FRENSIA.ID- Pemilihan Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember yang akan datang diprediksi berlangsung dengan dinamika yang sangat kompetitif. Sebagai salah satu perguruan tinggi Islam negeri terkemuka di wilayah Jawa Timur, transisi kepemimpinan di kampus ini selalu menjadi diskursus hangat.
Saat ini, setidaknya terdapat belasan akademisi berpangkat profesor yang dinilai memiliki peluang emas untuk maju. Mengamati fenomena pergantian pucuk pimpinan tersebut, lembaga riset Frensia Institute telah melakukan serangkaian analisa untuk memetakan potensi para kandidat.
Pemetaan ini didasarkan pada kesesuaian dengan prasyarat administratif calon rektor serta batas minimum usia figur yang diperkenankan oleh regulasi kementerian terkait.
Proses pendataan yang dilakukan oleh tim peneliti diawali dengan menyeleksi kelengkapan administratif dari para guru besar yang aktif bernaung di bawah bendera UIN KHAS Jember. Setelah tahapan inventarisasi awal, langkah krusial selanjutnya adalah melakukan asesmen kelayakan sesuai dengan prasyarat minimal pencalonan, sekaligus menimbang berbagai indikator akademik dan jejak rekam yang berpotensi memengaruhi seberapa besar peluang masing-masing figur.
“Kami secara teliti mengumpulkan nama-nama guru besar di UIN KHAS Jember. Lalu kami menjaring secara ketat sesuai dengan persyaratan minimum yang dimiliki oleh masing-masing tokoh pendidik tersebut,” ungkap Prasetyo, salah satu peneliti utama dari Frensia Institute,27/08.
Hasil dari penyaringan ini menunjukkan angka yang cukup menggembirakan bagi iklim demokrasi kampus. Tercatat ada banyak figur pendidik yang dipastikan dapat berpartisipasi dan berkompetisi menduduki kursi rektor.
“Ada 19 orang yang memiliki syarat penuh dan sah secara regulasi, jika mereka memang ingin berkompetisi,” tambahnya.
Lebih dari sekadar pemenuhan syarat secara birokratis, Frensia Institute juga menelisik figur seperti apa yang sesungguhnya paling didambakan oleh akar rumput di lingkungan perguruan tinggi tersebut. Untuk mendapatkan spektrum jawaban yang representatif, mereka melaksanakan survei lapangan dengan melibatkan berbagai elemen sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan yang dipilih secara acak.
Hasil riset tersebut mengerucut pada dua profil utama yang menjadi harapan terbesar para sivitas akademika.
“Banyak sivitas akademika menyatakan kampus butuh ahli manajemen dan mantan aktivis. Hampir 45 persen secara spesifik mempersyaratkan kemampuan manajemen. Kemudian sedikitnya 26 persen sangat mengharap figur mantan aktivis. Sisanya tersebar merata pada preferensi lain seperti tingginya kemampuan penelitian, riwayat prestasi, familiaritas publik, dan lain sebagainya hingga sentimen status alumni kampus,” tutur Prasetyo.
Merespons paparan riset Frensia Institute tersebut, pengamat pendidikan yang juga merupakan cerpenis asal Jember, Gita Pamuji, turut memberikan analisis tajamnya. Menurut pandangan Gita, kesimpulan survei yang menyoroti kebutuhan akan keahlian manajemen tingkat tinggi dan latar belakang aktivisme sangat relevan dengan realitas objektif yang dihadapi UIN KHAS Jember saat ini.
“Pertama, harus disadari bahwa UIN KHAS saat ini memiliki birokrasi yang kompleks. Unit-unit pendidikan dan lembaga pemberdayaan yang ada sangat genting untuk dipikirkan dan dikelola oleh seorang ahli manajemen. Semuanya saya pikir memiliki kompetensi,” tandasnya.
Selain urusan manajerial, Gita juga menyoroti tingginya urgensi akan hadirnya figur mantan aktivis. Bagi dirinya, kampus ini selama bertahun-tahun telah dikenal luas sebagai salah satu markas pergerakan mahasiswa terbesar.
“Aktivis kampus UIN KHAS ini bisa dikatakan terbesar se-Jember. Untuk merangkul dan mengoptimalkan peran vital mereka bagi kemajuan institusi, sangat perlu pemimpin yang memiliki pengalaman langsung di dunia aktivis,” ucapnya.
Kehadiran pemimpin yang mampu memadukan kapasitas manajerial dan jiwa pergerakan ini sangat diharapkan untuk merespons tantangan zaman.
Sebagai informasi, berikut adalah daftar lengkap 19 profesor yang masuk dalam penjaringan sebagai figur berpotensi untuk berkompetisi menjadi Rektor UIN KHAS Jember:
- Prof. Dr. Moch. Chotib, S.Ag., M.M.
- Prof. Dr. H. Abdul Muis Thabrani, M.M.
- Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag.
- Prof. Dr. H. Ahidul Asror, M.Ag.
- Prof. Dr. Sri Lumatus Sa’adah, S.Ag., M.H.I.
- Prof. Dr. H. Abdul Rokhim, S.Ag., M.E.I.
- Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si.
- Prof. Dr. H. Mashudi, M.Pd.
- Prof. Dr. Hj. ST. Rodliyah, M.Pd.
- Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag.
- Prof. Dr. Busriyanti, M.Ag.
- Prof. Dr. Moh Dahlan, M.Ag.
- Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, M.Fil.I.
- Prof. Dr. Hj. Nurul Widyawati Islami Rahayu, S.Sos., M.Si.
- Prof. Dr. H. Moch. Imam Machfudi, S.S., M.Pd., Ph.D.
- Prof. Dr. Khamdan Rifa’i. SE., M.Si.
- Prof. Dr. KH. Abdul Kholiq Syafa’at, M.A.
- Prof. Dr. H. Kasman, M.Fil.I.
- Prof. Dr. H. Safrudin Edi Wibowo, Lc., M.Ag.







