap aneh karena kelihatan takziyah juga ikut tahlil secara istiqomah dan kaffah full. Bahkan umumnya orang mengikuti tahlil adalah berdasarakan zonasi terdekat, kalau cukup jauh maka cukup diwakili oleh tetangga yang dekat saja. beda lagi ceritanya kalau masih punya hubungan kerabat jauh-dekat sama saja. Sedang peristiwa si Z dianggap aneh, karena kerabat bukan sedangkan lokasi rumah cukup jauh, mungkin kalau ikut takziyah bisa ditolerasi untuk tidak disebut aneh. Tetapi saat tahlil selama tujuh hari ia selalu duduk di dekat pengeras suara, seolah memberikan sinyal agar dirinya lah yang ditunjuk membaca surat yasin atau apapun, yang penting suaranya didengar oleh seluruh jamaah yang hadir.

Tidak berhenti sampai disini, segalanya bercerita karena menjelang Pilkades. Si Z juga turut datang di kegiatan walimatul urusy di seluruh lokasi yang ada di desanya. Padahal sama-sama diketahui kalau datang ke kegiatan walimatul urusy, sesuai tata nilai yang berkembang di masyarakat harus bawa amplop yang ada isinya. Umumnya orang, semisal bulan Syawal saat banyak yang menikah kemudian banyak dapat undangan untuk menghadiri maka akan banyak mengeluh. Mau tidak hadir tetapi kawan dekat. Mau hadir tetapi rogohan kocek sudah terlalu dalam. Beda lagi cerita bagi si Z ini, ia hadir di seluruh pesta pernikahan yang ada. Jelas bawa amplop yang telah diisi. Adapaun warna dari isinya sendiri hanya Tuhan, si Z dan tuan rumah yang tahu setelah membaca nama yang tertulis di amplop tersebut.

Baca Juga :  Pilkades 2027 Pakai Dana Swadaya, Anggota DPRD Jember: Rentan Konflik Kepentingan

Tidak cukup menghadiri pesta pernikahan dengan duduk, makan, senyum-senyum dan bercengkerama secara santun dengan siapapun yang ditemui, si Z tidak tanggung-tanggung ia juga unjuk gigi untuk naik ke pentas menyumbangkan sebuah lagu berduet dengan biduan. Mengingat biasanya di pesta pernikahan tuan rumah juga menghadirkan musik elekton. Ia bernyanyi layaknya artis papan atas, tidak ada gugup, gerogi apakah suaranya enak atau tidak urusan paling akhir. Yang penting suara ditarik. Si biduan beruntung sekali, bisa berduet dengan orang semacam ini. karena setelah menyanyi pasti dapat saweran. Minimal yang berwarna biru kalau sedang beruntung berwarna merah.

Tanggapan tamu undangan yang hadir juga beraneka ragam. Ada yang bilang, “wah …dapat saweran warna biru sama dengan rok yang diapakai.” Tamu undangan yang biasa teriak-teriak dan celometan ada juga yang bilang, “merah pak…merah…” diucapkan ketika melihat si Z ini sudah mulai mengeluarkan dompetnya.

Siapakah si Z ini? sekalipun sekarang segala informasi super cepat dengan adanya berbagai platform media, tidak hanya mengandalkan gosip mulut dari mulut ibu-ibu saat belanja di pagi hari. Semua orang yang merasa aneh pasti bisa menebak bahwa ia adalah sosok yang sedang mendelegasikan dirinya untuk mengikuti Pilkades pada tahun mendatang. Sebab tidak mungkin orang yang jarang takziyah, tahlil bisa rajin bahkan di seluruh penjuru desa. Pertanyaan selanjutnya apakah salah seseorang yang hendak nyalon secar tiba-tiba berubah 360 derajat. Menurut salah seorang pemikir dari Jerman bernama Nietzsche tidak juga. Karena ia sedang mengejawantahkan secara utuh kehendak akan berkuasanya.  Ini merupakan energi hidup paling dasar, yang sebenarnya tidak bisa direduksi sekedar keinginan untuk duduk di tampuk kekuasaan dan mendapatkan penghormatan dari orang banyak. Melainkan cara seseorang untuk tumbuh seperti pohon Trembesi dipinggir jalan, batangnya melebar, dahan dan rantingnya terus berlipat ganda seolah hendak mencengkeram langit padaha sekedar mengikuti cahaya, akarnya terus menghujam ke dasar bumi, seolah hendak menggenggamnya.

