Frensia.id- Setelah viral dalam kanal Youtube Bang Denny Sumargo kemarin. Neng In’am muncul kembali di Podcast Ashanty, 10/05/2024. Kali ini ia juga minta maaf dan menyatakan tak semua Gus atau putra kiai seperti suaminya.
Pada kesempatan tersebut, ia menceritakan tekanan psikis yang diterima pasca dirinya konflik dengan sang suami. Mulai dari tekanan dari sang suami, mertua hingga tuduhan sebagai perempuan tak bermoral, hal demikian diakui benar membuatnya trauma.
Bahkan ia menceritakan sempat opname di salah satu rumah sakit di Jember selama lima hari. Hanya saja tidak sembuh, sebab menurutnya dokter hanya mengobati lambungnya, bukan psikisnya.
Pasca opname, ia memeriksakan diri ke psikiater.
“Akhirnya, saya itu ke psikiater dan akhirnya saya divonis anxiety“, cerita Neng In’am pada Ashanty.
Setelah vonis tersebut, ia merasa harus mengambil langkah penyembuhan. Untuk itu, ia sering pergi sendiri.
“Kan saya sering keluar saat itu. Karena untuk refreshing gitu kan. Itu yang dibuat senjata untuk ini saya“, tuturnya.
Pada proses penyembuhan tersebut. Ia mulai digunjing bahkan dikatakan perempuan yang tak baik secara agama, dianggap sering hang out bahkan sampai dituduh gila.
“Sampek ada bahasa katanya saya sakit jiwa. Baru keluar dari rumah sakit jiwa. Padahal saya kenak Anxiety juga karena dia“, ucapnya sambil menangis.
Ia pun tambah tertekan. Karena sudah tak kuat lagi pada isu yang berupa gunjingan dirinya bahkan juga pada keluarganya, akhirnya, dia memutuskan untuk speak up.
Neng In’am tampak menyadari bahwa keputusannya untuk speak up, tidak diharapkan oleh beberapa pihak. Apalagi, ada pihak yang menghubungkan niatnya sebab mencemarkan nama baik pesantren secara umum.
“Ada banyak dari keluarga pesantren, (yang mengatakan) jangan dong, ini berdampak, atau apapun“, ungkapnya.
Sebab itu juga dalam podcastnya dengan Ashanty, ia juga memberanikan diri meminta maaf.
“Saya minta maaf kepada seluruh pesantren dimanapun. Bahkan di Indonesia mungkin. Saya minta maaf, ini saya tidak menceritakan sebuah kejelekan tentang pesantren. Tapi saya menceritkan tentang oknum atau pelaku penyimpangan tersebut“, ujarnya.
Menurutnya, tidak semua keluarga pesantren atau gus seperti oknum tersebut. Bahkan ia menyatakan bahwa lebih banyak para gus dan keluarga pesantren yang baik dan tak menyimpang. (‘)