Frensia.id – Orang yang sedang jatuh cinta, ia akan selalu disibukkan dengan yang dicintainya. Tidak hanya itu mengerjakan sesuatu yang didasari cinta terhadapnya akan terasa menyenangkan kalaupun sulit akan terasa mudah.
Itulah sebabnya ada ungkapan ‘cintailah pekerjaanmu’, dengan mencintai pekerjaan akan terasa menyenangkan malakoni pekerjaan tersebut.
Hal itu juga jika seseorang sudah benar-benar mencintai Al-Qur’an. Ketika seseorang merasa rindu untuk membaca Al-Qur’an itu penanda ia sedang jatuh cinta pada al-Qur’an. Ia sudah menjadi Shohibul qu’ran yang selalu ingin berdekatan denganya.
Mencintai Alquran dan menyibukkan dirinya dengan Alquran. Khalid Abdul Karim al-Lahim dalam Mafatih Tadabbur al-Qur’an menyebutkan Ada beberapa tanda atau identitas yang menunjukkan seseorang mencintai Alquran, diantaranya:
Senang tatkala membaca Alquran, tahan duduk untuk jangka waktu yang lama membaca Al-Qur’an tanpa merasa bosan, yakin sepenuhnya dengan tuntunan dan arahan Alquran, mematuhi perintah dan larangan Alquran.
Senang saat membaca Al-Qur’an
Identitas pertama orang cinta al-Qur’an selalu membacanya. Orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut yang dicintainya.
Sering Kita mendengar man ahabba syaian aktsara min dzikrihi (barangsiapa yang mencintai sesuatu/seseorang maka dia akan banyak menyebutnya namanya).
Dalam konteks al-Qur’an, mencintainya berarti benyak membacanya. Apalagi di bulan ramadhan adalah momentum yang sangat tepat mengungkapkan cinta padanya.
Tidak bosan duduk berlama-lama dengan Al-Quran
Hidup itu penuh relativitas. Tatkala jika duduk dengan orang yang tidak kita sukai waktu seperempat jam terasa lama sekali. Namun sebaliknya, duduk dengan yang orang kita cintai jangankan seperempat jam, satu jam pun terasa sangat cepat. itulah kekuatan cinta.
Begitu juga dengan kecintaan kita pada Al-Qur’an, semakin kita mencintai Al-Qur’an semakin kuat dan ingin terus berlama-lama dengannya. Syekh Dr. Ahmad Isa al-Ma’sharawi, dosen Universitas al-azhar, kairo-Mesir. Menuturkan ungkapan menarik:
“Saya heran terhadap para ulama salaf, bagaimana mereka bisa menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dalam waktu yang panjang tanpa bosan sedikitpun. Namun, semenjak saya melihat banyak orang sibuk dengan handphone, keheranan saya pun hilang. Dan, saya tahu bahwa ketika hati mencintai sesuatu pasti ia disibukkan dengannya”
Meyakini sepenuhnya dan mematuhi atas semua seruannya
Mencintai al-Qur’an pada tahap ini adalah menyakini sepenuh hati bahwa apa yang tercaver didalamnya adalah firman Allah saw yang menjadi pedoman.
Jika ada ayat mengenai perintah, seruan, anjuran harus dilakukan sebaliknya larangan dari al-Qura’an harus dijauhi bahkan tidak diniatkan pun tidak boleh. Itu semua dilalukan karena dan didasari cinta.