Untuk Melawan Femisida, Johan Galtung Rekomendasikan Trilogi Perdamaian

Monday, 23 September 2024 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Untuk Melawan Femisida, Johan Galtung Rekomendasikan Trilogi Perdamaian (Sumber: Mashur Imam/Frensia)

Gambar Untuk Melawan Femisida, Johan Galtung Rekomendasikan Trilogi Perdamaian (Sumber: Mashur Imam/Frensia)

Frensia.id- Untuk melawan Femisida, ada satu pakar yang cukup dikenal dikalangan feminis. Namanya Johan Galtung.

Ia menemukan konsep Trilogi kekerasan yang menjadi jalur terjadinya diskriminasi pada kaum perempuan. Gagasan demikian kemudian direkomendasikannya sebagai trilogi perdamaian.

Penjelasan yang secara rinci membahas hal ini sebenarnya telah banyak diterbitkannya dalam bentuk jurnal. Salah satunya yang terbit pada 1990 pada Journal of Peace Research dengan judul “Cultural Violence”.

Galtung menjelaskan bahwa dalam studi tentang kekerasan dan perdamaian, terdapat konsep yang sangat penting namun sering terabaikan: segitiga kekerasan yang mencakup kekerasan langsung, struktural, dan budaya. Ketiga elemen ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling mempengaruhi dan memperkuat satu sama lain.

Ketika kekerasan struktural—misalnya ketidakadilan sosial atau ekonomi—sudah dilembagakan dalam suatu masyarakat, dan budaya kekerasan telah diinternalisasi oleh individu-individu, maka kekerasan langsung seperti konflik fisik atau perang menjadi lebih mungkin terjadi. Kekerasan ini seringkali menjadi berulang dan ritualistik, misalnya dalam bentuk dendam antar kelompok, sehingga menciptakan siklus kekerasan yang sulit diputus.

Dalam fenomena ini, kekerasan langsung tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya yang mendukungnya. Budaya kekerasan seringkali tercermin dalam norma-norma, nilai, dan kebiasaan yang menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar atau bahkan terpuji dalam menyelesaikan konflik. Hal ini diperkuat oleh struktur sosial yang tidak adil, di mana ketimpangan dan diskriminasi memungkinkan kekerasan menjadi alat kontrol bagi pihak-pihak yang berkuasa.

Baca Juga :  Oknum Guru SD di Jelbuk Jember Telanjangi Murid Gegara Hilang Uang, Dispendik Tarik Pelaku dari Sekolah

Namun, para peneliti perdamaian menawarkan solusi berbasis pada konsep segitiga perdamaian, yang merupakan kebalikan dari segitiga kekerasan. Dalam segitiga ini, perdamaian budaya—di mana norma-norma masyarakat mendorong kerja sama, harmoni, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia—menciptakan dasar bagi perdamaian struktural.

Perdamaian struktural mencakup hubungan yang adil dan seimbang antar kelompok sosial, memastikan bahwa tidak ada diskriminasi atau penindasan sistemik. Dari sinilah, perdamaian langsung bisa diwujudkan melalui tindakan nyata seperti kerja sama, keramahan, dan kasih sayang antar individu dan kelompok.

Para pakar menekankan bahwa untuk mencapai perdamaian sejati, ketiga sudut dari segitiga perdamaian harus dikerjakan secara bersamaan. Mengubah hanya satu aspek, misalnya dengan menciptakan struktur sosial yang lebih adil, tidak otomatis mengubah budaya kekerasan yang telah terpatri dalam masyarakat.

Sebaliknya, perubahan budaya juga harus didorong, misalnya melalui pendidikan perdamaian yang menekankan nilai-nilai dialog, empati, dan non-kekerasan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah memasukkan elemen budaya ke dalam studi perdamaian terlalu memperluas cakupan bidang ini. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa hal ini justru perlu dilakukan. Mereka menekankan bahwa perdamaian tidaklah lebih sederhana dari ilmu kesehatan atau ilmu-ilmu lainnya yang memiliki cakupan luas, seperti biologi, fisika, atau matematika. Jika bidang-bidang ilmu tersebut terus berkembang dengan pendekatan interdisipliner, mengapa studi perdamaian harus dibatasi?

