Frensia.Id– Tepat hari ini, Jumat (20/2/2026), genap satu tahun masa kepemimpinan Bupati Jember Muhammad Fawait bersama Wakil Bupati Djoko Susanto. Dalam momen refleksi setahun menjabat, Bupati Fawait mengungkap krisis besar yang harus dihadapi pada awal masa tugasnya.
Bupati Fawait mengungkapkan bahwa saat pertama kali dilantik. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember terhimpit beban utang di tiga rumah sakit daerah yang mencapai Rp 214 miliar.
“Saya kaget, baru hitungan minggu setelah dilantik, rumah sakit kita hampir kolaps. Kas terbatas, utang belum lunas, bahkan ada ancaman penghentian suplai barang medis,” katanya, Jum’at (20/2/2026).
Selanjutnya kata dia, kondisi tersebut diperparah dengan krisis stok oksigen yang saat itu diprediksi hanya mampu bertahan selama 15 hari. Selain itu, sektor investasi juga jalan di tempat karena aksesibilitas yang rendah, seperti tidak adanya akses tol dan bandara yang belum beroperasi optimal.
“Apakah saat itu saya hanya saling menyalahkan? Tidak. Saya tidak mau begitu karena sekarang Bupatinya adalah saya,” ujarnya.
Menghadapi kebuntuan tersebut, pria yang karib disapa Gus Fawait itu memprioritaskan penyelesaian krisis kesehatan sebagai kebutuhan dasar masyarakat. Dia mengambil langkah berani dengan memangkas anggaran yang dianggap tidak menyentuh rakyat.
“Saya panggil ahli hukum, kesehatan, dan ekonomi. Sesuai instruksi Presiden untuk efisiensi, anggaran mobil dinas Bupati saya batalkan. Semua anggaran yang tidak berdampak langsung ke masyarakat, saya alihkan,” paparnya.
Hasil efisiensi tersebut dialokasikan untuk program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas. Meski sempat terkendala keterbatasan APBD murni, Fawait melakukan lobi intensif ke pemerintah pusat dan BPJS Kesehatan.
“Hasilnya adalah masyarakat bisa berobat gratis hanya dengan KTP tanpa perlu Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), hak gaji dan Jasa Pelayanan (Jampel) terbayar tepat waktu. Serta ketersediaan obat-obatan kembali stabil,” tambahnya.
Dampaknya terlihat nyata pada kesehatan finansial rumah sakit. Politisi Gus Fawait mencontohkan lompatan pendapatan di RSD dr. Soebandi.
“Saat saya pertama menjabat, pendapatan RSD dr. Soebandi hanya sekitar Rp 15 miliar. Namun per Januari 2026, pendapatannya naik drastis menjadi Rp 31 miliar. Kondisi keuangan rumah sakit kini telah pulih total,” tandasnya.







