Rupiah Kian Melemah, Ekonom UNEJ Sebut Harga Pangan dan Energi Domestik Berpotensi Naik

Friday, 22 May 2026 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Ciplis Gema Qoriah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (UNEJ) (Foto: Dok. Pribadi).

Dr. Ciplis Gema Qoriah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (UNEJ) (Foto: Dok. Pribadi).

Frensia.id – Kondisi nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) telah mengalami tren pelemahan hingga Rp 17.694 per dolar AS.

Nilai rupiah semakin melemah seiring dengan tingginya suku bunga The Fed dikarenakan ekonomi di Amerika Serikat masih menguat.

Selain itu, adanya permintaan valas domestik yang meningkat dan ketergantungan impor bahan baku dan energi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (UNEJ), Dr. Ciplis Gema Qoriah, mengatakan bahwa dengan lemahnya rupiah sehingga semakin menguatnya dolar secara terus menerus, maka harga pangan dan energi domestik berpotensi mengalami kenaikan.

“Ketika rupiah melemah, bahan baku impor dipastikan akan terdampak. Demikian halnya dengan suplai energi yang terbatas, maka kenaikan harga energi tidak bisa terhindari,” kata Ciplis, dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, (21/5/2026).

Menurut dia, jika bahan baku dan energi masih diperoleh dari impor, maka pelemahan rupiah akan terdampak pada peningkatan biaya produksi.

Baca Juga :  Tim Robotik Indonesia Rebutkan Tiket Robocon Internasional di KRAI 2026

Ciplis mencontohkan barang impor yang akan mengalami kenaikan, di antaranya impor pangan pada kedelai, gandum.

Selain itu, sparepart kendaraan bermotor seperti semikonduktor dan chip elektronik, bearing, komponen injeksi, ban, shockbreaker.

Menurut Ciplis, rupiah yang mengalami pelemahan juga akan berdampak pada pendapatan petani yang tidak naik secepat biaya produksi.

“Margin keuntungan akan tertekan jika biaya produksi, baik on-farm maupun off-farm terganggu. Biaya bibit, pupuk, benih, pestisida serta distribusi seringkali naik lebih cepat dibandingkan hasil panen petani,” tuturnya.

Dia menyampaikan bahwa petani sering kali tidak mendapatkan keuntungan secara perekonomian, bahkan justru mengalami kerugian.

Ciplis juga menyoroti ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, maka harga barang dari Indonesia akan lebih murah.

“Produk ekspor Indonesia jauh lebih murah dibandingkan dengan negara kompetitornya dan lebih kompetitif,” tuturnya.

Meskipun demikian, kata Ciplis, pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia, tetapi efeknya tidak selalu otomatis dan tidak selalu besar.

Baca Juga :  Peringati Hari Koperasi Ke-79, Dekopinda Jember Gelar Jalan Sehat hingga Gaet Puluhan UMKM

“Dampaknya sangat tergantung pada struktur industri dan bahan baku yang digunakan,” kata dia.

Lebih lanjut, Ciplis menjelaskan bahwa rupiah akan kembali normal, apabila tekanan utama penyebabnya sudah mulai berangsur reda dan resiliensi kebijakan domestik terus dilakukan.

“Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga BI Rate per Mei 2026 sebesar 5,25 persen, naik 50 bps dari suku bunga sebelumya yaitu 4, 75 persen,” ungkapnya.

Dia berharap kenaikan BI Rate sebesar 5,25 persen mampu meredam capital outflow.

“Investasi bisa tumbuh danberkembang. Rupiah pada intinya mengikuti arah pergerakan kombinasi faktor global dan domestik,” kata dia.

Menurut Ciplis pemerintah dapat merespons tren pelemahan rupiah dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, memperkuat cadangan devisa, meningkatkam ekspor, hilirisasi industri, memperkuat kebijakan devisa hasil ekspor, mengurangi ketergantungan impor pangan dan energi.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Emas hingga Daging Sapi Jadi Penyumbang Andil Inflasi Tahunan Jember pada Juli 2026
BPS Catat Inflasi Tahunan Jember pada Juli 2026 Capai 2,53 Persen
Peringati Hari Koperasi Ke-79, Dekopinda Jember Gelar Jalan Sehat hingga Gaet Puluhan UMKM
Dewan Komisioner OJK: Industri Keuangan adalah Industri Kepercayaan
Gawat! Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Tembus 18.000 Lebih
BRI Jember Salurkan KUR Rp 363,6 Miliar, Sektor Pertanian Mendominasi
Tren Tabungan Emas di BRImo Semakin Diminati saat Rupiah Melemah
Pakar Ekonomi UNEJ Soroti Penyebab Lemahnya Rupiah

Baca Lainnya

Wednesday, 5 August 2026 - 17:30 WIB

Emas hingga Daging Sapi Jadi Penyumbang Andil Inflasi Tahunan Jember pada Juli 2026

Wednesday, 5 August 2026 - 15:30 WIB

BPS Catat Inflasi Tahunan Jember pada Juli 2026 Capai 2,53 Persen

Sunday, 2 August 2026 - 17:33 WIB

Peringati Hari Koperasi Ke-79, Dekopinda Jember Gelar Jalan Sehat hingga Gaet Puluhan UMKM

Saturday, 27 June 2026 - 16:44 WIB

Dewan Komisioner OJK: Industri Keuangan adalah Industri Kepercayaan

Thursday, 4 June 2026 - 10:36 WIB

Gawat! Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Tembus 18.000 Lebih

TERBARU

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI, Teguh Setyabudi (Foto: Fadli/Frensia).

Politia

Dirjen Dukcapil Apresiasi Layanan Peta Cinta Pemkab Jember

Thursday, 6 Aug 2026 - 21:44 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading