Pilkada Dan Wangsit Alisa Wahid: Rakyat Bersitegang, Politisi Tersenyum Lebar

Sabtu, 7 September 2024 - 13:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), apapun bentuknya wali koda, bupati dan Gubernur semestinya jadi pesta demokrasi rakyat. Sayangnya, sering kali yang berpesta justru para politisi, sementara rakyat bersitegang. Dalam seruannya kepada NU Online pada 6 September 2024, Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, mengingatkan supaya masyarakat tidak terjebak oleh permainan politik para politisi yang menyebabkan benturan antara masyarakat.

“Jangan sampai gara-gara Pilkada, terjadi benturan antara masyarakat yang sebenarnya merupakan bagian dari permainan politik para politisi”. Katanya. Tapi, apakah rakyat mendengar?

Faktanya, di lapangan, sering kali disuguhkan pemandangan yang sebaliknya. Pilkada bak ajang pertarungan gladiator, alih-alih bahagia layaknya sebuah pesta, rakyat justru beradu argumen, bahkan tak jarang adu fisik, membela jagoannya masing-masing, kayak sedang berjihad fi sabilillah. Ironisnya, jika calon yang dibela lebih sibuk mengumpulkan dukungan ketimbang memperjuangkan nasib mereka.

Sementara rakyat bersitegang, politisi dengan senyum lebar menyaksikan dari dibalik layar, seraya menghitung suara yang kian menumpuk. Seperti yang dikatakan Alissa Wahid hal demikian merupakan bagian dari permainan poltik hanya untuk mendapatkan dukungan suara.

Mengapa rakyat begitu mudahnya terbuai? Karena politisi tahu satu hal yang pasti, rakyat adalah makhluk emosional. Bicara soal agama, suku atau identitas lainnya, rakyat seketika bara emosinya menyala-nyala.

Ditengah realitas yang demikian, Alissa Wahid berharap para politisi tidak menggunakan sentimen-sentimen yang memecah belah kelompok masyarakat hanya untuk mendapatkan dukungan suara. Namun, harapan tinggallah harapan, karena siapa yang bisa menolak godaan kursi kekuasaan? Apapun caranya kadang tidak begitu dihiraukan asalkan gol dan tercapai.

Baca Juga :  Koalisi Permanen, Jalan Terjal Demokrasi

Jangan sampai terjadi rakyat sibuk mempertahankan calonnya, lalu memandang tetangganya sebagai lawan karena beda waran spanduk. Memiliki jago-jagoan masing-masing, silahkan. Mempertahankan mati-matian, Jangan. Apalagi mempertaruhkan kerukunan yang sudah terbangun sejak lama.

Rakyat tentunya sudah paham, pasca pilkada selesai, para politisi tak selamanya menjadi oposisi, parpol pengusung masing-masing calon yang bertikai dalam Pilkada biasanya hidup berdampingan. Apalagi ‘kursi empuk’ mereka duduki, tak jarang politisi yang tadinya bermusuhan kembali bersalaman. Biasanya menggunakan “atas nama”, atas nama kebaikan bersama, atas nama keberlanjutan pembangunan dan lain sebagainya.

Seperti kata Putri Sulung Presiden Ke 4 Abdurrahman Wahid (Gur Dur), Pilkada hanya bagia dari dinamika politik rutin. Hanya saja, cukup disayangkan rakyat masih belum belajar agar tidak terbawa arus. Saat pesta demokrasi pilkada selesai, harusnya usai juga riak-riak pertentangan itu.

Masyarakat yang pernah bersitegang tetap harus bertemu setiap hari di rawung kopi, di pasar, atau di depan rumah. Persis seperti para politisi mereka harus tersenyum lebar, bedanya politisi tersenyum lebar atas kursi kekuasaan, sementara rakyat sumringah perhelatan pilkada telah usai tanpa terlalu terbakar emosi.

Rakyat harus berhenti bermain sebagai pemain dalam drama politik yang belum maksimal atau tidak pernah memberikan keuntungan mereka. Cukup para politisi tersenyum lebar, tetapi pastikan senyum para politisi itu tidak berdiri di atas keretakan hubungan antara saudara, tetangga, teman dan masyarakat yang sama-sama statusnya sebagai pemilih.

Baca Juga :  Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Kenapa mesti bersikap demikian ? Seperti ajakan Alisa Wahid, politisi akan kembali bersatu setelah semua proses pilkada selesai. Lalu masihkah masyarakat tetap tidak mau memperbaiki hubungan yang sudah pecah akibat pilihan yang hanya sementara ? Tentu jawabannya tidak mau. Jalinan kerukunan dan kedamaian di masyarakat adalah harta yang paling berharga.

Selain itu, saat pilkada usai, masyarakat tetap akan kembali seperti apa adanya, mereka harus bekerja sendiri dan menghidupi kehidupannya sendiri. Hal yang penting diingat, ketika ada persoalan genting, mereka yang paling bisa diandalkan adalah sesama masyarakat, bukan politisi. Jadi, apakah layak menggadaikan kerukunan demi sebuah pilihan yang sifatnya tidak permanen?

Jawabannya jelas tidak. Sebab saat musim politik berlalu, yang benar-benar berarti adalah bagaimana menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang dekat sebelum pilkada dimulai, baik saudara, famili, temen dan masyarakat sekitar. Kerena merekalah yang akan ada dan membantu disaat masalah besar datang mengetuk Pintu.

Kesemuanya, menjaga kerukunan masyarakat saat pilkada tergantung pada sikap para politisi. Secara Implisit, pesan moral Alisa Wahid mencakup tim sukses, sebab mereka adalah bagian integral dari proses kampanye dan strategi politisi.

Jika mereka bijak dan tidak memainkan sentimen yang memecah-belah, rakyat pun tak perlu bersitegang. Pilkada sifatnya sesaat, tetapi kerukunan adalah warisan yang harus tetap utuh. Semoga*

*Moh. Wasik (Anggota Dar Al Falasifah, dan Pengagum Gus Dur)

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan
Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi
Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 
Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi
Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik
Menjaga Alam, Merawat Kehidupan
Koalisi Permanen, Jalan Terjal Demokrasi

Baca Lainnya

Rabu, 2 April 2025 - 13:20 WIB

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Jumat, 21 Maret 2025 - 23:34 WIB

Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi

Kamis, 20 Maret 2025 - 22:06 WIB

Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 

Rabu, 19 Maret 2025 - 05:57 WIB

Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi

TERBARU

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB

Ilustrasi idul fitri 1446 H

Opinia

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Rabu, 2 Apr 2025 - 13:20 WIB