Frensia.id- Banjir yang terjadi secara tiba-tiba pada hari Kamis malam Jumat (12/02/26) menyisakan pekerjaan bersih-bersih lumpur yang sangat banyak bagi warga terdampak, salah satunya berlokasi di dusun Jogaran desa Gumelar kecamatan Balung.
Tidak hanya menyisakan lumpur yang dibawa banjir dan masuk ke dalam rumah-rumah, tetapi juga cerita tentang bagaimana kronologi air dari sungai meluap. Menurut cerita yang dtuturkan oleh H. Hudori, air datang sekitar pukul sebelas malam pada hari Kamis. Saat itu ia sudah terlelap tidur kemudian mendengar salah satu tetangganya, bernama Rosid memukul tiang listrik berkali-kali.
“Rosid kok memukul tiang listrik berkali-kali ada apa?” Tutur cerita H Hudori. Saat itu ia masih dalam kondisi mengantuk sehingga sejenak bangun dan lantas lanjut tidur.
Sampai akhirnya baru benar-benar bangun ketika tetangga yang masih mempunyai hubungan family menggedor-gedor pintu seraya berteriak “banjir, banjir.” Terang H Hudori.
Lebih lanjut, menurutnya, debit air banjir bergerak secara cepat merengsek masuk ke rumah dengan ketinggian kurang lebih 50 cm. Tampak jelas tinggi air masih kelihatan di dinding-dinding rumah, dengan bekas basah, sampai hari Minggu (15/02/26). Air banjir yang berasal dari sungai etan, sebagaimana sebutan dari warga setempat, bertahan hingga hari Sabtu baru kemudian berangsur surut secara perlahan.
H.Hudori sebagai salah satu warga dusun Jogaran yang berdomisili di dekat sungai etan, persisnya di belakang rumahnya. Maka berbeda cerita dengan warga yang lokasi rumahnya cukup jauh dari sungai.
Salah satunya adalah Ibu Umi Masruroh. Seperti yang beliau ceritakan saat ditemui di kediamannya, pertama kali mengetahui banjir berasal dari pengumuman yang disampaikan lewat corot masjid. Selain itu, warga yang lebih dulu terdampak juga mengirimkan sinyal pertanda lewat bunyi petasan.
“dari corong masjid disampaikan banjir…banjir…dari arah utara terdengar bunyi petasan keras sebagai simbol kalau ada banjir, tetapi sebagian warga kurang memahami kalau itu sinyal.” Ungkapnya.
Seperti diceritakan oleh ibu yang kesehariannya sebagai guru TK, air terus bergerak dalam waktu yang singkat sudah meninggi. Intensitas air mencapai maksimal sekitar jam setengah empat pagi.
Pada hari Jumat pagi hingga sore terjadi pemadaman listrik, setelah itu air surut secara berangsur-angsur.
Banjir yang terjadi di dusun Jogaran desa Gumelar ini tidak mengakibatkan kerugian materi yang signifikan, salah satunya ayam milik tetangga ibu Umi Masruroh meninggal didalam kurungan yang tenggelam terkena banjir.
Tampak pada hari Minggu, setelah air benar-benar surut masyarakat setempat dibuat lelah membersihkan lumpur halus yang dibawa oleh air banjir.







