Frensia.id – Morula IVF Surabaya mengadakan kunjungan ke Kabupaten Jember untuk memberikan edukasi layanan bayi tabung yang bertempat di Hotel Aston Jember, pada Sabtu (8/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, digelar seminar bertajuk “Menjemput Harapan, Menyambut Buah Hati” dengan menghadirkan narasumber Prof Budi Santoso, Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia dan Prof Arief Boediono, Direktur Scientific Morula IVF Indonesia, serta dr. Achmad Rheza, Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia.
Prof Budi Santoso, menjelaskan bahwa pasangan suami istri yang belum mendapatkan momongan berkisar antara 10 sampai 15 persen di usia reproduksi.
Meskipun, keterlambatan masa reproduksi masih bisa diupayakan dengan mengonsumsi obat-obatan induksi ovulasi, memilih jadwal senggama, bahkan inseminasi.
Namun, kata dia, apabila dari upaya tersebut tidak membuahkan hasil, maka bayi tabung bisa jadi pilihan terakhir, agar segera mempunyai keturunan dalam keluarga.
“Kalau semua usaha-usaha itu masih belum berhasil, maka bayi tabung merupakan suatu final effort, usaha akhir untuk mendapatkan momongan,” tuturnya.
Morula IVF Surabaya telah bekerja sama dengan Rumah Sakit IHC Perkebunan Jember Klinik, dalam memberikan edukasi pada masyarakat terkait layanan bayi tabung.
Dengan hadirnya Morula IVF ke Jember, sehingga masyarakat saat konsultasi tidak dalam keadaan terlambat reproduksi karena faktor usia.
“Karena masalah infertilitas ini sangat related sekali dengan usia,” ujarnya.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) itu, berkata semakin tinggi usia seorang wanita, maka cadangan sel telurnya (ovarian reserve) akan semakin turun.
“Kualitas oositnya itu semakin turun. Kalau hamil, angka abortusnya meningkat dan angka kelainan kongenitalnya meningkat,” ucapnya.
Menurutnya, batas maksimal usia yang baik untuk perempuan dalam reproduksi yaitu 35 tahun ke bawah.
“(Umur) 35 tahun itu adalah golden periode di bawahnya. Kalau di atasnya (umur) ini biasanya ovarian reservenya turun, kualitasnya turun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof Arief Boediono, menyampaikan bahwa kini telah ada teknologi yang membantu kualitas sel telur atau sperma yang kurang bagus.
“Kualitas sperma, kalau normal itu sekitar 15 juta per mili, ternyata banyak yang di bawah itu. Maka dengan teknologi ini memungkinkan, bahkan di bawah 5 juta pun. Kalau awalnya kita hanya mempertemukan biasa saja gitu, kita perlu sekitar 100 juta sperma, untuk satu sel telur,” kata dia.
Prof Arief berkata untuk seorang suami kini tidak perlu khawatir apabila mengalami kualitas sperma yang kurang baik.
“Kualitas sel telur, sperma yang kurang bagus itu dengan teknologi yang sekarang kita lakukan itu, sangat memungkinkan di kultur di luar tubuh. Kita dapatkan embrio yang cukup bagus atau bahkan sebelum ditransfer itu kita bisa lakukan biopsi,” ujarnya.
Selain itu, kata Prof Arief, teknologi yang digunakan oleh Morula IVF Surabaya sudah sangat modern dan teruji.
“Tidak perlu barangkali kalau kita bandingkan dengan negara tetangga, itu juga sudah tidak kalah, bahkan mungkin di beberapa hal lebih dari itu begitu,” ujarnya.
Dia mengimbau pada pasangan suami istri, apabila sejak 1 tahun menikah setelah bersetubuh masih tidak ada tanda kehamilan, maka bisa segera konsultasi ke Morula IVF. (*)






