FRENSIA.ID – Prosesi pelantikan Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Jember masa khidmat 2025-2029 resmi digelar. Dalam acara ini Izzul Ashlah mengajak tirakat dengan memperluas pikiran.
Momentum ini menjadi tonggak sejarah baru bagi pergerakan pemuda Nahdlatul Ulama di Jember, di mana semangat regenerasi dan komitmen kebangsaan kembali dikukuhkan di hadapan para tokoh penting daerah dan ratusan kader yang hadir memadati lokasi.
Acara sakral tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Jember beserta tokoh muda berpengaruh, Gus Fawait, yang memberikan legitimasi moral dan dukungan penuh terhadap kepengurusan baru ini.
Tak hanya itu, soliditas organisasi terlihat jelas dengan hadirnya perwakilan dari berbagai Badan Otonom (Banom) dan lembaga di bawah naungan PCNU Jember. Antusiasme juga terpancar dari kehadiran perwakilan Pengurus Anak Cabang (PAC) dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Jember, yang datang untuk memberikan dukungan moril kepada para pemimpin baru mereka.
Dalam laporannya, Gus Fuad Akhsan, sebagai ketua panitia menegaskan bahwa struktur kepengurusan kali ini telah melalui proses seleksi dan pertimbangan yang matang. Ia menyebutkan bahwa formasi kepengurusan dirancang untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Ada 45 orang yang dilantik,” ucapnya.
Hal menarik dalam acara ini adalah pidato Izzul Ashlah, M. Akun, yang baru saja resmi dilantik sebagai Ketua Umum PC GP Ansor Jember.
Izul menegaskan posisi strategis Ansor dalam peta pembangunan daerah. Ia secara terbuka menyatakan komitmennya untuk membawa Ansor Jember bersinergi dengan pemerintah daerah demi kemaslahatan umat.
“Kami siap menjadi mitra strategis pemerintah Jember,” ungkapnya.
Ke depan, GP Ansor tidak hanya akan menjadi penonton, melainkan aktor aktif dalam menyukseskan program-program pembangunan.
Lebih jauh, Izzul Ashlah menekankan filosofi perjuangan yang mendalam kepada seluruh jajaran pengurusnya.
Ia mengingatkan bahwa masa khidmat ini adalah fase dedikasi, bukan fase untuk menikmati hasil instan. Dengan metafora pertanian, ia mengajak kader untuk berpikir visioner melampaui kepentingan pribadi sesaat.
“Ini masanya menanam, mungkin kita tidak akan memanen. Tapi anak cucu kita yang dapat menjadi pewaris,” ujarnya, menyentuh kesadaran kolektif para hadirin tentang pentingnya keberlanjutan perjuangan.
Baginya, warisan terbesar seorang kader Ansor bukanlah materi atau jabatan, melainkan nilai-nilai luhur yang ditanamkan di tengah masyarakat.
“Satu-satunya yang dapat diwariskan adalah perjuangan dan ideologi yang tak pernah luntur untuk mengabdi pada masyarakat,” pungkasnya.
Sebagai penutup yang kuat, Izzul mengajak seluruh elemen Ansor untuk melakukan kontemplasi dan kerja keras yang dibarengi dengan wawasan intelektual.
“Marilah bertirakat dengan pikiran yang luas,” tambahnya.







