Prosedur Mayoritarian

Tuesday, 24 March 2026 - 23:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Arah Demokrasi. Sumber: Pixabay

Arah Demokrasi. Sumber: Pixabay

Frensia.id- Berdasarkan teori seseorang memperoleh jabatan, maka ada tiga jalur kemungkinan yang dapat terukur. Pertama, reguler. Jabatan diberikan oleh mereka yang menjadi kader sejati, loyalitasnya sudah dari genetiknya. Kedua, unggulan. Jabatan diberikan atau diperoleh oleh mereka yag memiliki kompetensi khusus dan surplus value, semisal punyai ijazah S3. Ketiga, vokalis. Ada dua tipe, vokalis pengkritik penguasa dan pembela penguasa. Kedua-duanya sama berpeluang memperoleh jabatan dari penguasa.

Sedangkan Raline Shah, lewat jalur sebelah mana ia memperoleh jabatan sebagai Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Bidang Kemitraan Global dan Edukasi? Lewat jalur apapun itu, tetapi apabila dari teori diatas tidak ada satupun yang relevan berarti teorinya yang perlu diperbarui. Intinya Ibu Meutya Hafid sudah melakukan hal benar dengan mengangkat pemeran Milea dalam Film Dilan ITB 1997 tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari penampilan Raline saat menjelaskan dan memberikan edukasi atas kebijakan Kementerian tentang PP Tunas. Dimana kebijakan ini, sebagaimana juga disebut oleh akun Instagram Komdigi, dianggap orang akan membatasi krativitas dan inovasi anak di ruang digital.

Sebagai lembaga pemerintah dalam menjalankan tugasnya, bisa dianggap berhasil apabila kebijakan-kebijakannya dapat diterima oleh rasio publik atau setidak-tidaknya masyarakat tidak menggerutu dan menjadikannya bahan ghibah saat saling bertukar pikiran di kala senggang.

Oleh karena itu, sulitnya kiranya untuk memberikan pemahaman terhadap 204 juta lebih (berdasarkan DPT Pemilu 2024) penduduk Indonesia dari berbagai kalangan. Seperti diketahui masyarakat Indonesia sangat mejemuk, tidak hanya dari suku, bahasa dan budaya tetapi pikiran dan tingkatan pendidikannya. Lebih-lebih mengingat setiap kepala mempunyai hak yang sama rata kedudukannya di hadapan sistem demokrasi. Tidak ada bedanya antara yang awam hingga seorang profesor.

Baca Juga :  Ramadhan dan Revolusi Spiritual

Menurut hemat penulis, pemilihan Raline sebagai stafsus dinilai sudah benar adalah karena memenuhi kriteria. Tidak sekedar ia merupakan anak dari orang terpandang, bapaknya adalah CEO dari beberapa perusahaan di Indonesia atau ibunya sebagai pegiat YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat), atau karena ia lulusan Universitas Nasional Singapura dimana ia mendalami ilmu politik, sehingga dianggap pas dengan jabatan yang ia sandang sekarang.

Tetapi lebih tepatnya, kriteria yang menjadikan ia pantas mendapatkan jabatan tersebut tidak lain adalah karena ia cantik. Mengapa seperti itu? seperti yang dijelaskan oleh kreator One Piece Ichiiro Oda lewat karakter Boa hancock, bahwa dunia akan memaafkannya, karena cantik. Bahkan seandainya ia melakukan salah saja dunia mentolelir, apalagi tidak melakukan kesalahan. Sehingga kemampuan persuasinya dalam menjelaskan sebuah kebijakan yang jelas-jelas mempunyai peluang pro dan kontra akan lebih dapat diterima. Seandainya subtansi dari kebijakan tidak bisa diterima, maka senyum dan sorot mata sudah dapat menyihir seseorang untuk mencari alasan di dalam pikirannya sendiri agar menerima.

Sekalipun cantik bersifat relatif, akan tetapi relatifitasnya masih bergantung pada silent konsensus yang dibuat oleh realitas intersubjektif. Adapaun kecantikan Raline yang membawa gen Tionghoa, Melayu dan Pakistan dapat diterima oleh kesepakatan diamnya mayoritas penduduk Indonesia.