Baca Juga :  PR Presiden! Catatan Jahat "Oknum" TNI 2 Tahun Terakhir

Apapun basicnya si Z ini adalah contoh orang yang ingin tumbuh dan melampaui dirinya dari masa lalunya yang telah lewat. Sekalipun aneh benar kalau tidak pernah tahlil dan takziyah tiba-tiba aktif. Tetapi jika tidak demikian, berdasarkan prosedur demokrasi harus memenangkan hati rakyat paling banyak dibanding kompetitornya yang lain. maka cara paling jitu ya harus dikenal oleh masyarakat dengan cara apapun. Termasuk menghadiri kegiatan-kegiatan yang bersifat ada himpunan orang banyak.

Seperti yang telah diracik oleh Profesor Ilmu Politik Harvard, Samuel Philips Huntington, yang mengharuskan adanya partisipasi publik secara penuh dari orang dewasa. Semakin tinggi partisipasinya maka semakain baik mutu demokrasinya. Sedangkan si Z ini benar-benar berkontribusi dalam mutu Demokrasi di Indonesia dalam tingkatan Pilkades. Karena apabila ada pemilih yang lebih memilih untuk golput disebabkan tidak tahu atau tidak kenal calon (sebagaimana argumentasi yang terjadi dalam pemilihan legislatif) sudah ditanggulangi oleh si Z ini.

Jika ternyata si Z ini kalah dalam kontestasi, kembali seperti yang dikatakan oleh Huntington harus legowo, namanya aja kompetisi. Setidaknya ia sudah berkontribusi sebagai calon sehingga mematahkan kemungkinan adanya satu kandidat. Bagi profesor Harvard itu, yang namanya Demokrasi harus bersaing beneran, nggak boleh pemilihan pura-pura.

Masalah setelah kalah tidak rajin takziyah, tahlil dan menghadiri walimatul urusy terserah sudah, itu kembali kepada minat pribadi. Tetapi kalau sampai lanjut sedangkan Pilkades lagi masih jauh, itu bukan lagi efek dari hasrat melainkan sepertinya dapat hidayah akibat jadi kandidat. Sehingga Pilkades yang ia ikuti beneran barokah.         

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

PR Presiden! Catatan Jahat “Oknum” TNI 2 Tahun Terakhir
Apa Benar Budaya Baca Indonesia Sudah Meningkat?
Prosedur Mayoritarian
Ramadhan dan Revolusi Spiritual
Konflik Amerika-Iran di Mata Masyarakat Awam
Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga “Lenyap” Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal
Ketika Usaha Mengkhianati Hasil
Mencari Saruman dan Sauron dalam Konflik PBNU

Baca Lainnya

Sunday, 10 May 2026 - 19:04 WIB

Gelagat Menjelang Pilkades

Friday, 3 April 2026 - 23:51 WIB

PR Presiden! Catatan Jahat “Oknum” TNI 2 Tahun Terakhir

Sunday, 29 March 2026 - 15:07 WIB

Apa Benar Budaya Baca Indonesia Sudah Meningkat?

Tuesday, 24 March 2026 - 23:33 WIB

Prosedur Mayoritarian

Friday, 27 February 2026 - 13:59 WIB

Ramadhan dan Revolusi Spiritual

TERBARU

demokrasi. Sumber gambar: AI.

Kolomiah

Gelagat Menjelang Pilkades

Sunday, 10 May 2026 - 19:04 WIB