FRENSIA.ID– Lagu Nadin Amizah yang berjudul “Rayuan Perempuan Gila”, ternyata cukup menarik perhatian beberapa peneliti. Diantaranya, diteliti sejumlah peneliti dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Syifa Suci Ramadhina, Tika Riani, Dodi Firmansyah, Dase Erwin Juansah dan Mulya Tiara Fauziah.
Penelitian mereka telah terbit dalam DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 6/01. Dalam kajian tersebut, tim peneliti membedah lirik lagu ini melalui kacamata semantik dengan menggunakan pendekatan teori Roland Barthes.
Para peneliti berupaya membongkar makna pada tingkat pertama (denotasi) dan tingkat kedua (konotasi) yang tersembunyi di dalamnya.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari analisis data yang dikumpulkan, lirik “Rayuan Perempuan Gila” ternyata didominasi oleh makna tersirat atau konotatif. Peneliti menemukan 67 makna konotatif, berbanding jauh dengan makna denotatif yang hanya berjumlah 22 temuan.
Hal ini membuktikan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Nadin Amizah lebih banyak bermain pada ranah simbolik, emosi, dan representasi psikologis ketimbang pemaknaan literal.
Secara denotatif (makna lugas), lagu ini memang menampilkan sosok perempuan yang memandang dirinya “gila”, “hantu berkepala”, dan memiliki jiwa yang penuh gangguan.
Secara harfiah, liriknya menggambarkan seseorang yang sulit dicintai dan sering ditinggalkan.
Namun, di balik kata-kata tersebut, kajian ini mengungkap kedalaman makna konotatifnya. Lirik ini merefleksikan trauma emosional, ketakutan mendalam akan penolakan, serta rendahnya penerimaan diri akibat luka masa lalu.
Lebih jauh lagi, para peneliti menegaskan bahwa karya ini tidak sekadar medium ekspresi patah hati, melainkan sebuah kritik tajam terhadap konstruksi budaya masyarakat.
Label “perempuan gila” yang disematkan menyoroti stigma sosial yang sering kali mengaitkan ekspresi emosional perempuan dengan ketidakstabilan mental. Sosok “aku” dalam lirik tersebut menginternalisasi pelabelan itu bukan karena ia benar-benar hilang akal, melainkan karena ia merasa lingkungan mempersepsikan rasa cinta dan perilakunya sebagai sesuatu yang buruk.
Meski dipenuhi pergulatan batin, penelitian ini juga menemukan sisi terang dari lagu tersebut. Frasa seperti “diam-diam berusaha” dan “akan mereda seperti semestinya” menjadi ekspresi optimisme dan upaya penyembuhan diri menuju kestabilan emosi.
Pada akhirnya, temuan riset ini mengukuhkan bahwa “Rayuan Perempuan Gila” adalah sebuah teks budaya yang kompleks. Karya ini secara lantang menyuarakan kritik terhadap dinamika penerimaan diri, kesehatan mental, dan tekanan sosial yang membelenggu perempuan di era modern.