Logikanya, jika cantik mempunyai nilai lebih dalam sebuah jabatan publik, dimana orang cantik akan lebih diterima pada semua aspeknya (salah dan benarnya adalah tidak begitu dipedulikan) oleh mayoritas maka sesuai dengan prinsip demokrasi, prosedur mayoritarian sebagai pemegang kendali kebenaran tertinggi sudah dikuasai dan dikendalikan. Tidak hanya kecantikan Raline sedang diuji oleh publik, tetapi dengan adanya Raline yang menjadi komunikator Komdigi juga diuji. Jika peran Raline sebagai seorang stafsus didukung oleh kecantikannya dan kebijakan lembaganya didukung oleh rakyat secara mayor, entah karena cantiknya Raline atau rasional menurut publik, maka secara demokratis kebijakan tersebut dianggap benar dan Raline adalah sosok perempuan yang cantik secara demokratis pula.

Baca Juga :  Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga "Lenyap" Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal

Hal ini juga menjadi bukti bagi seluruh perempuan di negeri ini untuk berlomba-lomba mempercantik diri. Perawatan yang dilakukan seberapapun mahalnya akan terlunasi ketika nilai kecantikan dari seorang perempuan mempunyai pintu khusus untuk bisa di dengar di ruang-ruang publik. Tidak sekedar igauan belaka melainkan ada kandungan intan permata dan kebenaran sekaligus.

Sampai pandangan yang menganggap bahwa nilai kecantikan dapat memoles kebenaran yang dapat diakui oleh publik, maka dapat diartikan bahwa produk-produk skincare dengan beragam jenis dan mereknya adalah alat yang dapat memfasilitasi seseorang bisa diterima atau setidak-tidaknya separuh dari keinginan individu sudah direngkuh. Karena mayoritas menganggapnya benar. Apabila belum diterima bisa jadi kurang cantik dan bisa melakukan perawatan lagi sampai titik dimana mendapatkan pengakuan.

Selain itu, jika kecantikan mampu mempengaruhi pandangan publik, maka sangat penting kiranya ambil sebuah jalan strategi untuk mengubah persepsi publik yang menolak sebuah kebijakan dengan mengirimkan komunikator-komunikator yang mempunyai paras menawan, sebagai upaya untuk memenangkan hari mayoritas rakyat. Seperti halnya pro-kontra MBG.

Untuk yang terakhir kalinya, terkait pembicaraan mengenai nilai kecantikan dalam demokrasi, teringat pesan dari Bambang Pacul yang mengutip dari kakeknya, agar jangan melawan orang baik dan orang cantik. Lebih-lebih kalau orang yang cantik itu baik. Lebih-lebih lagi apabila orang termaksud adalah stafsus Komdigi.     

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Ramadhan dan Revolusi Spiritual
Konflik Amerika-Iran di Mata Masyarakat Awam
Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga “Lenyap” Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal
Ketika Usaha Mengkhianati Hasil
Mencari Saruman dan Sauron dalam Konflik PBNU
Empati Natural dan Empati Artificial
Hari Guru, Untuk Siapa?
Kiai, Amplop dan Keikhlasan Tak Terhitung

Baca Lainnya

Tuesday, 24 March 2026 - 23:33 WIB

Prosedur Mayoritarian

Friday, 27 February 2026 - 13:59 WIB

Ramadhan dan Revolusi Spiritual

Wednesday, 25 February 2026 - 00:24 WIB

Konflik Amerika-Iran di Mata Masyarakat Awam

Saturday, 14 February 2026 - 00:29 WIB

Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga “Lenyap” Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal

Wednesday, 7 January 2026 - 22:18 WIB

Ketika Usaha Mengkhianati Hasil

TERBARU

Arah Demokrasi. Sumber: Pixabay

Kolomiah

Prosedur Mayoritarian

Tuesday, 24 Mar 2026 - 23:33 WIB