Frensia.id- Kiprah dan sepak terjang dari Vicky Prasetyo, yang populer disebut sang gladiator, di dunia persilatan politik Indonesia penting dan menarik sekali untuk diperhatikan untuk dijadikan bahan refleksi. Lebih-lebih bagi aktivis yang memang bermaksud dan berobsesi memasuki jagat percaturan untuk memenduduki kursi dengan ruangan ber-AC. Adapun Vicky penting untuk diperhatikan dan menjadi teladan bukan lagi karena ia merupakan pengamat, melainkan pemain inti yang langsung terlibat dalam kontestasi.
Ia pernah mencalonkan diri sebagai wali kota, DPR RI dari Partai Perindo tahun 2023, Bupati Pemalang tahun 2024 bahkan hingga kepala Desa. Hanya saja karirnya sebagai politisi tidak secemerlang karir sebagai selebritis. Itu artinya ia tetap saja mampu memangkan hati publik tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Dari kegagalan Vicky dalam panggung politik disinilah teladan yang bisa diambil oleh para aktivis. Lebih-lebih aktivis yang enggan bunuh diri kelas dan merasa menjadi manusia abadi (immortal man) dalam gelanggang kekuasaan.
Ambil satu sample saja dari karakter Vicky saat memasuki catur politik, yakni pada waktu dirinya mencalonkan diri sebagai Kades Karang Asih, Cikarang. Entah pada tahun berapa ia mencalonkan diri sebagai kades, yang pasti pada waktu itu penulis lagu kontroversi hati ini sempat menyampaikan visi dan misinya dengan menggunakan Bahasa Inggris dihadapan penduduk desa yang hendak memilihnya.
Istimewa sekali, seorang calon kades berbicara menggunakan bahasa internasional. Dari seluruh daftar pemilih tetap (DPT) desa Karang Asih, pasti ada yang jago berbahasa Inggris. Akan tetapi antara yang jago dan yang tidak akan sama-sama bertanya-tanya, apa hubungannya bahasa Inggris dan Kepada Desa. Sederhananya seorang pejabat public entah di kancah paling bawah hingga nasional dituntut untuk memaksimalkan penggunaan anggaran dalam upaya membangun berbagai sektor bidang, mulai infrastruktur, ekonomi, pendidikan Kesehatan dsb. Yang mana prioritas kebijakan didasarkan pada konteks kebutuhan.
Beda lagi dengan seorang presiden atau menteri, sekalipun bisa menyewa penerjemah, ada baiknya bisa menggunakan bahasanya Raja Alfred Agung itu. Ketika mau mengundang investor asing atau pidato di podium PBB maka menggunakan bahasa Inggris akan memberikan nilai lebih. Lah, sampai disini bisa jadi atau sangat mungkin, Vicky yang juga penulis lagu Kudeta Cinta ini hendak mengundang investor asing ke desa Karang Asih. Sehingga menggunakan bahasa Inggris saat menyampaikan visi-misinya juga dalam rangka meyakinkan publik di desanya bahwa dirinya mampu dan bisa untuk mendatangkan investor.
Bahkan setingkat bupati saja yang berhasil ngamen di Kementerian untuk menunjang akses lebih cepat dalam proses Pembangunan di daerahnya sudah sangat Istimewa, apalagi tingkat kades yang mampu membangun garis koneksi di tingkatan internasioanal. Sangat…sangat…sudah pokoknya, hingga sulit untuk mendeskripsikan seorang kades yang seperti itu. Jika sudah demikan maka sudah pasti jelas intensitas hilirisasi bergerak pesat. Angka pengangguran menurun drastis. Hingga berdampak ke desa sebelah.
Tetapi itu semua tidak terjadi dan laki-laki yang berhasil mempopulerkan bahasa Vickynisasi ini harus rela kalah dalam percaturan politik di desa Karang Asih. Dari sinilah kiprah seorang Vicky perlu dipelajari. Pertama ia tidak patah dan menyerah bahakan ia terus melenting, mulai dari calon Wali Kota Bekasi, Caleg dari partai Perindo hingga calon bupati Pemalang. Mana ada calon kades yang kalah tetapi malah bisa melejitkan karir politiknya di tingkatan lebih tinggi. Biasanya dan kebanyakan, itu pun kalau hoki, setelah sukses jadi kades kemudian nyaleg di tingkatan Kabupaten atau dari legislator tingkat kabupaten beralih ke provinsi atau dari DPRD provinsi kemudian sukses jadi bupati dsb. Ini berbeda.
Terdapat pernyataan menarik yang diucapkan oleh Vicky Prasetyo yang dimuat dalam Liputan6.com pada tahun 2017. Lepas dari berbagai kontroversi Vicky dan kasus yang pernah melilitnya, ungkapan berikut sangat menarik.
“Dulu usia saya juga masih berapa tahun. Kalau orang pernah gagal dan enggak mau coba lagi, itu namanya frustrasi. Tuhan paling enggak suka orang frustrasi. Kalau saya sih selama belum dicabut nyawa dan tutup mata, saya akan terus mencoba meraih mimpi saya dengan terhormat. Saya dari kecil ingin jadi pemimpin atau birokrat,” demikian ungkapnya.
Oleh karena itu, dari Vicky Prasetyo yang dikenal sebagai sang gladiator ini mengajarkan untuk terus legowo ketika kalah dan di satu sisi tetap antusias tanpa patah sedikitpun. Sejak era Yunani dimana Demokrasi pertama kali dipraktekkan sebagai sistem pemerintahan, yang namanya kompetisi menjadi keniscayan begitu pula kalah dan menang nyaris tidak ada literaratur ilmu politik yang mengajarkan untuk bersikap legowo menarima takdir kalah. Baru ada dari sedikit sekali politisi, semisal Vicky. Lebih-lebih dalam kontestasi Pilkades biasanya intensitas panas yang keterlaluan mendidih lebih besar daripada kontestasi politik lainnya.
Meminjam terminologi dari Vicky Prasetyo, barangkali sepak terjang politik dan asmara dari sang Gladiator merupakan ‘konsonan langit yang akan menjadi sebuah takdir…’ adapun perjalanannya adalah suara dari ‘kontroversi hati aku lebih menyudutkan pada konspirasi kemakmuran.”
Kita yang hidup se-era dengan Vicky, barangkali bila bisa bereinkarnasi seribu kali akan tetap tertawa dengan materi komedi yang ia miliki secara otentik.






