Frensia.id – Salah satu anasir puasa yang sunnah dan dianjurkan adalah sahur. Bahkan Rasulullah sendiri menganjurkan untuk mengakhirkannya.
Sebagai ‘pintu awal’ menjalani puasa, keberadaan sahur sangat penting agar kuat menjalani puasa, itu sebabnya Rasul menganjurkan mengakhirkannya.
Lebih dari itu, tidak hanya sekedar mengikuti sunnah, namun bersahur adalah piranti menebar kasih sayang, memperat kerukunan dan menjaga persatuan.
Itulah kegiatan rutin yang digagas dan dilakukan ibu Sinta Nuriya wahid. Bahkan ibu negera ke 4 dan istri Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut melakukan kegiatan sahur bersama ini sudah sejak 20 tahun lalu.
Tahun ini sahur bersama ibu Sinta salah satunya digelar di Jember tepatnya di UIN KHAS Jember, Selasa, 26/03/2024. Dalam acara sahur bersama ini Ibu sinta menekankan kesadaran kemanusiaan dan persatuan.
Bagi ibu Sinta, sahur tidak hanya sebatas ritual ramadhan namun piranti untuk menyayangi sesama manusia dan merangkul persatuan. Dalam kegiatan sahur bersama, ia biasa lakukan dengan tukang becak, para pengamen, kuli bangunan, mbok-mbok bakul dan sebagainya. Bahkan ia rela sahur bersama mereka di dibawah kolong jembatan.
Kegiatan sahur bersama ini adalah aksi nyata membumikan kesadaran kemanusiaan dan menjadi orang baik. Ini gagasan luar biasa dan patut di contoh khususnya perguruan tinggi yang selalu disematkan dengan kemanusiaan.
Tentu tidak pada tataran diskusi, riset, prosiding dari aspek ontologi, epistemologi, aksiologi dan sebagainya yang ‘gagah’ di dunia ide namun kering penerapannya.
Karena untuk menjadi orang baik, manusia yang sadar dengan kemanusiaannya tidak perlu diskusi yang lama, be one ! jadilah orang baik, jadilah manusia yang sadar dengan kemanusiaannya.
Semangat semacam ini sudah sejak lama didengungkan oleh stoikisme yang mengajarkan pentingnya empati terhadap orang lain dan kemanusiaan.
Marcus Aurelius — filsuf stoik– dalam kebijaksanaannya mengungkapkan waste no more time arguing about what a good man should be. Be One. Jangan buang-buang waktu lagi debat tentang orang baik itu gimana, jadilah orang.
Hari ini semangat ini sudah dicontohkan ibu Sinta, bukan berarti dialektika kebaikan dan kemanusiaan tidak penting. Tentu penting.
Ibu sinta tentu — sebagai istri Gus Dur– banyak literasi bacaan dan mengilhami hal itu, namun yang ia tekankan nilai kebaikan dan kemanusiaan yang membumi seperti dicontohkan mendiang Gus Dur suaminya. Bagi ibu Sinta puasa mengajarkan itu semua bagi manusia, tidak hanya sebatas nahan makan dan minum.
Ia juga menyampaikan bulan puasa mengajarkan tentang akhlak dan budi pekerti yang luhur seperti kesabaran, kejujuran, keadilan, saling tolong-menolong dan sebagainya.
Tidak sekedar puasa formalistik belaka namun puasa revolusioner yang mengantarkan pada ketaqwaan yang sempurna.
Alhasil, Gus Dur dan ibu sinta sudah memberikan contoh nyata. Kini sebagai pencintanya harus meneladani kesadaran kemanusiaan itu.
Tidak kalah penting kampus juga menjadi garda terdepan dalam hal ini. Harus lebih harmoni dan dekat dengan kuli bangunan, tukang becak, orang miskin dalan kelas menengah lainnya.