FRENSIA.ID – Tiga pekan setelah agen federal menggeledah rumahnya di Washington, Ilhan Omar kembali terpilih sebagai anggota Kongres Amerika Serikat.
Ia memenangi Distrik Kelima Minnesota untuk periode kelima, dan menjadikan malam kemenangannya sebagai panggung perlawanan.
Dikutip dari CBS News, Ilhan mengalahkan calon Republik John Nagel pada pemilu sela Selasa (3/11) waktu setempat. Lembaga penghitung Poliwave mencatat ia meraup 76,5 persen suara atau lebih dari 263 ribu pemilih di distrik yang meliputi Kota Minneapolis dan sekitarnya.
Kemenangan itu datang saat Ilhan berada dalam penyelidikan pemerintahan Trump. Sebagaimana dimuat Star Tribune, agen federal menggeledah kediamannya di Washington pada Oktober lalu, menyita telepon genggam, laptop, serta paspornya, dan memanggil sejumlah anggota keluarganya termasuk saudara perempuannya.
Fox 9 melaporkan penggeledahan 12 Oktober itu disebut Kementerian Keamanan Dalam Negeri sebagai bagian dari penyelidikan pidana terkait dugaan kecurangan. Sampai hari pemungutan suara, Ilhan belum dikenai dakwaan apa pun dan tidak ada bukti pelanggaran yang dipublikasikan.
Al Jazeera, mengutip laporan Wall Street Journal, menyebut penyelidikan itu diarahkan untuk mencabut kewarganegaraan Omar dan pada akhirnya mendeportasinya.
Perkaranya bertumpu pada dugaan keterangan usia yang keliru saat ia memperoleh kewarganegaraan pada 2000. Omar menyatakan lahir pada 1982 dan membantah seluruh tuduhan.
Pada malam yang sama dengan penggeledahan itu, NBC News memberitakan Trump menyerang Omar dalam kampanye di Youngstown, Ohio. Massa pendukung sempat meneriakkan kata “deport” berkali-kali. Dalam pidato yang sama, Trump beralih menyerang Abdul El-Sayed, calon senator Demokrat dari Michigan.
Hal-hal itulah yang dirujuk Ilhan di hadapan pendukungnya. Dalam potongan pidato yang disiarkan akun Instagram Al Jazeera, ia membuka dengan menyinggung keputusan lawan-lawannya beberapa pekan sebelumnya untuk mengincar dirinya.
“They thought that they were going to find someone who was going to cower,” ujarnya. Mereka mengira akan menemukan sosok yang menciut, dan sebuah komunitas yang memilih hidup dalam ketakutan.
Menurut Ilhan, perhitungan itu meleset. Lawan-lawannya mengira dengan menyerang dan membungkamnya, komunitasnya tidak akan datang ke bilik suara. “In Minnesota, we have shown people that we can vote and we can vote big,” katanya.
Angka pemilih memang mendukung klaim tersebut. Star Tribune mencatat Minnesota memimpin tingkat partisipasi nasional pada hari pemungutan suara, dengan rekor baru untuk pemilu sela di negara bagian itu berupa lebih dari 2,8 juta surat suara.
Ilhan lalu memperluas sasaran bicaranya ke luar Minnesota. Ia menyapa setiap komunitas lain yang menurutnya ikut diserang, dan membalas dengan penolakan terhadap para calon yang didukung Trump. Tiga negara bagian ia sebut berurutan: Ohio, Maine, dan Texas.
Ia membingkai hasil malam itu sebagai pesan kolektif kepada pemerintahan yang berkuasa. Ilhan menyebut langsung penghuni Gedung Putih beserta lingkarannya, lalu menegaskan komunitasnya menolak dijadikan bidak. “We are not going to be a pawn in their game,” ucapnya.
Ilhan pertama kali terpilih ke Kongres pada 2018. Fox 9 mencatat ia menjadi pengungsi asal Afrika pertama yang duduk di lembaga itu sekaligus perempuan kulit berwarna pertama yang mewakili Minnesota. Pada pemilu pendahuluan Agustus lalu, ia menang atas empat penantang dengan lebih dari 80 persen suara.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis Partai Demokrat-Buruh-Tani Minnesota sehari setelahnya, Ilhan menyebut masa jabatan barunya sebagai kehormatan dan menyatakan akan terus melawan kebijakan pemerintahan yang sedang berkuasa.
Pidatonya sendiri ia tutup dengan dua kalimat pendek. “So thank you, Minnesota. Thank you,” pungkasnya.






