FRENSIA.ID – Puluhan kandidat Muslim memenangi kursi di berbagai tingkatan pemerintahan Amerika Serikat pada pemilu sela Selasa (3/11) waktu setempat. Kemenangan tersebar dari Senat sampai kursi kehakiman, dan untuk pertama kalinya seorang Muslim menembus majelis tinggi.
Dilansir Muslim Network TV, sedikitnya 36 kandidat Muslim menang atau memimpin perolehan suara berdasarkan hasil sementara yang tersedia hingga Rabu. Delapan di antaranya melaju ke Kongres, terdiri atas satu kursi Senat dan tujuh kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Sebanyak 26 lainnya menang atau unggul dalam pemilihan legislatif negara bagian, serta dua orang merebut jabatan hakim dan pejabat county.
Jumlah itu merupakan sebagian dari calon yang jauh lebih banyak. Media yang sama mencatat pada Oktober lalu terdapat sedikitnya 51 warga Muslim Amerika yang namanya tercantum di surat suara pemilu sela, tersebar di sekitar 23 negara bagian, mulai dari Kongres, jabatan tingkat negara bagian, legislatif, county, hingga satu kursi kehakiman.
Nama yang paling disorot adalah Abdul El-Sayed. Sebagaimana diberitakan Religion News Service, dokter dan mantan pejabat kesehatan publik itu mengalahkan politikus Republik Mike Rogers di Michigan, dan menjadi Muslim pertama yang duduk di Senat sepanjang sejarah Amerika. Di hadapan pendukungnya di Detroit, ia berseru, “Michigan, we did it!”
Di DPR, empat petahana mempertahankan kursinya dengan selisih lebar. Dikutip dari jaringan USA Today, André Carson, Ilhan Omar, Rashida Tlaib, dan Lateefah Simon sama-sama terpilih kembali dengan perolehan di atas 75 persen suara di distrik masing-masing.
Tlaib menuntaskan periode kelimanya di Distrik Kedua Belas Michigan. The New Arab mencatat politikus keturunan Palestina itu meraih 72,7 persen suara, mengalahkan calon Republik James D. Hooper yang hanya memperoleh 24,7 persen. Tlaib dan Omar adalah dua perempuan Muslim pertama yang terpilih ke Kongres pada 2018.
Omar menang di Distrik Kelima Minnesota untuk periode kelima, tiga pekan setelah rumahnya di Washington digeledah agen federal dalam penyelidikan yang menurut laporan Wall Street Journal diarahkan untuk mencabut kewarganegaraannya.
Carson, yang mewakili Distrik Ketujuh Indiana sejak 2008, kembali terpilih sebagai Muslim kedua yang pernah duduk di Kongres. Adapun Simon mempertahankan Distrik Kedua Belas California, kursi yang ia menangi pada 2024 sebagai perempuan Muslim pertama yang mewakili negara bagian itu.
Satu nama lagi melengkapi daftar petahana. Aisha Wahab, yang masuk Kongres lewat pemilu sela Agustus lalu, memenangi masa jabatan penuh di Distrik Keempat Belas California. Politikus keturunan pengungsi Afghanistan itu sebelumnya anggota Senat Negara Bagian California dan Dewan Kota Hayward.
Dua wajah baru ikut menembus Capitol Hill. The New Arab melaporkan salah satunya adalah Adam Hamawy, dokter bedah keturunan Mesir yang pernah menjadi relawan merawat korban luka di Gaza, dan kini memenangi kursi DPR dari New Jersey. Satu lagi Darializa Avila Chevalier, pendatang baru yang menang di Distrik Ketiga Belas New York.
Capaian ini terjadi di tengah kampanye yang diwarnai retorika anti-Islam. NBC News memberitakan massa pendukung sempat meneriakkan kata “deport” saat Presiden Donald Trump menyerang Omar dan El-Sayed dalam kampanye di Youngstown, Ohio, pada 12 Oktober.
Sebagai pembanding, Direktori Pejabat Terpilih Muslim 2026 yang dirilis Council on American-Islamic Relations pada Agustus lalu mencatat 255 pejabat Muslim terpilih di 26 negara bagian, dengan 110 di antaranya perempuan. Saat direktori itu terbit, belum seorang pun Muslim pernah duduk di Senat.
Angka-angka hasil pemilu sela ini masih bersifat sementara. Sejumlah daerah pemilihan belum merampungkan penghitungan, sehingga jumlah akhir kandidat Muslim yang terpilih berpeluang bertambah.
Angka delapan itu juga disebut Ilhan Omar dalam ucapan selamatnya kepada El-Sayed. Lewat unggahan di platform X yang dikutip akun Instagram Al Jazeera pada Kamis (5/11), Omar menulis bahwa koleganya itu telah mengubah “insyaallah” menjadi “alhamdulillah”. Ia mengaku diliputi rasa syukur karena kini akan ada delapan Muslim yang berkhidmat di Kongres.
Omar lalu mengingatkan apa yang selama ini dikatakan kepada komunitasnya: bahwa mereka tidak akan sanggup bersuara lantang, tidak akan mampu menantang keadaan, dan tidak akan pernah sampai sejauh ini. “Tetapi kami melakukannya. Alhamdulillah,” pungkasnya.






