Frensia.id- Sebagai seorang negarawan dan pemimpin umat, Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya teladan yang menjadi rujukan para pemimpin Muslim khususnya dan para pemimpin di dunia pada umumnya. Bagaimana logika berpikir sang baginda agung dalam mengambil kebijakan untuk memberikan maslahat bagi umat sangat perlu dikaji.
Pada aspek prinsipil yang mana didalamnya tidak bisa dilakukan tawar-,menawar, keteguhan idealisme nabi Muhammad menjadi panutan. Salah satunya adalah ketika beliau memberikan jawaban yang tegas kepada Paman, Abu Thalib untuk menghentikan dakwahnya.
Sebagaimana diceritakan oleh Syekh Shofiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyyahnya, para pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib, memintanya untuk berbicara kepada Nabi Muhammad agar menghentikan dakwah Islam yang telah dilakukan secara terang-terangan.
Kapasitas Abu Thalib pada saat itu sangat komplek, sehingga ia dianggap sebagai sosok yang pas untuk meloby. Di kalangan Quraisy, ia merupakan orang yang dituakan, seorang pemuka dari para pembesar dan statusnya adalah orang terhormat. Selain itu, ia merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW. Satu-satunya pelindung yang merawat sejak nabi kecil.
Merasakan desakan dari para tokoh Quraisy, akhirnya Abu Thalib merasa getar dan mengirimkan seorang utusan yang berkata:
“Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku, lalu mereka berkata begini dan begitu kepadaku. Maka hentikanlah demi diriku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebaniku sesuatu diluar kesanggupanku”
Mendengar apa yang diucapkan oleh Abu Thalib, Rasulullah mengira bahwa sang paman akan menelantarkan dan tidak lagi mendukungnya. Bukan malah kecil hati karena seolah tidak lagi mendapatkan perlindungan, Rasulullah dengan tegas memberikan tanggapan kepada Abu Thalib.
“Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya.”
Mendengar jawaban tersebut dari keponakannya, Abu Thalib mengucurkan air mata dan memanggil beliau seraya berkata, “Pergilah wahai anak saudaraku dan katakanlah apapun yang engkau sukai. Demi Allah aku tidak akan menyerahkan dirimu kepada siapa pun.”
Idealisme Nabi Muhammad SAW sangat penting sekali untuk diperhatikan dan diteladani pada era sekarang. Abu Thalib merupakan orang penting di dekat Rasulullah, tidak hanya sekedar seorang paman melainkan pengganti dari orang tua yang merawat dan menjaga sepeninggal kakeknya, Abdul Muthalib.
Sebagai orang yang benar-benar penting dan sangat berkontribusi, tahun kematian Abu Thalib diperingati secara khusus dalam sejarah hidup Rasulullah, dikenal dengan tahun duka cita. Pada tahun tersebut juga bersamaan dengan meninggalnya istri tercinta, Khadijah. Kehadiran sosok Abu Thalib dalam hidup Nabi Muhammad lebih bernilai daripada segala jenis kemewahan dan kekayaan duniawi. Meskipun demikian, ketika sudah berkenaan dengan masalah prinsipil, maka tidak satupun yang bisa menghentikan dakwah Beliau.







