Ambulu, Frensia.id – Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember menggelar Festival Pegon di Pantai Watu Ulo dan Papuma (Pasir Putih Malikan), pada Sabtu (28/3/2026).
Festival Pegon merupakan budaya tahunan yang diselenggarakan setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya di Lebaran ke tujuh atau Hari Raya Ketupat.
Pegon adalah moda transportasi roda dua yang digerakkan menggunakan dua ekor sapi.
Rute perjalanan Festival Pegon, dimulai dari Kantor Desa Sumberejo hingga Pantai Watu Ulo.
Saat sampai di Pantai Watu Ulo, para peserta Festival Pegon dan warga desa, menggelar tasyakuran dengan duduk melingkar di bawah pohon cemara tepi pantai. Setelah itu dilanjut dengan kesenian reog.
Ketua Paguyuban Pelestari Pegon Jember Selatan, Syamsul Arifin, mengatakan bahwa pegon ini dikendarai oleh para bajingan dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Ambulu.
“Sudah diagendakan dari dulu bahwa ini (Festival Pegon) adalah event tahunan. Jadi teman-teman para bajingan atau pengendali sapi itu mintanya memang Hari Raya Ketupat,” kata Arifin, saat ditemui di lokasi acara Festival Pegon.
Menurut Arifin, di tahun ini peserta yang mengikuti Festival Pegon mengalami penurunan ketimbang tahun sebelumnya.
Kata dia, di tahun 2025 jumlah peserta mencapai 56 Pegon.
“Pada hari ini kita ada sekitar 30 Pegon. Kemarin memang yang sudah daftar itu 36. Ternyata menjelang hari H nya, ada kendala di sapinya, yang melahirkan, yang sakit gitu,” kata dia.
Dengan dilestarikannya Festival Pegon, Kepala Desa Sumberejo, Riono Hadi, mengungkapkan rasa senang walaupun digelar secara sederhana.
“Tentunya kami sebagai pemangku wilayah, sangat senang dan bangga sekali dengan masyarakat saya yang masih antusias, untuk melestarikan budaya tahunan arak-arakan pegon di tahun ini,” kata Riono, saat ditemui di lokasi Festival Pegon.
Riono menceritakan, bahwa Festival Pegon ini sudah ada sejak moda transportasi di desa belum begitu banyak.
“Dulu waktu orang tua saya itu masih jalan kaki. Kemudian memanfaatkan alat transportasi, yang pada saat itu pegon masih dibuat angkutan untuk mengangkut hasil panen,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, jika budaya ini, dulu memang telah menjadi agenda keluarga setelah hari raya di Desa Sumberejo.
“Kemudian orang tua saya, dulu memanfaatkan untuk dijadikan budaya secara keluarga menuju ke Pantai Watu Ulo, membawa ketupat dan makan-makan bersama bersama keluarga, di hari ketujuh Lebaran Ketupat itu. Sehingga membudaya sampai saat ini,” kata dia.





