FRENSIA.ID- Di tengah pusaran kontroversi yang mengiringinya, film dokumenter “Pesta Babi” justru mendapat panggung istimewa dengan diputar dan ditonton bersama di Gereja Katedral Keuskupan Labuan Bajo. Kehadiran langsung Dandhy Dwi Laksono dalam acara nonton bareng tersebut menjadi momen penting untuk meluruskan berbagai asumsi liar di tengah publik,12/05.
Dandhy secara tegas menepis anggapan miring yang beredar dan menekankan bahwa karya visual ini sama sekali tidak memiliki tendensi terhadap agama tertentu.
Sambutan hangat dari umat Katolik di Labuan Bajo memberikan kesan mendalam bagi Dandhy, terutama mengingat rekam jejak ketakutan yang sempat muncul di daerah lain.
Ia menyadari bahwa elemen visual seperti gambar salib dan kata “babi” pada poster film sempat memicu kekhawatiran di beberapa kalangan. Terkait hal ini, Dandhy menceritakan pengalamannya.
“Saya pikir nobar ‘Pesta Babi’ pertama di luar Jawa di lingkungan gereja. Ini bentuk penerimaan yang luar biasa dari kawan-kawan Katolik terhadap film ini. Setelah beberapa kali kami dengar di Jogja misalnya, teman-teman Katolik ketakutan dan tidak berani memutar film ini. Tapi saya senang karena di Labuan Bajo kami merasa diterima, bahkan di katedral,” tandasnya.
Lebih lanjut, Dandhy memaparkan bahwa esensi dari film ini sama sekali tidak bermaksud menyerang keyakinan, melainkan berupaya menguji batas maksimal dari toleransi dan kebinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme penonton di wilayah seperti Aceh dan Minang yang juga menggelar pemutaran film tersebut tanpa hambatan.
“…tidak ada hubungannya dengan agama. Film ini justru menguji kebinekaan kita di tingkat paling maksimal. Teman-teman di Aceh juga nonton, teman-teman di Minang juga nonton, jadi sama sekali tidak ada isu agama. Gambar salib dan kata babi di poster film ini jangan bikin takut siapapun, terutama teman-teman Katolik gitu ya,” tegasnya.
Menariknya, pemutaran di Flores ini memicu refleksi mendalam yang sangat relevan dengan realitas sosial yang tengah dihadapi masyarakat setempat. Dandhy merasa bangga karena para penonton mampu mengaitkan narasi dalam film dengan isu-isu krusial di Flores, mulai dari ancaman perampasan tanah, proyek pusat yang dipaksakan dari atas ke bawah (top-down) tanpa konsultasi dengan warga, hingga marginalisasi yang dialami oleh masyarakat adat.
Menurut Dandhy, benang merah dari semua persoalan tersebut bermuara pada satu hal fundamental, yaitu panggilan untuk membangun solidaritas. Ia memaparkan bahwa dukungan terhadap persoalan ini bisa dibangun atas tiga alasan krusial.
“Pertama, sebagai seorang manusia dulu, saya pikir hampir tidak ada alasan untuk kita tidak bersolidaritas, terutama teman-teman di Flores, sebagai manusia. Yang kedua, sebagai sesama what so called orang Indonesia, walaupun sebagian teman-teman Papua tidak merasa begitu-begitu amat dengan Indonesia. Tapi sebagai sesama orang Indonesia, mungkin ya, solidaritas menjadi penting,” jelasnya.
Selain alasan kemanusiaan dan kebangsaan, ia juga menyentuh aspek kedekatan spiritual sebagai alasan ketiga, mengingat masyarakat di wilayah selatan Papua dan Flores banyak yang menganut agama Katolik. Namun, Dandhy menutup penjelasannya dengan sebuah pesan universal yang menukik tajam pada hakikat keberadaan kita.
“Karena di selatan Papua juga daerah Katolik, di Flores juga teman-teman Katolik, jadi ada kedekatan. Tapi yang paling utama tadi saya sebut adalah menjadi manusia saja dulu. Tidak perlu ngomongin soal menjadi Indonesia atau menjadi Katolik. Saya pikir itu akan lebih universal,” pungkasnya.






