Frensia.id- Muktamar NU secara reduksionis cenderung hanya difahami pada sisi pemilihan dan penetapan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU saja, padahal acara yang merupakan permusyawaratan tertinggi di dalam organisasi yang berfaham Ahlussunnah Wal Jama’ah ini mempunyai rangkaian yang sangat panjang. Mulai dari Pra-Muktamar, sidang komisi, sidang pleno hingga yang paling krusial, yakni pemilihan pimpinan.
Pandangan yang reduktif tersebut akhirnya melahirkan sebuah psikologi publik untuk lebih cenderung ingin mengetahui siapa saja kandidat yang akan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum.
Lepas daripada sosok-sosok yang namanya telah populer menjelang muktamar NU pada tahun 2026 ini, Ketua Tanfidziyah PCNU Kencong, KH. Zainil Ghulam memberikan pandangannya mengenai kualifikasi yang mesti dimiliki oleh seorang pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama’.
“kalau menurut saya seorang ketua umum PBNU dalam konteks sekarang zaman ini, beliau tidak hanya alim, tidak hanya faqih, tidak hanya mempunyai intelektualitas yang tinggi tetapi beliau juga harus bisa mengorganisir PBNU dalam artian menjalankan program-program yang telah diamanatkan oleh muktamar nanti,” ungkapnya.
Lebih lanjut menurutnya, ketua PBNU tidak butuh visi misi seperti pencalonan oraganisasi yang lain. karena sebetulnya ketua umum terpilih saat muktamar nanti harus menjalankan program-program yang telah dirumuskan oleh para muktamirin pada muktamar tahun 2026 ini.
Tidak hanya sampai disitu, Gus Ghulam, sebagaimana lebih familiar di kalangan warga NU cabang Kencong ini berpendapat bahwa seorang ketua umum PBNU juga harus mempunyai kemampuan untuk menggerakkan roda organisasi.
“Seorang ketua umum PBNU harus mempunyai kemampuan untuk menggerakkan, disamping dia alim, punya kemampuan mengorganisir dan juga memberikan motivasi dan menggerakkan roda organisasi ini dengan baik” pungkasnya.
Selain skill khusus yang dimiliki seorang ketua umum PBNU sebagaimana tersebut, Gus Ghulam juga berpendapat agar seorang ketua harus bisa meluangkan waktunya untuk all out di organisasi nahdhatul ulama.
Demikian pandangan ketua Tanfidziyah PCNU Kencong mengenai kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang Ketua Umum PBNU dengan mempertimbangkan konteks dan realita sosial dan budaya dewasa ini