Baca Juga :  Diteliti! Kelompok Perempuan Rentan Diabetnya Meningkat Saat Ramadhan

Studi perdamaian seharusnya melibatkan disiplin-disiplin baru seperti humaniora, filsafat, teologi, dan sejarah ide. Dengan memasukkan berbagai perspektif ini, studi perdamaian bisa lebih komprehensif dan mampu menggali akar kekerasan di tingkat yang lebih dalam.

Misalnya, konsep ‘kekerasan budaya’—di mana budaya tertentu mendukung atau memaafkan tindakan kekerasan—harus diteliti dengan pendekatan yang mendalam seperti halnya ‘kekerasan struktural’ yang menjadi fokus kajian ilmu sosial selama ini.

Dalam padangannya, di masa depan, studi perdamaian mungkin bisa berkembang menjadi suatu ilmu baru yang lebih holistik, yang disebut sebagai ‘kulturologi’—ilmu tentang budaya manusia secara menyeluruh. Ilmu ini bisa mencakup berbagai disiplin seperti antropologi, filsafat, dan teologi, yang saat ini masih dipisahkan dalam dunia akademis.

Dengan pendekatan baru ini, para peneliti perdamaian dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam memahami dan mengatasi kekerasan dalam berbagai bentuknya, baik di tingkat langsung, struktural, maupun budaya.

Dalam menghadapi tantangan kekerasan yang semakin kompleks di dunia modern, penting bagi masyarakat global untuk tidak hanya memfokuskan upaya pada penyelesaian konflik fisik semata. Upaya perdamaian harus mencakup perubahan struktural yang lebih adil serta transformasi budaya yang menolak kekerasan. Hanya dengan pendekatan menyeluruh dan interdisipliner inilah, perdamaian yang berkelanjutan dapat tercapai.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Perpustakaan UIN KHAS Jember Kembali Pertahankan Akreditasi A
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad Menerima Audiensi dari LPSK
Axel Honeth, Sosiolog Jerman yang Mengeksplorasi Ide-Ide Jurgen Habermas
Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember
4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali
Mahasiswa Cendekia BAZNAS UNIKHAMS Jember Gelar Aksi Sosial: Dari Penguatan UMKM Hingga Edukasi Anak Yatim
Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Gagasan Pendidikan Islam Berkarakter Ulil Albab dan Ulin Nuha
UIN KHAS Jember Luncurkan Program Unggulan Selama Bulan Ramadan 2026

Baca Lainnya

Monday, 30 March 2026 - 17:44 WIB

Perpustakaan UIN KHAS Jember Kembali Pertahankan Akreditasi A

Tuesday, 24 March 2026 - 21:35 WIB

Axel Honeth, Sosiolog Jerman yang Mengeksplorasi Ide-Ide Jurgen Habermas

Thursday, 19 March 2026 - 23:38 WIB

Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember

Thursday, 12 March 2026 - 12:14 WIB

4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

Saturday, 7 March 2026 - 20:00 WIB

Mahasiswa Cendekia BAZNAS UNIKHAMS Jember Gelar Aksi Sosial: Dari Penguatan UMKM Hingga Edukasi Anak Yatim

TERBARU

Salah satu petani di Kecamatan Jenggawah, yang sedang menjemur padinya. (Foto: Fadli/Frensia).

Economia

Memasuki Musim Panen, Harga Gabah di Jember Stabil

Monday, 30 Mar 2026 - 21:02 WIB

Tampak depan Gedung Perpustakaan UIN KHAS Jember (Foto: Pinterest).

Educatia

Perpustakaan UIN KHAS Jember Kembali Pertahankan Akreditasi A

Monday, 30 Mar 2026 - 17:44 WIB