Frensia.id – Baru-baru ini publik diramaikan kembali dengan kemunculan Yahya Sinwar usai terbunuhnya pimpinan tertinggi Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh.
Yahya Sinwar sendiri sosok pejuang senior di Hamas yang telah masuk catatan orang paling dicari oleh militer Israel.
Ia merupakan anak lelaki yang lahir di Kamp pengungsi Khan Younis pada 1962, orang tuanya berasal dari Ashkelon, namun terusir pada Nakbah tahun 1948.
Sinwar telah tumbuh dan besar dalam suasana konflik sedari kecil, ia merasa sudah terbiasa dalam situasi kehidupan yang sulit dibawah penjajahan Zionis.
Perjalanan dan perjuangan politiknya dimuali sejak tahun 1980 an. Saat Hamas didirikan, ia telah menjadi Majd yang bertugas melawan para inteljen dan agen Israel, atau sering disebut dengan “Pemburu Mossad”.
Kala itu, Sinwar berhasil menjalankan tugasnya dengan membunuh sebagian tentara Israel serta para agennya. Namun setelahnya ia tertangkap dan dipenjara selama 22 tahun. Sejak itu pula semua aktivitas politiknya terhenti hingga pada tahun 2011 saat ia bebas.
Sinwar sendiri memiliki kepribadian yang cerdas. Dengan latarbelakang pendidikan sastranya, iamenguasai bahasa Ibrani, dan kerap kali menerjemah buku-buku berbahasa Ibrani ke Bahasa Arab.
Hingga saat ini, ia masih menjadi target utama para agen intelejen Israel. Sinwar pun dijuluki “mayat berjalan” karena menjadi target utama para Mossad.
Dalam beberapa pendapat tokoh politik Internasional, Sinwar dikenal sebagai sosok yang anti kompromi. Ia murni adalah orang lapangan dan militer, berbeda jauh dengan sosok alm. Ismail Haniyeh yang merupakan sosok politisi pejuang dan aktivis.
Sinwar juga dianggap sosok dalang dibalik serangan brutal Hamas pada 7 Oktober silam.
Pada awal bulan Agustus 2024, Sinwar dipilih sebagai pemimpin Biro Politik baru menggantikan alm Ismalil. Hal demikian banyak dinilai sebagai sikap penegasan dari Hamas, bahwa membunuh tokoh pejuang inti tidak membuat persoalan konflik selesai, justru memperburuk situasi. (*)