Frensia.Id- Kenaikan harga bahan baku yang ugal-ugalan membuat para perajin kerupuk di Kabupaten Jember, megap-megap. Lonjakan harga tepung tapioka yang menembus hingga tiga kali lipat memaksa banyak pelaku usaha kecil memilih gulung tikar.
Salah satu yang masih bertahan di tengah gempuran biaya produksi yang membengkak adalah Muhammad Ma’ruf (45), perajin kerupuk asal Lingkungan Krajan, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember.
Pantauan di lokasi, dampak mahalnya bahan baku terlihat jelas di tempat penjemuran milik Ma’ruf. Sejumlah tampah bambu tampak kosong karena kapasitas produksi merosot tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Ma’ruf mengungkapkan, tren kenaikan harga tepung tapioka ini sudah dirasakannya sejak tiga bulan terakhir. Sebagai bahan baku utama, lonjakan ini praktis membuat para produsen kelimpungan.
Jika dulunya dia bisa menebus tepung tapioka dengan harga sekitar Rp 600.000 per kuintal, kini harganya melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp 1,6 juta per kuintal.
“Naiknya harga tepung tapioka setiap hari, meski sedikit-sedikit kalau setiap hari terasa lama-lama. Saya yang mau belanja lagi lihat harganya sudah tidak sama dengan sebelumnya,” katanya, pada Sabtu (7/11/2026).
Selanjutnya kata dia , di saat biaya operasional melompat jauh, dia tidak berani menaikkan harga jual kerupuk ke pasaran karena takut ditinggal pelanggan.
“Pusing saya, karena biaya operasional melonjak, sedangkan harga kerupuk tidak kami naikkan karena kami khawatir konsumen kabur,” ujarnya.
Demi menyambung napas usahanya, Ma’ruf terpaksa memangkas kapasitas produksinya secara drastis. Jika normalnya ia mampu memproduksi 1 hingga 2 kuintal kerupuk dalam sekali jalan, kini ia hanya sanggup memproduksi sekitar 50 kilogram saja.
Kendati demikian, bapak satu anak ini merasa dirinya masih lebih beruntung dibanding rekan sesama perajin di kampung sebelah yang sudah terlebih dahulu menyerah.
“Saya masih terbilang beruntung bisa produksi, sedangkan teman-teman di daerah kampung sebelah banyak yang sudah gulung tikar,” paparnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Ma’ruf dari para pedagang, meroketnya harga tepung tapioka ini dipicu oleh sulitnya pasokan bahan baku singkong, sehingga stok di pasaran semakin menipis.
Menghadapi situasi yang kian mencekik ini, Ma’ruf hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan melakukan intervensi pasar. Ia ingin pasokan tepung tapioka kembali normal dan harganya ramah di kantong perajin kecil.
“Harapannya pemerintah segera turun tangan. Semoga pasokan tepung tapioka kembali normal dan harganya terjangkau, jadi kami bisa lanjut usaha tanpa terbebani biaya produksi yang tinggi,” pungkasnya.






