Frensia.id- Yang mengherankan dari Toko Madura yang saat ini viral adalah mereka mampu buka 24 Jam. Padahal karyawannya sedikit. Bagaimana mereka tidak jenuh dan mencegah agar tidak stress?
Salah satu alasan usulan mengontrol atau bahkan menutup warung Madura adalah jam buka kerjanya yang tak pernah tutup. Bukan hanya menjadi saingan minimarket. Tapi kesehatan psikis karyawannya perlu dipertimbangkan.
Beban kerja yang tinggi, bisa saja membuat karyawan tertekan dan strees.
Lalu bagaimana hal buruk ini bisa ditanggulangi? Atau tidak terjadi?
Menakjubkan! salah satu penelitian mengungkap bahwa ada proses dengan istilah Koping Religius. Hal demikian yang menjadi kunci para karyawannya tidak pernah stress menjaga toko dengan waktu yang lama.
Salah satu riset yang mengungkap hal demikian adalah karya Abdul Khair. Ia adalah akademisi lulusan magister pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Judul risetnya adalah Koping Religius Dalam Mengatasi Stress Kerja Penjaga Toko Kelontong Madura 24 Jam. Tulisan telah dipublish pada Repository UIN Suka tahun 2024.
Studinya menjelaskan dampak stres kerja yang dialami oleh penjaga toko kelontong Madura 24 jam, terutama di daerah Pamulang.
Menurutnya toko kelontong Madura terkenal dengan jam operasionalnya yang tidak pernah tutup, karyawan harus bekerja keras dengan waktu istirahat yang sangat terbatas.
Berdasarkan fakta tersebut, Khair berupaya menyelidiki strategi koping religius yang digunakan oleh para penjaga toko Madura.
Temuannya, menunjukkan bahwa setiap penjaga toko memiliki pengalaman stres yang unik. Ada tekanan untuk menikah hingga tanggung jawab ganda bahkan juga teridentifikasi adanya tekanan dari lingkungan keluarga.
Dalam mengatasi stres ini, mereka mengandalkan berbagai strategi koping religius. Beberapa contoh konkretnya, pengembangkan pemikiran positif tentang takdir, penguatan rutinitas doa, mencari dukungan spiritual, dan aktif terlibat dalam kegiatan keagamaan.
Demikianlah, hasil temuannya. Hal demikian diharapkan tidak hanya dapat menambah pemahaman saja, tetapi juga sebagai dasar untuk memberi perhatian lebih besar terhadap kesejahteraan psikologis para karyawan.
Wabil khusus, para penjaga toko kelontong Madura. Jika psikiz mereka sehat, pasti akan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat juga secara berkelanjutan.